Happy Reading, Guys!
.
.
.
.
Aku menyukai bulan.
Entah apa yang membuatku menyukai benda itu.
Apakah karena cahayanya yang paling terang di antara langit malam?
Apakah dia yang paling menonjol saat langit mulai gelap?
Apakah dia yang paling indah di angkasa sana?
Akupun tidak tahu pasti.
Bulan mempunyai makna tersendiri bagiku.
Kakakku.
Mantan pacarku.
Bukan mantan sebenarnya, aku masih sangat menyayanginya sampai sekarang.
Namun, tuhan berkehendak lain.
Tuhan lebih dulu mengambilnya dari kehidupanku.
Dan kematiannya bertepatan 5 hari setelah Kakakku meninggal.
Bulan..
Kumohon..
Sampaikan salam dan rasa rinduku kepada mereka..
-Ra.
Lagi, aku menangis saat membuat puisi di atas gedung tua ini. Di temani green tea latte, keripik pedas, dan sinar rembulan di atas gedung yang sangat terang ini. Kenyataan hidup yang pahit di usiaku yang masih sangat muda membuatku menjadi Selenophile.
Aku tidak terlalu suka bergaul, apalagi keramaian. Aku hanya mempunyai satu sahabat. Dia yang menemaniku sudah sejak lama, dalam suka maupun duka. Kami berteman saat berumur 5 tahun, dan sekarang kami sama sama menginjak umur 16 tahun.
Sahabatku ini sangat membantuku, apalagi satu tahun kebelakangan ini. Satu tahun tersial menurutku. Satu tahun yang membawa bencana dalam waktu singkat. Dan satu tahun yang membuatku berpisah dari semua orang yang kusayangi.
Ponsel yang berada di saku jaketku berdering menandakan ada yang menghubungiku.
"Ra! Sudah jam 10 malam kamu dimana?" Suara Pamanku yang sudah ku anggap sebagai kakak langsung menyambut dengan keras di telinga ku.
"Astaghfirullah, kak! Iya iya sebentar lagi Rara pulang ya."
"Gak ada sebentar sebentar Rara. Kamu dimana? Masih kerja di caffe? Bukit deket sekolah? Atau gedung tua dekat jalan raya?" Senyum ku mengembang. Pamanku satu ini sangat hapal kemana aku akan pergi.
"Di atas gedung, kak. Mau jemput?"
"Iya. Kamu tunggu sana, 15 menit lagi kakak sampai." Lalu sambungan telepon di matikan begitu saja.
Masih 15 menit lagi. Aku menatap kembali ke arah puisi yang kubuat sembari sesekali melihat bulan.
Sungguh. Aku sangat kangen dengan dua orang ini. Entah mengapa. Biasanya rinduku tak membuat aku sampai menangis, tapi sialnya aku malah menangis sambil sesenggukan.
Kubiarkan mataku menangis sedari tadi. Tak perlu takut ketahuan Kak Daniel, karena kalau dia datang pasti akan mengklakson dari bawah. Dan aku akan segera turun.
"Raira."
Aku menghentikkan tangisanku. Jantungku berdegup kencang. Aku sangat tahu ini suara siapa. Aku sangat merindukan suara ini sejak satu tahun lalu. Ku balikkan badan, lalu melihat dirinya tak jauh dari diriku. Tanpa aba aba aku langsung memeluknya sangat erat.
"Revan! Rara kangen sama Revan. Tolong, jangan tinggalin Rara lagi. Hiks..hiks.." Aku menangis di tengah pelukanku.
"Ra! Gue Regan!"
Spontan ku mundur beberapa langkah. Ku amati lagi wajahnya. Setiap incinya. Benar kok! Aku tidak salah orang. Dia Revan ku.
"Kamu Revan kan? Revanialdi Dave Pratama? Iyakan?"
Dia terdiam sesaat. Menatap ku heran bercampur sendu. Ku harap dia mengakui kalau dia benar Revan.
"Bukan, Ra. Gue Regan. Regan Dave."
Aku menggeleng tak percaya. Dia Revan! Aku tidak mungkin salah.
"Kamu Revan! Buktinya nama kamu ada Dave nya. Kenapa kamu tau aku ada disini? Yang tau aku disini cuman Kak Daniel, Selly, dan Revan!"
"Pertama, Gue Regan! Kedua, manusia yang namanya Dave bukan cuma Revan yang lo maksud. Ketiga, gue di suruh Kak Daniel buat jemput lo disini karena mobilnya habis bensin."
"Gak! Rara gak per--"
Sial. Tiba tiba ponselku berdering lagi dan tertera nama Kak Daniel disana.
"Hallo, Ra. Kamu dimana?"
"Di atas gedung."
"Regan belum sampai?"
Aku terdiam. Apa benar ucapannya.
"Hah? Regan? Kenapa bukan kakak yang jemput aku?"
"Mobil kakak habis bensin, mau nyari tapi udah malam. Kamu tunggu aja, bentar lagi mungkin Regan datang."
Bip.
"Gimana percaya?" Ucap pria yang bernama Regan ini.
"Jadi lo beneran bukan Revan?" Dia menggeleng.
"Tadi gue liat lo nangis dari belakang. Mau di lanjut? Kalo kata orang nangis itu dituntasin dulu baru lega, jangan setengah setengah." Ucapnya yang sekarang menduduki sofa di balkon gedung ini. Itu adalah sofa yang sengaja ku taruh.
"Gak mau langsung pulang aja?" Tanyaku.
"Kalo lo nangis di mobil gue gak konsen. Sini duduk." Ucapnya sembari menepuk sisi sebelah kanannya.
Awalnya ku ragu. Namun, benar katanya. Air mataku tidak dapat ditahan lagi. Aku menangis sangat kuat disitu, aku benar benar rindu dua sosok itu. Apalagi yang membuatku semakin bingung Revan sangat mirip dengan Regan. Bahkan tidak ada perbedaan sedikitpun.
"Nangis aja gak papa. Anggep gue Revan yang selalu ada sama lo." Ucapnya sembari menepuk pundakku lembut.
Dan aku.
Hanya bisa menangis disitu.
🌙🌙🌙
Hai semua. Salam kenal.
Ini cerita kedua author btw hehe. Kalau kalian author dari lama pasti kalian tau cerita R and V readersny udah 582 dan author hapus begitu saja HAHA.
Yaudah nikmatin cerita ini aja.
Jangan lupa komen dan votenya sayang. Eaa. G.
-salam author tercintah.
ESTÁS LEYENDO
Selenophile : "You're, Is My Moon"
Novela JuvenilAku adalah Selenophile, seseorang yang sangat amat menyukai bulan Tidak mudah juga menjadi seorang Selenophile, terkadang, aku ditatap aneh oleh orang orang. Karena aku akan menaiki bukit bukit yang sepi ataupun masuk ke dalam gedung tua saat malam...
