[18+]
Sejak kematian ayahnya, hidup Im Nayeon tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Seluruh waktunya habis untuk bekerja, membayar tagihan rumah sakit, dan memastikan ibu serta adik semata wayangnya tetap dapat melanjutkan hidup dengan layak.
H...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
───────── ❋ ─────────
"Siapa dia?"
Suara itu terdengar begitu pelan.
Begitu pelan hingga Jungkook hampir mengira dirinya salah dengar.
Ia mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang selama ini selalu berhasil membuatnya pulang—mata yang kini justru terasa begitu asing.
"A-apa?"
Nayeon tersenyum.
Namun senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.
Ada sesuatu yang telah padam di sana. Sesuatu yang bahkan tidak mampu dijelaskan oleh ribuan kata maaf.
"Wanita itu."
Jungkook terdiam.
Nayeon tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun, seolah ia tengah menunggu pria itu mengingkari sesuatu yang keduanya sama-sama tahu merupakan sebuah kebenaran.
"Wanita..."
"...yang membuatmu datang kepadaku."
Kalimat itu meluncur begitu pelan.
Tidak terdengar seperti tuduhan.
Tidak pula seperti amarah.
Justru itulah yang membuat dada Jungkook mendadak terasa sesak.
Hening mengambil alih ruangan. Begitu sunyi hingga suara napas mereka berdua terdengar jauh lebih bising daripada biasanya.
Tatapan Jungkook perlahan jatuh ke lantai.
Dan pada saat itulah...
Nayeon mengerti.
Ia tidak membutuhkan jawaban lagi.
Keheningan pria itu telah menjawab seluruh pertanyaan yang selama ini diam-diam ia simpan seorang diri.
Sudut bibirnya kembali terangkat.
Tipis.
Rapuh.
Nyaris membuat hati siapa pun yang melihatnya ikut runtuh.
"Jadi..." Ia menganggukkan kepalanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Jungkook. "...memang ada."
"Im Nayeon..."
Suara Jungkook terdengar begitu lirih.
Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, ia benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana.