Aku punya cerita.
Aku mempunyai seseorang yang sangat aku suka. Dia teman ku semasa sekolah. Saat ini kami terpisah oleh jarak dan sedang memulai karir di tempat yang kami pilih. Dari segi apapun, entah mengapa dia sangat sesuai dengan kriteriaku. Jika di tanya tampan atau tidak, aku tidak bisa menjelaskan karena itu relatif bagi setiap orang. Tapi bagiku dia tampan dengan apa adanya dia.
Reply an pertama dia pada storyku adalah awal mula harapanku tumbuh padanya. Aku kira itu awal yang baik untuk bisa dekat dengannya. Aku buat sedemikian susahnya topik percakapan yang bisa membuatnya nyaman atau setidaknya tidak mengakhiri chat kami. Tapi bagaimana pun juga aku tidak bisa membuat percakapan itu panjang jika yang menginginkannya hanya satu pihak.
Setelah itu aku mencoba coba untuk membuat story semenarik mungkin. Untuk menarik perhatiannya dan berharap aku mendapat reply an darinya. Tapi semakin hari ku membuat, aku jadi justru merasa seperti orang yang tidak ada kerjaan karena tak kunjung mendapat notif darinya. Akhirnya, aku memutuskan untuk selalu mereply story miliknya.
Saat itu aku melihat story milikknya dan itu tentang bola. Jujur saja, aku bingung reply an apa yang aku kirimkan karena aku sama sekali tidak tau tentang bola. Akhirnya aku bertanya pada temanku cowok yang kebetulan adalah pencinta bola dan setidaknya info dari dia bisa membuat reply-an ku cukup nyambung dengan story yang dibuatnya.
Hari hari berlalu, tidak ada satu pun story nya yang lewat dari reply-an ku. Awalnya dia merespon dengan baik yang membuat aku berfikir bahwa keputusan ku itu tepat. Tapi semakin lama mungkin dia semakin bosan hingga beberapa reply an ku kerap tidak di gubrisnya dan hanya di baca.
SESAK. . . Satu kata yang tepat mendeskipsikan perasaanku saat itu. Akhirnya, aku berhenti untuk melakukan itu lagi, dan berhenti untuk menyentuh social media ku tersebut untuk beberapa waktu.
Sudah 3 bulan rasanya aku tidak menyentuh social mediaku itu. Saat ku buka, ternyata sudah banyak notif dari teman-temanku. Namun tidak ada satupun notif dari dia. Ya aku tau itu pasti terjadi. Aku terlalu berharap saat itu.
Hari berlalu, saat itu aku sedang berada di salah satu cafe di mall. Cafe tersebut merupakan cafe favoriteku untuk melakukan "me time" haha. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang sedang memesan pesanannya. Aku yang merasa tidak asing seketika menoleh ke arah suara itu. Ternyata firasat ku benar. Itu suara dia. Namun, bukannya menyapa nya aku malah diam dan menoleh ke arah dimana dia tidak bisa melihat wajahku. Alasanku adalah, karena saat ini dia tidak sendiri. Dia bersama seseorang yang juga aku kenal. Aku berusaha menahan tangisku karena tidak lucu jika aku tiba tiba menangis di tempat itu, dalam keadaan sendiri pula. Aku tidak mau mendapat tatapan iba dari orang-orang.
Saat itu aku memutuskan untuk meninggalkan cafe tersebut dan berusaha agar tidak terlihat oleh mereka berdua. Namun seolah dunia tidak merestui, dia memanggilku. Mau tak mau aku menoleh dan memulai sandiwaraku. Untung saja aku sangat ahli dalam hal itu.
Akhirnya aku putuskan untuk menunda kepergianku dan bergabung dengan mereka. Semakin lama aku berada di antara mereka aku semakin tidak nyaman. Hatiku merasa gerah. Hingga sampai aku tau bahwa mereka saat ini sedang pacaran aku pamit pergi kepada mereka dengan senyum yang masih menghiasi wajahku.
Tidak perlu aku jelaskan bagaimana awalnya hingga aku bisa tau bahwa mereka saat itu berpacaran. Yang perlu kalian tau, aku mengetahui dari mulut dia sendiri. Ya dia yang mengatakannya kepadaku.
Hingga sampai saat ini, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku juga tidak tau, apakah dia masih berpacaran dengan perempuan itu. Perempuan yang adalah temanku sendiri. Tapi aku berharap tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Aku terlalu takut jika hatiku merasa kecewa lagi. Karena aku tau, dia tidak akan pernah tau bagaimana perasaanku padanya. Dia tidak akan tau, tidak akan pernah.
End
YOU ARE READING
Isi Hati
RandomKumpulan cerita pendek, curahan hati dan segala ke gajean nya yang di authorin oleh hati.
