Tak Kenal Maka Tak Jadian

10.5K 587 276
                                        

Orang-orang bilang banyak anak akan banyak rezeki. Mungkin memang betul. Namun, tidak lupa juga bikin pusing.

"Kakaaak! Bangun! Udah jam tujuh!"
    
"Maaas! Kenapa pintu dikunci?! Biar Bunda gak bisa masuk, ya?!"

"Baaaang! Udah bangun belum?!"

Suara Bunda sering terdengar setiap pagi. Sudah rutinitas. Sudah biasa. Sudah menjadi tugasku juga membantu Bunda membangunkan para kakak. Iya, para. Pasti kamu sudah bisa menebak jumlah kakakku banyak, kan? Benar. Saking banyaknya, bisa tuh mereka daftar jadi anggota barongsay.

Aku sendiri senang nggak senang punya banyak abang. Senang berasa punya teman, nggak senangnya kalau sudah jadi korban kejahilan mereka. Apalagi aku satu-satunya anak perempuan di antara mereka.

Aku punya tujuh kakak. Bagaimana? Sudah cukup memenuhi persyaratan jadi boyband?

Kakak pertama, Ammar Hanan Rahadian. Kemarin umurnya menginjak 28 tahun. Seharusnya sudah menikah, sih, tapi.... pernah gagal.

Ammar Hanan Rahadian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ammar Hanan Rahadian

Biasa dipanggil Kakang. Iya, Kakang Ammar. Keluarga kami berasal dari turunan Sunda. Kakang berasal dari kata Akang yang artinya sama seperti Mas. Nah, Kakang Ammar ini jago masak! Aku selalu minta dibuatkan makanan kalau lapar, hehehe.

Wajahnya memang adem kayak ubin minimarket, tapi sikapnya bisa bikin ayam tetangga mogok bertelur dua minggu. Serius. Kakang Ammar itu orangnya bodor(1) banget. Ada dimana aku senang bisa ketawa-ketawa seakan sejenak melupakan kesedihan kalau sudah dengar Kakang Ammar melawak, namun ada juga dimana aku menyerah ingin menjauh karena... WOY PERUTKU SAKIT KETAWA TERUS. HUMORKU SEMAKIN TURUN SAMPAI KERAK BUMI. TOLONG.

"Neng Yaya, Kakang gak lagi-lagi makan kue cubit."

"Lho kenapa, Kang? Padahal enak, kok."

"Kaget. Kemarin Kakang beli kue cubit, pas mau dimakan, eh kuenya beneran nyubit," katanya dengan raut dikasihan-kasihanin yang padahal beneran kasihan sama humornya yang semakin mlempem kayak cakwe tersiram air.

Mari beralih ke kakak ke-dua. Mata sipit, kulit lebih putih yang cukup membuatku iri, dan terkenal dengan sikap dinginnya. Namun, di balik sikap dinginnya, kakakku ini perhatiannya sudah di atas level seblak. Terbukti dari kejadian yang sudah-sudah; masa cuma nongkrong di depan rumah aja, dia meneleponku berulang kali.

Patah Hati Setengah KomediCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang