"Bu, pengantin wanitanya hilang!" Seorang petugas wedding organizer datang tergopoh-gopoh sambil memberikan sebuah kabar yang mengejutkan.
"Apa?!" Azrina, wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda itu terpekik kaget. "Coba jelaskan pelan-pelan!" tanya Azrina sambil berusaha untuk tetap tenang.
"Pengantin wanitanya tidak ada di kamarnya, baru saja saya mau panggil untuk bersiap,tapi kamarnya kosong! Sayasudah minta yang lain untuk memberi tahu Mas Arka."
"Kalian sudah cari ke seluruh hotel?" tanya Baskoro, suami Azrina.
"Seluruh staf kami sedang mencariya, Pak."
"Ayah, Bunda, apa maksudnya Aura hilang?" Tanya sosok pria berbalut jas hitam yang rapi dan elegan. Pria tampan yang sempat membuat Ayra langsung menutup mulutnya yang nyaris menganga. Si Nasabah ATM tertelan yang memberinya tumpangan beberapa waktu lalu.
"Arka, coba kamu telepon. Mungkin dia lagi keluar kamar waktu mereka mengecek kamarnya," titah Azrina pada putranya.
Arka segera menelepon calon istrinya tersebut. Beberapa kali, tetapi tetap tidak ada jawaban. Seolah hilang ditelan bumi.
"Tidak dijawab, Bund." Raut wajah pria itu mulai terlihat cemas. Begitu juga dengan Azrina dan Baskoro yang saling berpandangan khawatir.
Hampir setengah jam para petugas hotel dan WO mencari ke seluruh pelosok hotel. Nihil. Calon pengantin wanita itu tidak juga ditemukan. Tinggal setengah jam lagi sebelum acara dimulai. Para tamu undangan bahkan sudah memadati tempat yang tersedia di area taman.
Baskoro berkali-kali menatap jam tangannya. Arka sendiri sudah menghubungi calon istrinya puluhan kali, juga menelepon semua orang yang mengenal wanita itu. Namun semua tetap nihil, seolah kompak tidak mau menjawab panggilan Arka.
"Bagaimana ini, Yah? Kita tidak bisa begini terus. Acara pernikahannya mana bisa dibatalkan? Mana tamunya sudah datang semua," ucap Azrina panik.
"Sabar Bund, semoga saja sebentar lagi ada kabar dari Aura." Baskoro mencoba menenangkan istrinya. "Gimana, Ka? Aura sudah bisa dihubungi belum?" tanya Baskoro pada putranya.
"Belum, Yah. Teleponnya mati, tidak bisa dihubungi sama sekali," jawab Arka pelan. Rahangnya mulai mengetat, terlihat seperti sedang menahan kecewa dan amarah.
"Ya ampun, sebenarnya calon istrimu ke mana? Kemarin dia yang minta pernikahan ini diadakan seccepatnya, tapi sekarang dia yang menghilang tanpa kabar." Azrina mulai menggerutu jengkel.
Sedangkan Arka hanya bisa menatap layar ponselnya dengan pasrah. Pria itu bahkan tidak tahu harus menghubungi Aura ke mana lagi. Sepertinya selama ini dia tidak benar-benar memahami calon istrinya itu.
"Ah iya, Ayra!" Terdengar pekikan Azrina yang menarik perhatian Baskoro dan Arka. Kedua pria beda generasi itu menatap Azrina dengan penuh tanda tanya. "Ada Ayra di sini!" lanjut Azrina lagi.
"Aku?" Ayra melongo bingung saat namanya disebut. Wanita itu hanya bisa menatap keluarga teman papanya dengan kening berkerut.
"Apa hubungannya sama Ayra?" tanya Baskoro.
"Ayra bisa jadi pengantin wanitanya. Dia bisa jadi mantu kita, Yah!" sahut Azrina antusias. Wajahnya terlihat berseri karena telah berhasil menemukan solusi dari masalah yang sedang mereka hadapi.
"Kita tidak mungkin membubarkan para tamu begitu saja. Ayah kan tahu sendiri di sana ada berapa banyak relasi bisnis Ayah. Nama baik kita dipertaruhkan di sini!"
"Tapi ...," Baskoro terlihat berpikir sejenak sambil memandang wajah istrinya kemudian beralih pada sahabatnya. "Athar ... Apa boleh kami meminta tolong padamu seperti ini?" tanya Baskoro pada akhirnya. "Tolong bantu kami hari ini dan kami akan menyayangi putrimu seperti anak kami selamanya," pinta Baskoro sambil memohon pada sahabatnya.
YOU ARE READING
Emergency Bride
RomanceEntah ketiban durian runtuh atau ketiban sial, dalam waktu semalam Ayra Zaina Prameswara resmi jadi istri anak salah satu pengusaha retail terbesar di Indonesia. Arkaruna Narendra Adipramana, pengusaha muda yang tiba-tiba ditinggal lari oleh calon...
