Bia : Ebud
Kia : Ida
Arsila : Sinta
Nabila : AC
Ziya : Lulu
___________
Senin.
Hari keramat bagi sebagian besar siswa, termasuk juga lima siswi yang sekarang sedang berlarian dari area parkiran sekolah ke arah lapangan tempat upacara bendera berlangsung. Bisa juga mereka berjalan santai ke arah lapangan jika saja di area parkiran tidak seseram ini, karena area parkiran telah tersebar guru BK. Guru yang sangat sangat dihindari oleh seluruh siswa.
Kelima siswa itu sudah menjadi langganan masuk area sekolah di detik detik penutupan gerbang. Yang biasanya gerbang ditutup tepat jam 7, maka kalau hari Senin gerbang akan ditutup jam 7 kurang 10 menit dengan alasan untuk persiapan Upacara bendera. Dan parahnya mereka berlima sampai didepan gerbang sekolah jam tujuh tepat, yang artinya mereka telat sepuluh menit.
Untungnya, satpam yang biasa menjadi penjaga gerbang sekolah yang galaknya naudzubillah melebihi malaikat Malik itu sedang cuti. Dan karena kebaikan dari seorang satpam pengganti di sekolahnya, mereka berhasil melewati gerbang tanpa berurusan dengan guru BK.
Namun naasnya, saat sampai di area parkiran, banyak mata memantau kehadiran mereka dengan tatapan seakan akan mereka itu seorang tahanan yang berhasil kabur dari penjara. Mata mereka terbuka lebar dan sangat tajam.
"Lari, lari" teriak guru BK yang sangat tampan, muda dan menggoda itu namun sayangnya telah tersegel rapat.
"Iya bapak ganteng, ini lagi ngambil jas kebanggaan sekolah bapakku" Nabila berkata sambil senyum cekikikan ke arah guru tampan itu.
"Ayok cepat, malah nyantai. Lari lari" guru BK yang terkenal dengan muka tembok ya ikut meneriaki mereka berlima. Bukan muka tembok karena mukanya yang sangat datar atau kaku, tapi muka tembok gara gara guru itu persis seperti tembok putih berjalan. Muka penuh dempul. Heran dengan guru BK ini, selalu memarahi murid yang memakai dempul tapi malah dirinya yang memakai dempul overdosis. Untungnya mereka berlima bukan penganut 'Wajib dempulan'.
"Iya bu iya, ini lagi lari bu" kata Kia kesal.
"Eh, ada tembok bu" Bia cekikikan ketika berjalan di samping guru BK tersebut.
"Lari yang benar, kalau tidak ibu suruh kalian bersihin toilet sekolah" guru BK tadi mengancam tanpa merasa tersinggung sedikitpun dengan ucapan Bia tadi.
"Iya buuu, MAAP. Ini lari" Ziya berteriak menginterupsi kawannya dan mereka langsung berlari meninggalkan area parkiran sekolah.
"Oi, jas gue mana?" tanya Kia.
"Nih jas lo, terus jas gue mana?" tanya Arsila setelah memberikan jas milik Kia dari tasnya. Tapi jas miliknya malah entah berada dimana.
"Gue juga nggak bawa jas kale" Bia menjawab dengan santainya.
"Aduuh, topi gue mana" Nabila merasa kesal saat dirinya tidak menemukan topi miliknya di tas.
"Santai lah, lo nggak bawa topi juga nggak bakal mati" Bia menimpali masih dengan gaya santainya. Berasa kayak di pantai aja, padahal keadaan sedang gawat darurat.
Mereka pun melanjutkan lari nya ke area lapangan. Jarak yang sangat jauh antara parkiran dengan area lapangan. Dan mereka harus berbaik hati menghabiskan energi mereka untuk berlari menuju lapangan. Mereka langsung melemparkan tasnya ke sembarang kelas. Padahal kelas mereka bukan itu. Kelas mereka berada diujung utara lantai dua, sedangkan parkirannya berada diujung selatan.
Setelah sampai di lapangan mereka langsung memasuki barisan tempat teman teman satu kelasnya berbaris. Barisan paling aman tentram dan damai. Di barisan paling belakang. Mereka langsung mengenali barisan teman temannya. Karena dari seluruh barisan yang ada, hanya barisan di kelasnya yang amat sangat kontras. Hanya barisan nomer satu dan dua yang lengkap semua atributya. Sedangkan barisan ketiga kebelakang, sangat ketara sekali kekurangannya. Mulai dari yang tidak memakai topi, yang memakai sepatu selain pantophel, dan yang lebih kontrasnya lagi yang tidak memakai jas kebanggaan sekolahnya.
