We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Lubang Sedotan

285 6 0
                                        

Namaku Naira. Saat ini aku tengah menempuh pendidikan di salah satu universitas bersama teman dekatku, Rona. Letak kampusku tak terlalu jauh dari rumah. Sekitar tiga ratus meteran lebih.

Aku adalah tipe orang yang pendiam. Alasannya karena aku memiliki satu kemampuan khusus. Sebuah kemampuan yang bisa dikatakan mengerikan. Saat aku kecil, aku pernah melihat sesosok wanita tua di sudut jalan dekat rumah Nenek. Wanita tua itu bukanlah manusia. Melainkan makhluk ghaib yang menakutkan. Wajahnya rusak, tubuhnya kurus kering, dan dari balik rambutnya terlihat puluhan atau bahkan mungkin ratusan ulat putih begitu riak mengoyak isi kepalanya. Tak hanya itu. Sepasang mata indahku juga sering menyaksikan anak-anak kecil berkepala plontos saat di Sekolah Dasar dulu. Mereka sering disebut tuyul. Jumlahnya banyak serta sering mengajakku bermain. Karena hal itulah, aku sempat dijauhi teman-teman karena kebiasaanku yang aneh suka bermain ''sendirian'' di lapangan. Padahal mereka semua tak tahu bahwa aku ditemani banyak teman dari alam lain.

_

Di sebelah bangunan kampusku terdapat rumah tua yang cukup megah. Rumah itu belum pernah ditempati sejak tahun 2002. Rumor mengatakan bahwa disana sering terjadi hal-hal di luar nalar. Kejadian mengerikan pernah dialami oleh sebuah keluarga pindahan dari Kota Solo. Mereka hanya tahan selama seminggu. Menurut kesaksian seorang pembantu, dia sering mengalami gangguan. Mulai dari suara ketukan misterius, alat-alat dapur berbunyi sendiri, sampai yang paling ekstrim yakni pisau tajam nyaris tertancap di punggungnya.

Gangguan paling mengerikan terjadi saat hujan deras. Seluruh penghuni rumah benar-benar di cengkram oleh ketakutan. Bayi laki-laki mereka tiba-tiba kejang, sang pembantu berteriak histeris, dan ibu majikan diganggu arwah pria veteran dengan kasar. Semenjak tragedi itu, rumah pun akhirnya dikosongkan dan dibiarkan menua termakan usia. Namun entah kenapa, di mataku rumah itu selalu terlihat indah dan megah. Aku juga tak pernah melihat sosok ghaib apapun. Mungkin ini keberuntungan untukku. Aku pasti sangat takut bila melihat wujud-wujud dari makhluk tersebut.

_

Langit terlihat agak murung. Di atas balkon rumah Kalia aku terdiam. Sambil menyedot minuman lewat sedotan selebar kurang lebih tiga milimeter. Angin berhembus cukup kencang. Membuatku berpaling tiba-tiba ke arah rumah kosong dekat kampusku. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Rumah pun tampak mewah. Padahal orang-orang sering berkata, ''Rumah kosong itu sangat angker dan kumuh''. Entahlah, mungkin keabadian dari kemewahan rumah tersebut sangatlah kuat.

Minumanku habis tanpa aku sadari. Aku lantas tersenyum geli. Lamunan ternyata membuatku tak sadar akan hal yang tengah dilakukan. Sedotannya masih menempel dimulut sambil aku gigit-gigit kecil. Kemudian sedotan itu ku ambil, dari lewat celahnya aku arahkan ke rumah kosong.

Pertama, tak ada apapun. Kedua, aku mulai menutup mata kiri. Perlahan-lahan penglihatan menjadi buram. Apa yang ku lakukan ini sungguh diluar dugaan.
Aku melihat sesosok perempuan mengerikan menjulurkan tangannya. Bagai menarik mataku sampai aku tak sadarkan diri. Saat aku terbangun, entah sedang berada dimana. Ruangan kuno dengan cahaya remang-remang. Peralatan rumah klasik. Lukisan-lukisan tua. Serta perapian yang berkobar.

''Jangaaan..!''

Aku terkejut saat mendengar suara jeritan. Aku berbalik badan. Dari arah tangga, ku lihat seorang perempuan paruh baya tengah disiksa oleh pria tua. Wajahnya dibanjiri air mata. Pakaiannya sobek dan terdapat luka cakaran di bagian punggung. Sementara pria tua itu dengan kejam menampar si perempuan sampai terjatuh ke lantai.

''Awas kalau kau mengadu pada Nyonya! Akan ku habisi kau!'' teriak pria tua. Sedangkan perempuan yang nampaknya adalah seorang pembantu itu hanya menangis tersedu-sedu.

''Aku dikotori dia...!''

