EMPAT PULUH LIMA

1.5K 120 28
                                    

"Iya, bentar lagi aku sampai. Tolong, buatkan daftar tunggu dulu. Mungkin sekitar 30 menit lagi. Aku mau ke laboratorium sebentar. Ah, iya satu lagi. Beritahu Dokter Fredi, jika laporanku sudah ada di mejanya."

.

"Oke, baiklah. Terimakasih. Kau memang yang terbaik."

.

Anjani menutup panggilan tersebut dengan senyum yang merekah. Matanya masih lekat menatap ponsel yang layarnya masih menunjukkan kontak Fani, orang yang baru saja berbicara dengannya.

"Terima kasih, karena aku selalu bisa mengandalkanmu, Fan," gumamnya pelan sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku jas Dokter yang ia kenakan.

Beberapa waktu yang lalu orang tua dari pasien Anjani memintanya untuk datang ke sekolah. SDN 153 lebih tepatnya, berlokasi tidak jauh dari rumah sakit. Pasien tersebut merupakan anak perempuan berumur 9 tahun yang menderita sindrom Freguli, dimana sindrom tersebut merupakan gangguan psikologis yang membawa penderita menjadi paranoid.

Satu minggu yang lalu, Anisa, anak perempuan tersebut memukul teman sebangkunya karena ia berpikir temannya akan menganiaya dirinya dengan teman-teman yang lain. Sedangkan hari ini, Anisa mengamuk di kelas saat seorang guru baru menjelaskan materi dengan menggunakan mistar panjang. Ia melemparkan semua barang terdekat ke sembarang arah, mengamuk dan terus berteriak jika Guru tersebut beniat untuk menganiaya murid-murid di kelas.

Cukup rumit memang, baru satu bulan Anjani menghadapi Anisa, jadi masih butuh banyak waktu untuknya melakukan pendekatan kepada anak itu. Anjani hanya tahu, jika 2 tahun yang lalu, Mama Anisa meninggal dunia, Papanya menikah lagi satu tahun yang lalu, tapi Istrinya malah sering memukul Anisa dengan alasan karena Anisa nakal. Sejak saat itulah, Anisa sering mengalami mimpi buruk hinggal ia harus mengalami sindrom yang seharusnya tidak ia derita.

Anjani sendiri tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini. Tugasnya, hanya berusaha menyembuhkan Anisa. Bukan ikut campur dengan kehidupan rumah tangga orang tuanya. Meskipun Anjani dengar, jika Papa dan Mama tirinya memilih untuk berpisah sudah 3 bulan, sejak lelaki berumur 30an itu menyadari penyakit putrinya. Keputusan yang tepat menurut Anjani, meskipun wanita itu tidak pernah mengungkapkannya. Karena, bagi Anjani sendiri saat ini Anisa hanya membutuhkan Papanya. Bukan orang lain.

Anjani mendongak dengan telapak tangan yang mengadah ke atas. Tetes demi tetes butiran air hujan sudah mulai menyentuh kulitnya. Awan yang semula cerah, berubah menjadi sedikit mendung.

'Kenapa tiba-tiba?'

Anjani melebarkan mata, saat butiran tersebut perlahan turun semakin cepat dan deras. Dengan sigap, ia menaruh kedua tangannya di atas kepala, mulai berlari di trotoar panjang yang akan menuju ke Rumah Sakit. Tidak perduli, derasnya air hujan yang mulai membasahi Jas kebesarannya. Anjani terus berlari, sampai ia berhenti saat tetes hujan tersebut tidak lagi menyentuh tubuhnya. Orang-orang terus berlari di depannya mencari tempat untuk berteduh. Sedangkan Anjani terdiam, mendongak dengan senyum yang terukir. Menatap payung berwarna putih yang sudah melindunginnya serta lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta terlalu dalam. Anjani tidak tahu, kenapa Ray bisa ada disini. Tapi, jujur saja ia senang.

"Kenapa tidak bawa payung?" Suara berat itu mengintrupsi Anjani yang sejak tadi hanya terpaku.

"Mana tahu, kalau hujan akan turun."

"Sedia payung, sebelum hujan. Emangnya mau nunggu mendung dulu? Untung aku dateng tepat waktu." Satu tangan Ray langsung melingkar di bahu Anjani tanpa aba-aba ataupun permintaan izin. Ia merapatkan tubuh Anjani ke dalam dekapannya. Berjalan dibawah hujan, dengan payung yang akan melindungi mereka. Meskipun tidak sepenuhnya.

MR. PHOBIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang