Ide cerita dari Ersa_01
Tapi berhubung Ersa nggak kasi aku list nama buat karakter di cerita ini, aku kasi nama secara acak😁😁😁
*****
Aku mendongakkan wajahku saat sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Aku mendengus lelah. Dia lagi dia lagi.
"Buat lo." Ucapnya sambil menyodorkan sebotol kecil Pocari sweat dingin. Mencoba mengabaikan sosok aneh di depanku, aku kembali menekuri barisan kata demi kata yang tertulis dalam buku setebal 2cm yang menjabarkan sejarah indonesia dari jaman ke jaman.
Lagi-lagi cowok aneh itu menempelkan minuman dingin itu ke pipiku dengan sedikit tekanan yang aku yakin akan meninggalkan jejak basah di pipiku.
Aku menatapnya tajam, tanda aku mulai merasa terganggu dengan tingkahnya. "Ini buat lo. Gue gak mau lo kekurangan ion karna terlalu serius belajar." Jelasnya tanpa ku minta.
Aku memutar dua bola mataku dan mengambil Pocari dari tangannya dengan malas, semata-mata agar dia cepat pergi dari hadapanku.
"Thanks. Lo boleh pergi." Bukannya marah dengan sikapku yang terkesan tak tau diri. Cowok itu malah tersenyum lebar seakan habis menang undian dan berlalu pergi setelah mengacak rambutku.
Aku mengumpat pelan dan kembali merapikan rambutku dengan jari tangan.
"Lo kenapa sih Da jutek banget sama Leon?" Tanya Rima, sahabatku yang sejak tadi duduk di sampingku dan menyaksikan kelakuanku.
"Lo udah tau jawabannya Rim."
"Yayaya lo selalu bilang dia bukan type lo. Tapi gue gak percaya ama kata-kata lo itu. Leon itu gantengnya pake banget Rim. Dan gak cuma ganteng, Leon itu pintar dan pintarnya juga gak nanggung-nanggung, dia juara umum Da, juara umum. Udah gitu Bokapnya itu tajir banget bisnisnya di mana mana dan pemilik yayasan sekolah kita ini. Dan kesimpulannya Leon is the most wanted guy in this school even in all the schools in this city. Leon itu paket komplit banget dan dia ngejar-ngejar lo Wida."
Aku menutup bukuku dan menatap Rima malas, "i don't care!"
Aku berdiri dan berjalan meninggalkan Rima. Tapi sepertinya sahabatku yang bawel itu tak akan begitu saja melepaskanku. Rima mengejarku dan mensejajari langkahku masih dengan celotehan gak pentingnya itu tentang Leon.
"Da, kurang greget apa sih Leon itu sama lo? Selama ini Leon udah perhatian banget sama lo. Anterin lo makanan saat lo ga sempet ke kantin, ngasi lo minuman kayak tadi, itu udah sering banget Leon lakuin dan itu sweet banget Da. Bahkan satu sekolah juga tau kalo Leon itu cowok paling cuek dan dingin yang hanya tertarik sama lo. Ngejar-ngejar lo Da. Dia gak sedikitpun ngerespon sama cewek-cewek yang terang-terangan ngasi perhatian ke Leon. Kayak yang pandangannya itu hanya tertuju buat lo Da. Padahal kan yang lebih cakep dari lo banyak Da."
Aku mendesah lelah dan berhenti berjalan di ikuti Rima.
"Rim, lo itu sahabat gue. Seharusnya lo tau donk gue itu orangnya gimana? Gue, elo, anak-anak yang sekolah di sini ataupun yang bersekolah diluar sana, bahkan juga Leon, kita itu masih remaja masih sekolah. Dan menurut gue selayaknya anak sekolah itu kewajibannya adalah belajar. Bukan ngurusin hal gak penting kayak semacem masalah percintaan gini, gak guna tau gak. Dari pada gue mikirin hal-hal gak penting itu, mendingan gue fokus belajar agar cita-cita gue bisa kesampaian. Masa depan kita masih panjang banget Rim, kecuali jika Tuhan berkehendak lain. Tapi selagi gue masih di beri kesempatan hidup, gue bakalan berusaha yang terbaik agar cita-cita gue bisa terwujud dan menurut gue saat ini menjalin asmara hanya akan membuang waktu dan menghambat gue untuk meraih cita-cita."
KAMU SEDANG MEMBACA
AMBITION
Teen FictionWida hanya remaja kelas 3 SMA yang bercita-cita ingin menjadi Dokter. wida hanya ingin masa sekolahnya dia gunakan untuk belajar belajar dan belajar. Tapi ketenangannya harus terganggu oleh sosok pangeran sekolah yang dingin yang selalu berusaha men...
