Prolog

242 15 2
                                        

"Welcome to an old story, completely reimagined"

An Invitation to The Anomaly

An Invitation to The Anomaly

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

19+

Prolog

Dalam ruang lingkup eksistensi, manusia sering kali salah dalam mendefinisikan hidup. Banyak dari mereka, berasumsi, hidup adalah sebuah narasi tunggal, hidup hanyalah sebuah variabel terikat. Dimana sebuah ruang gelap yang dipadati oleh aspek-aspek masalah, yang setiap aspeknya dilandasi oleh ratusan kriteria yang rumit, tumpang-tindih, dan sering kali cacat sejak awal perumusan.

Anehnya, jika kita membuka lembar demi lembar literatur universal, setiap ahli memiliki konseptualisasi yang berbeda. Padahal, mereka meneliti variabel yang sama. Mereka membedah aspek yang serupa. Perbedaan hasil itu terjadi karena satu hal: sudut pandang metodologi dalam menyikapi anomali. Untuk memecahkan sebuah fenomena yang terlanjur hancur, seseorang tidak bisa maju dengan tangan kosong. Ia harus tahu kemana arah kajian teori yang ia gunakan sebagai dasar penyelesaian akhir.

Dan bagi salah satu manusia yang ada di bumi ini, kajian teori yang ia pilih untuk menyelesaikan masalah hidupnya, bukanlah pengampunan, bukan juga keikhlasan.

Hipotesisnya sudah bulat dan dasar teorinya telah mengakar kuat di kepala, pembalasan dendam adalah satu-satunya instrumen valid untuk mencapai titik ekuilibrium.

Secara empiris, variabilitas manusia ditentukan oleh bagaimana mereka memandang sebuah fenomena. Setiap individu memiliki deviasi perspektif yang valid. Hal itu dikondisikan oleh rentetan faktor internal–mulai dari kedalaman pengalaman pribadi, usia, bias jenis kelamin, stratifikasi latar belakang pendidikan, nilai serta kepercayaan yang dianut, orientasi motivasi, tipologi kepribadian, hingga kondisi kesehatan. Tidak berhenti di sana, variabel tersebut masih diintervensi oleh faktor eksternal berupa konteks situasi dan bentukan budaya.

Atas dasar teori tersebut, jika ditemukan seorang individu yang perilakunya seolah-olah disetir oleh apa yang didefinisikan orang-orang di sekitarnya, itu bukanlah sebuah kesalahan sistemik, bukan?

Secara teoritis, benar. Namun, realitas sosial menolak validasi itu.

Ketika populasi melihat subjek dengan pola adaptasi seperti itu, stigmatisasi dan cemoohan menjadi respons yang paling cepat terdistribusi. Padahal, jika merujuk kembali pada landasan teori baku, setiap individu memiliki perspektif yang berbeda dikarenakan adanya berbagai faktor.

Konsekuensi logis dari hukum ini adalah sebuah aturan tidak tertulis yang absolut, individu mana pun tidak memiliki hak prerogatif untuk mengintervensi individu lainnya, sebab setiap manusia membawa algoritma faktor yang berbeda dalam memandang dunia.

Oleh karena itu, metodologi terbaik dalam menempuh eksistensi adalah sebuah konsep bernama "hidup saling". Manusia dikodratkan untuk masuk ke dalam proses sosialisasi. Namun, dalam ruang lingkup ini, terminologi "bersosialisasi" mengalami pergeseran makna. Ia tidak melulu menuntut sebuah subjek untuk bersikap ramah atau tunduk pada subjek lain. Bersosialisasi adalah tentang bagaimana sebuah individu menempuh proses adaptasi dan melakukan penyesuaian diri yang presisi di dalam sebuah lingkungan–tanpa kehilangan inti dari variabel dirinya sendiri.

Bagi seorang perempuan yang sedang berdiri di bawah pekatnya kabut malam ini, proses penyesuaian dirinya telah mencapai tahap radikal. Ia tidak lagi menyesuaikan diri untuk diterima, melainkan untuk menyusup dan menghancurkan. Dinding egoisme yang ia bangun adalah benteng terakhir agar variabel internalnya tidak lagi diintervensi oleh ekosistem yang merusaknya.

 Dinding egoisme yang ia bangun adalah benteng terakhir agar variabel internalnya tidak lagi diintervensi oleh ekosistem yang merusaknya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Hai, rders dimana pun kalian berada...

Sepertinya rdynim sangat labil, jujur, cerita ini sangat kompleks jadi aku sedang mood merombak dari awal. Jadi, let's get start something new vibe from this one.

Then, sorry, untuk cerita Who Are You memang, sementara kembali ke draft ruangdasar for a break time.

Muchas Gracias, rders

your rdnym, ruangdasar.


Story of RevengeStories to obsess over. Discover now