***
"Mau pakai sambal?"
"Ngga ah. Sejak kapan Reta suka sambal?"
"Ya kali aja, tiba tiba penyihir menyebutkan mantra, lalu Reta jadi suka sambal."
"Ngaco..!"
Ya, begitulah kami. Dengan candaan di penghujung hari. Dia selalu mengajakku untuk mengisi perut. Katanya, Gausah diet diet segala..Kurang baik. Akupun menurut saja. Membiarkan dia membawaku ke tempat makanan yang belum pernah aku kunjungi, atau belum pernah aku coba. Seperti hari ini, dia mengajakku membeli soto ayam yang katanya paling enak di kota ku.
"Mad, betul.. Soto ayam nya enak." Ucapku sambil melahap soto ayam yang tersisa.
"Tuh kan.. Ahmad gaakan salah kalau soal makanan. Gak nyesel kan?"
"Ngga. Oh iya, kalau besok coba makanan apa lagi?"
"Emmm... Apa ya kira kira?" Dia berlagak pura pura berpikir.
"Apa kau kehabisan stok tempat?" Tanyaku
"Tidak lah.. Ada kok, tapi rahasia. Jadi, tunggu besok aja.."
Dia selalu menjadi penyemangat saat hariku mulai kusut. Aneh sekali orangnya. Kadang bisa membuatku tertawa sampai sakit perut, dan kadang bisa sangat sangat menyebalkan.
"Sudah kenyang, Nona?"
"Sudah, Tuan. Apa sekarang kita akan pulang?" Tanyaku.
"Ya.. Mari, aku antarkan pulang. Oh iya, jangan lupa perihal analisis itu."
"Analisis nya besok dikumpulkan, kan? Tenang aja. Nanti Reta kirim soft file nya."
"Nah, gitu dong. Itu baru namanya teman Ahmad yang baik. Makasih Reta imuuutt..." Dia mencubit pipiku.
Tapi perasaanku tak karuan. Pipiku memanas, juga mataku. Mungkin sesuatu akan turun mengalir. Ternyata, selama 2 tahun 4 bulan ini dia selalu menganggapku seperti sejak pertama, yaitu... 'Teman' .
Dia mengantarku sampai rumah. Berpamitan, melambaikan tangan seperti biasa. Semenjak perjalanan pulang tadi, Aku tak banyak merespon perkataan Dia. Walaupun Dia sangat antusias membahas konser band kesukaannya di ibu kota. Bukan apa apa, namun entah kenapa, perkataannya selalu terngiang. Rasanya, aku ingin betul betul beristirahat malam ini.
***
Telpon ku berdering. Ku jawab tanpa melihat nama siapa yang tertera di sana.
"Retaa cebol, manaaa analisis nya?!" Ternyata suara dia. Yang sangat khas, yang selama ini ku kenali.
"Ah iya, maaf.. Lupa." Aku segera bangkit dari tempat ternyaman ku. Segera meraih laptop, lalu memindahkan beberapa file ke handphone.
"Tunggu 2 menit lagi. Reta lagi pindahin file nya."
"Nah, gitu dong. Emang tadi udah tidur?"
"Hampir.."
"Oh, iya.." Dia melanjutkan pembicaraan.
"Mau bicara sesuatu nih.. Serius."
Mataku membulat. Tumben sekali dia membicarakan hal yang serius. Aku membenarkan posisi, supaya lebih jelas mendengar dia berbicara.
"Ada apa, Mad?"
"Ini..Emm.. Bella, temen sekelas kamu, kan?"
Kening ku mengerut. "Iya betul, ada apa?"
"Astaga! RETAAA! gapernah bilang bilang kalau Bella itu temen sekelasmu" Dia berteriak histeris di seberang sana.
"Kan emang kamu gapernah tanya. Ada apa sih? Bikin penasaran aja." Aku mulai malas mendengarkan.
"Reta.. Kayanya aku naksir Bella. Dan besok, aku mau menyatakan perasaan ku ke Bella.."
Dia terdiam.
"Kau mau, kan? Bantu Ahmad?"
Giliran Aku yang terdiam. Beserta syaraf dan indera yang entah sejak kapan tak mau diajak bekerja sama. Mata ku terasa hangat kembali. Aku biarkan ia mengalir bebas di pipiku malam ini.
"Reta? Reta? Jangan jangan tidur.."
"Ya?" Aku menormalkan suara ku, agar Dia mengira aku baik baik saja.
"Jadi gimana, mau bantu Ahmad?"
Sialan, dia mengulangi lagi pertanyaannya.
Lama sekali terjadi keheningan antara kami. Lalu, Akupun mulai berbicara.
"Ya, aku akan bantu. Aku kan, teman baikmu, bukan?"
Ya,
Telah selesai kalimatku.
Telah selesai perasaanku padamu..
***
Luxtria
Bandung, 26.08.18
13.25
YOU ARE READING
Usai
Short StoryTentang cerita yang tak pernah usai. Note : ini kumpulan cerpen. Update tak terjadwal, gimana mood penulis:)
