"Bun, semasa remaja Bunda pernah nangis gak?" tanya Azya, lagi makan batagor.
Bunda diam sebentar. Nampak mengingat-ingat sesuatu. Seulas senyum lantas terlukis di bibirnya, beliau menjawab, "Pernah. Bunda suka."
Kening Azya berkerut tak mengerti. B...
Suara Bunda sering terdengar setiap pagi. Sudah rutinitas. Sudah biasa. Sudah menjadi tugasku juga membantu Bunda membangunkan para kakak. Iya, para. Pasti kamu sudah bisa menebak jumlah kakakku banyak, kan? Benar. Saking banyaknya, bisa tuh mereka daftar jadi anggota barongsay.
Aku sendiri senang nggak senang punya banyak abang. Senang berasa punya teman, nggak senangnya kalau sudah jadi korban kejahilan mereka. Apalagi aku satu-satunya anak perempuan di antara mereka.
Aku punya tujuh kakak. Bagaimana? Sudah cukup memenuhi persyaratan jadi boyband?
Kakak pertama, Ammar Hanan Rahadian. Kemarin umurnya menginjak 28 tahun. Seharusnya sudah menikah, sih, tapi.... pernahgagal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AmmarHananRahadian
Biasa dipanggil Kakang. Iya, Kakang Ammar. Keluarga kami berasal dari turunan Sunda. Kakang berasal dari kata Akang yang artinya sama seperti Mas. Nah, Kakang Ammar ini jago masak! Aku selalu minta dibuatkan makanan kalau lapar, hehehe.
Wajahnya memang adem kayak ubin minimarket, tapi sikapnya bisa bikin ayam tetangga mogok bertelur dua minggu. Serius. Kakang Ammar itu orangnya bodor(1) banget. Ada dimana aku senang bisa ketawa-ketawa seakan sejenak melupakan kesedihan kalau sudah dengar Kakang Ammar melawak, namun ada juga dimana aku menyerah ingin menjauh karena... WOY PERUTKU SAKIT KETAWA TERUS. HUMORKU SEMAKIN TURUN SAMPAI KERAK BUMI. TOLONG.
"Kaget. Kemarin Kakang beli kue cubit, pas mau dimakan, eh kuenya beneran nyubit," katanya dengan raut dikasihan-kasihanin yang padahal beneran kasihan sama humornya yang semakin mlempem kayak cakwe tersiram air.
Mari beralih ke kakak ke-dua. Mata sipit, kulit lebih putih yang cukup membuatku iri, dan terkenal dengan sikap dinginnya. Namun, di balik sikap dinginnya, kakakku ini perhatiannya sudah di atas level seblak. Terbukti dari kejadian yang sudah-sudah; masa cuma nongkrong di depan rumah aja, dia meneleponku berulang kali.