Peringatan Konten: Cerita ini berisi narasi yang mungkin dianggap sensitif atau menyinggung oleh sebagian pembaca. Jika Anda merasa tidak nyaman, tidak apa-apa untuk berhenti membaca. Pada akhirnya, keputusan ada di tangan Anda.
Karya ini adalah cerita fiksi yang dibuat secara virtual. Ini tidak ada hubungannya dengan nama orang, tempat, dan peristiwa yang terjadi di dunia nyata.
xxx
Waktu itu aku sedang berada di dalam kelas dan seperti biasa aku memperhatikan materi yang sedang disampaikan oleh ibu guru, walaupun tidak lama kemudian berakhir menjadi sangat bosan setelahnya.
Saat sedang memainkan pulpen, angin sejuk mulai berembus dari arah jendela kelas yang terbuka. Ia seakan-akan menggodaku dan berbisik, "Sejuk, bukan?" hingga aku menguap panjang dan secara perlahan mataku mulai terasa semakin berat.
'Jika akar kuadrat di tambah dengan...'
Ucapan ibu guru terdengar semakin samar di telinga. Buruknya lagi semakin aku tahan rasa kantuk ini, maka semakin berat jadinya. Dan benar saja, tak butuh waktu lama bagiku sebelum pandanganku memudar dan berakhir menjadi menjadi gelap
-
--
-
Karena suasana keramaian kelas mendadak berubah menjadi sangat hening, dalam keadaan terkejut aku terbangun dan tersentak, "Sial, aku ketiduran!" dan buru-buru berdiri untuk cuci muka.
Namun, alih-alih di tertawai oleh seluruh teman sekelas, saat ini aku tengah berada di sebuah perpustakaan yang sangat besar dan juga asing, karena aku belum pernah sama sekali berada di sini sebelumnya.
(Eh ada di mana aku?)
Karena perasaan khawatir, bingung dan sedikit pusing karena baru bangun, aku memutuskan untuk mulai menjelajahi tempat ini.
(Di mana ini? Apa ini cuman mimpi?)
Tidak ada cahaya lampu di perpustakaan ini, namun setiap sudutnya jelas mendapatkan sinar matahari yang cukup dari jendela besar yang di pasang megah ala abad pertengahan. Apalagi perpustakaan ini sangatlah besar dan di setiap koridor terdapat berbagai macam rak buku yang di susun tinggi sekali. Mana ada perpustakaan sekolah yang sebesar ini, apa ini prank-- tapi mustahil kalau aku orangnya bangunan setiap kali di sentuh, mana mungkin aku tidak sadar saat di pindah dan di gotong oleh orang lain.
Tapi anehnya, aku merasa tidak takut ataupun khawatir seiring berjalannya waktu. Benar sih aku adalah seorang gamer sejati dan kebanyakan dari para gamer itu punya lucid dream. Kadang kalanya aku sadar jika saat ini sedang berada di alam mimpi dan bahkan pernah melanjutkan mimpi yang sama di keesokan harinya, melawan raja iblis dan menang satu lawan satu, "hoho~ iblis rendahan itu aku patahkan kedua tanduknya!"
Beberapa saat melangkah melewati koridor dan rak buku. Aku mulai melihat beberapa orang sedang duduk dan fokus membaca buku, namun pakaian yang mereka kenakan terlihat sangat ketinggalan zaman dan sebagian orang itu memiliki telinga runcing layaknya elf atau bahkan telinga kucing seperti manusia hewan.
(Hmm absurd...)
Mimpiku kali ini bertema fantasi, mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu banyak baca novel atau komik secara terusan saat sedang benar-benar bosan bermain game.
"Tuan?" tanya seorang gadis dari belakang yang membuatku menengok ke arahnya. Dia mengenakan pakaian seperti seorang gadis terpelajar abad pertengahan dengan wajah yang sangat lugu dan rambut panjang berwarna hitam, "apakah Anda tahu letak buku Federasi ke 2?"
YOU ARE READING
Isekai Gamer Royalty
Fantasy[Slow update karena revisi] 2026. Bagaimana jika seorang anak sekolahan yang hobinya hanya bermain game, secara tiba-tiba terbangun di dunia lain. Tempat dimana sihir dan sesuatu yang hanya berada di dalam game, kini berada disana. Namun sang protag...
