part one

7 2 0
                                        

"Pak guru, hari ini akan membicarakan tentang musim dingin yang akan datang 1 bulan lagi." tegas pak Agam sambil menatap ke setiap sudut ruang kelas. "Alahhh. Repot amat sih! Musim dingin aja dibicarain. Maleslah, mending gue molor." batinku sembari menenggelamkan wajah dimeja.
Lambat laun Aku terlelap dengan mudahnya mimpi itu hadir didalam tidurku. Mimpi yang sangat mencekam. Dimana aku sendirian di bawah terpaan salju yang turun dari langit. Aku tau sudah sekitar 4 tahun aku tinggal disini. Dinegeri antah berantah yang selalu membawaku pergi jauh. Namun, mimpi ini begitu nyata. Tanpa Aku sadari, hujan salju semakin lebat. Aku berteduh dibawah koni hijau pohon cemara. Naas, hujan salju berubah menjadi badai yang mengerikan. Aku terus berusaha agar badai tak membawa badanku terbang. Aku berpegangan pada ranting kecil yang menancap di tanah. Badai itu hanya sekejap, ketika Aku perlahan membuka mata. Suasana gelap membawa kakiku melangkah dengan hati-hati menyusuri hutan lebat ini. Krekkk... Krekkkk...
Aku mendengar suara langkah kaki menginjak ranting kering di tanah. Ia berjalan mendekat kearahku. Aku terus menarik langkah kebelakang. Aku melihatnya menenteng lentera ditangan kanannya. Aku bersiap membalikkan badan, mengambil ancang-ancang dan berlari sekencang kencangnya. Sungguh, Aku berharap ada yang menolong diriku. Rupanya Ia telah menyadari kehadiranku di hutan ini. Aku masih berlari mengikuti insting. Brukkkk.. "Aoww!!" pekikku. Aku terjatuh. Kali ini Ia berada di hadapanku. Aku tak dapat melihat seperti apa dirinya. Karena Ia sembunyi dibalik lentera. Ia melangkah mendekatiku. Seketika angin berhembus kencang, aku ketakutan dan kedinginan. Ketika Ia berada didepan keningku. Aku tak berdaya. Jatuh. Diakhir kalimat, pingsan. Aku hanya melihat samar siluet wajahnya yang tampan kemudian bayangan dipandanganku menjadi gelap tak bercahaya.
"BAKKK!!!!" suara gebrakan meja membangunkan tidurku. Aku langsung membuka mataku dengan cepat. "Tidur terus lu!" kata Adnan yang duduk diatas mejaku. "Sialan! Lagi enak-enak mimpi juga." tukas ku. "Pelajaran udah lewat, lo molor terus." celotehnya. "Yeee.. Biarin aja. Lagi mimpi juga." kataku cemberut. "Ehhh.. Mimpi apa?? Mimpiin gue?? Atauuuuu mimpi yang aneh-aneh???!!" ledeknya. "Ahhh.. Udah deh diem kenapa sih!?" respon ku sebal. "Gitu doang ngambek! Ya udah gih sono tidur lagi." perintahnya. "Udah kelarrrr.. Mimpinya." kataku. "Ya udah, kalo gak mau sono basuh tuh muka. Malu kalo ada ilernya." ledeknya. Aku menjitak keningnya. Lalu beranjak meninggalkan kelas.
Mimpi tadi kaya nyata kaya enggak
***
Aku menuju toilet. Membasuh muka di westafel dengan air segar membuat wajahku kembali fresh. Aku masih kepikiran mimpi tadi. Mungkin hanya ilusi semata. "Ahhh.. Sudahlah." gumamku sambil mengelap wajah dengan handuk. Aku keluar dari toilet. Begitu terkejutnya Aku kala memergoki seorang pria yang berjalan menuju toilet. Iya!!! Dia orangnya. Batinku berteriak. Aku mengumpulkan keberanian untuk menghampiri dirinya. Aku menyusul langkahnya menuju toileh pria. "Woy!! Ngapain mau ke toilet pria!!!" sergah Hana. Kata-kata cempreng dari mulutnya membuat Aku menghentikan langkah lalu mengurungkan niatku menghampiri pria tersebut. "Ehh.. Hana, salah jalan gue." kataku sambil nyengir mati gaya. Kemudian Aku membalikkan badan melangkah dengan kekalahan menuju ruang kelas.
Sesampainya Aku di kelas. Sekelompok siswi sedang bergosip tentang siswa pindahan yang masuk di kelasku ini. "Aku dengar Dia sangaaat tampan." kata salah seorang dari mereka. "Apa setampan Adnan?" tanya Azizah. "Zah, Dia lebih tampan dari Adnan." kata Maheswari. Aku cuek saja sambil duduk di bangku. Tidak tertarik dengan pembicaraan mereka. Selang beberapa menit, Jae,Adnan,Afkar,dan Adri memasuki kelas. Mereka langsung menuju ke bangkuku. Tentu saja. "Lo tau gak?" tanya Jae menyikut lenganku. "Ih.. Ada apa emang??" tanyaku ketus. " Jahe merah sonto loyo hoa hoe eaaa... Mana tertarik Dia sama cerita kita." kata Adnan. "Emang ada berita apaan sih?" tanyaku. "Cewek