Sebuah bisikan terdengar oleh telinga. Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tiba-tiba, aku merasakan pusing luar biasa. Sampai aku terjatuh tak sadarkan diri.

''Tidak! Hentikan Bi! Kasihan Mama..''

Aku terbangun karena suara teriakan histeris terdengar. Samar-samar aku lihat seorang perempuan tergeletak dipenuhi lumuran darah. Di sudut ruangan, aku juga melihat sosok gadis cantik tengah duduk lesu sembari memeluk lutut.

''Bukannya itu perempuan tadi..?'' gumamku dalam hati.

''Ya. Aku terpaksa menghabisi nyawa majikanku sendiri'' kembali sebuah bisikan terdengar di telinga.

''Tuan dan Nyonya, aku sudah menuntaskan semuanya. Rasa sakit ini akhirnya sebanding. Maafkan aku'' ucap perempuan yang memegang sebilah pisau tajam.

''Aku juga harus membunuh putrimu'' kembali ia berujar. Kali ini raut wajahnya menjadi sangar dipenuhi gurat kebengisan.

''Nggak Bi Diah! Jangan! Aldira takut''

''Maafin Bibi Non!''

''Jangaaan!''

_

''Nai..! Nai..! Naira..!''

Aku terperanyat. Sorot cahaya lampu menyambut mataku. Aku celingukan. Disampingku terdapat Raya, Kalia dan Rona. Mereka sedang menatapku dengan penuh keheranan.

''Aku kenapa?''

''Kamu tadi pingsan tau, untung aku lihat ke balkon'' sahut Raya. Rona lantas memberikan air minum. Tanpa pikir panjang aku teguk air itu.

''Kalian tahu kan rumah kosong disana?'' tanyaku. Tiga gadis dihadapanku pun mengangguk.

''Tadi, aku pingsan gara-gara ada yang narik aku ke masa-masa dimana rumah itu masih dihuni pemilik asli''

Mendengar ucapanku Rona, Raya, dan Kalia terkejut. Mereka menghampiriku semakin dekat.

''Terus gimana?''

''Rumah itu angker karena dulu ada insiden. Pembantu disana dikotori tuannya'' kataku mulai menjelaskan. Mata ketiga temanku semakin melebar. Aku pun kembali bercerita sampai bagian akhir dari deja vu yang ku alami.

_

Semenjak hari itu, aku jatuh sakit. Badanku lemas, panas dan ngilu disana-sini. Selama seminggu lebih aku terkapar di rumah sakit. Pikiranku melayang, membayangkan kejadian tragis di rumah kosong.

Setelah aku sembuh, aku mendengar kabar bahwa rumah kosong tersebut telah dihancurkan karena kepentingan pemerintah Kota. Aku memejamkan mata saat tiba di pekarangannya. Saat ku buka mata, aku melihat empat sosok manusia.

Yang satu itu, pria veteran.

Sementara di sisinya berdiri sang istri.

Dan yang berada di samping anak gadis itu adalah perempuan bernasib tragis. Dicurangi majikan sendiri, sampai pada akhirnya dendam telah membutakan nurani. Memaksanya melakukan perbuatan keji karena merasa sakit hati.

Mereka semua tersenyum padaku. Melambaikan tangan dan perlahan mulai memudar seperti asap kabut. Sementara aku. Masih terdiam, terpaku tanpa suara. Air mata menetes membasahi pipi.

''Semoga kalian semua tenang di alam sana''

_

Terik matahari terasa panas membakar kulit. Aku berlari menuju sebuah pohon besar di dekat danau taman. Sambil memandangi suasana sekitar, aku pun duduk pada bagian akar yang menjulang kokoh. Sambil mengibas-ngibaskan tangan, tiba-tiba seorang gadis kecil menghampiriku.

''Kakak sendirian disini?'' tanyanya dengan lugu.

''Iya, kamu sendirian juga ya?'' aku balik bertanya. Dia tersenyum manis padaku, lalu ia menoleh ke arah danau.

''Aku sama keluarga aku Kak, itu mereka!'' jawabnya seraya mengacungkan telunjuk. Aku tersenyum, lantas melihat ke danau.

Seketika, tubuhku bergetar. Keringat dingin mulai membasahi. Lidah ini bagaikan kaku tak mampu berucap. Apa yang gadis kecil ini tunjukkan adalah keluarganya.

Mereka semua memandangku. Melambaikan tangannya yang sudah tak sedap dipandang.

''Kak! Nama aku Putri! Nama kakak siapa?''

Suara gadis kecil disampingku ini...

Wajahnya...

Tubuhnya...

Ternyata dia...

''Ini sedotan minuman Kakak, kan?''

- Lubang Sedotan -

Uzi's Ghost Stories [Cerpen Horor]Stories to obsess over. Discover now