Prolog

1.3K 126 23
                                        

"Sampai kapan kau akan mengayunkan pedang kayu mainan itu?"

Aku sedikit terkejut kemudian menoleh ke arah datangnya suara. Itu adalah seorang wanita berpakaian serba putih dengan mahkota bunga melingkar di kepalanya. Mendadak aku merasa dingin. Sangat kedinginan. Padahal seharusnya ini masih musim panas.

Hantu. Itu yang pertama kali terpikirkan olehku saat melihat sosok tak masuk akalnya. Wajah pucat, dan kulit yang begitu halus nyaris transparan. Dan yang paling aneh adalah ia duduk di atas pokok kayu tumbang berlumut. Itu adalah batang pohon tua yang rubuh dan dibiarkan disana sekian lama. Tingginya enam kaki dan sangat licin setelah hujan. Bagaimana caranya ia naik? Atau hanya aku yang tidak tahu apa-apa.

Terlebih ini masih berada dalam kawasan istana. Siapa yang berpakaian seperti itu selain hantu? Ia bukan salah satu dari selir dan yang pasti juga bukan dayang. Penyusup? Hanya hantu yang begitu nekat menyusup ke istana hingga sejauh ini.

Aku mengacuhkannya. Ku dengar beberapa hantu mampu mengambil jantung manusia lalu memakannya. Tapi aku tidak takut. Aku memiliki pedangku. Meski itu hanya pedang kayu, aku yakin sudah berlatih sangat keras hingga merasa cukup mampu untuk mengusirnya. Jika ia benar-benar hantu.

Menjadi lebih kuat. Itu adalah tujuan utamaku saat ini. Aku harus menjadi lebih kuat untuk membalas budi Jeonha. Aku tidak boleh lemah agar layak melindungi Jeoha.

"Nak! Kau mengacuhkanku?" Tiba-tiba saja wanita itu sudah berada tepat di depanku. Ia menghentikan ayunan pedangku saat tepat berada di depan hidungnya dengan entah kekuatan apa. Kini aku yakin sekali. Dia adalah hantu. "Memanggilku kemari, lalu mengacuhkanku. Itu sungguh tidak sopan."

"Aku ...," Aku berjalan mundur. Mencoba menjauhinya, namun ia terus bergerak mendekat. Aku tahu aku tidak bisa memukul hantu dengan pedang kayuku, namun aku menggenggamnya dengan erat. Siap menggunakannya untuk perlindungan diri. "Aku tidak pernah memanggilmu."

"Ya, kau memanggilku." Wanita itu bersikeras sembari menangkap pedangku yang entah sejak kapan sudah beralih ke tangannya. "Sambil menangis putus asa, kau memohon perlindungan. Karena itu aku datang. Untuk menjadi malaikat pelindungmu!"

***

CheonsaWhere stories live. Discover now