ini bener-bener spesies langka di dunia vroh. Biasanya cewek suka rumpi-rumpi gitu kan?? Si tengil ini gak suka rumpi." protes Afkar. "Gini-gini, gue ngerti kalo lo gak tertarik. tapi, dengerin gue... Kelas kita bakal kedatengan siswa baru yang gue denger sihh.. Siswa tampan." jelas Jae. "Gue rasa si Adnan Ariawan bakal punya saingan di tingkat kegantengannya." tambah Afkar. "Iya,kar... Saingan Adnan." tukas Adri menyetujui. "Apa!! Saingan gue???!!! Gue tetep yang terganteng dikelas ini." sanggah Adnan. Sekelompok cewek yang tadi sedang bergosip langsung berdesis keras. "Tuhh.. Apa gue bilang,Nan. Mereka gak setuju kalo lo ganteng." kata Afkar. "Haha.. Nan, udah dong jangan marah." kata Adri. Kedua bibir Adnan sekarang manyun kedepan. "Eh, udah pada makan belum??" tanya Afkar. "Kalo gue, belom 2 kali." jawabku. "Ahhh.. Lo cewek makannya porsi laki." sergah Adnan meyerang ku. "Biarin." kataku cuek. "Nih, si Afkar mau nraktir pasti!" Kataku semangat. "Haha.. Apal banget sih lo, dasar tengil tukang makan." kata Afkar. "Ya udah, kan hari ini pelajaran kosong nihhh... Mendingan kita bolos aja." cetus Adri yang terkenal cerdas di seantero sekolah. "Iya! Gue setuju." kataku. "Kalo mau bolos sekarang ayok!" tukas Afkar.
Akhirnya kami semua memutuskan untuk bolos bersama.
Hari Bolos Nasional.
***
Setelah makan di kafetaria, tepatnya diparkiran Jae mengajak aku pulang bareng. "Maaf, gua gak nebeng lo deh.. Libur dulu." kataku menolak. "Yahhh.. Krasa jomblo nihh... Kalo lo gak nebeng." kata Jae sambil nyengir. "Yee... Emang lo jomblo,kan?!!" cetus ku. "Husttt.. Jangan keras-keras dongg.. Ngomongnya." kata Jae. "Biarin.." kataku. "Ahh.. Lo gak asik deh, mending gue cabut." kata Jae sambil menstater motor merahnya. Beberapa detik kemudian.. Wusssssss... Jae pergi meninggalkan ku. Aku berjalan menuju halte didekat kafetaria ini. Saat Aku duduk sendirian dipojok halte, mataku memergoki seorang pria tengah menanti kehadiran bis. Kemudian,bis dari jurusan lain datang. Aku duduk tenang saja. Itu bukan bis harum mewangi yang biasa lewat depan rumahku. Pria tersebut memakai hoodie,tingginya sekitar 165 cm. Dia beranjak dari tempat duduk. Dia masuk kedalam bis itu. Tanpa Dia sadari, seuntai kalung jatuh dari saku hoodienya. Aku langsung memungut kalung itu. Aku menyusul langkah pria yang misterius itu. Akan tetapi, bis lebih cepat membawa pria itu pergi.
Aku tertatih,nafasku tersengal-sengal. "Apess.. Banget sih gue.." gumamku. Kemudian Aku melihat kalung itu. Emas putih,berbandul daun maple, dan sebuah cairan merah mengisi bandul. "Eihhhh.. Nih kalung pasti mahal banget, ada diamond cairnya." kataku sambil menatap bandul kalung itu lekat-lekat. "Tapi.... Punya siapa!??? Masa sihh Gue pake??ntar.. Dia ngira gue nyolong lagi??" kataku. Aku merasa menjadi orang gila. Bicara dan menjawab sendiri. Luar biasa... Saat Aku perhatikan dengan saksama. Terdapat ukiran seperti abjad.. "Ahhh.. Ini ada namanya!" teriakku girang bukan kepalang. "Adelio satria pamungkas~hutan pinus kayu asem~hmmmmm... Gue bisa nih kerumahnya besok. Daripada gue dikiran nyolong, gue kan anak jujur, balikin aja kali ya. Siapa tahu Aku di kasih hadiah!" kataku senang dengan pemikiran sendiri.
***
Bis membawaku menembus kemacetan dengan sigap. Angkutan umum ini penuh dengan penunpang. Ada yang muda sepertiku ada pula yang sudah dewasa seperti ayahku. Aku tidak suka memanggil ayahku sudah tua. Karena tua belum tentu dewasa. Hahahaha..
Sekitar 15 menit Aku sampai di jalan seribu. Rumahku terletak di sebelah kanan jalan. "Pak,kiri!! Nih duitnya.. Makasih ya." kataku sambil memberi uang 5000 an. Aku turun dari bis.
Sesuatu terjadi ketika manik mataku menatap pria diseberang jalan. Di parkiran sepeda. Iya, pria yang mengenakan hoodie tadi. Pemilik kalung. Dia sangat tampang. Wajahnya sangat bersih,senyumnya sangat menawan,matanya memancarkan kehangatan. Tapi, ada satu hal yang Aku pertanyakan. Siapa Dia? Dia yang berada dalam mimpiku? Adelio? Aku hanya mematung. Adelio tampak jelas mengendarai sepedanya.

Winter And ForestStories to obsess over. Discover now