10:59 pm
——
Hening.
Seakan sudah lelah dengan apa yang terjadi saat ini, seorang gadis muda terlihat memijit pelan kepalanya sendiri, dengan harapan pening yang ia rasakan dapat berangsur hilang.
"Besok - besok aku ga mau ikut campur lagi lah. Aku salah terus." tutur singkat gadis itu seraya mengambil sling bag miliknya dari dalam lemari.
Raut wajah gadis itu menyiratkan bahwa suasana hatinya sedang tidak baik - baik saja.
"Ya, fine, terserah kamu."
Tanpa menghiraukan ujaran terakhir lawan bicaranya, gadis itu justru melangkah keluar dari kamar tidur miliknya.
Dengan langkah terburu, ia melewati pekarangan rumahnya, menuju jalan yang cukup jauh dari keramaian malam.
Paras cantiknya tertutupi oleh helaian rambut blondish miliknya sendiri, lantaran angin malam yang memburu cukup kencang disekitarnya.
Ia kira dengan mengenakan jaket tebal andalannya dapat membentengi tubuhnya dari suhu kota yang rendah malam ini, nyatanya tidak. Tak dapat dipungkiri, sang gadis masih merasa kedinginan.
Sekiranya sepuluh menit ia berjalan, akhirnya gadis itu menghentikan langkahnya tepat sebelum ia mendorong pintu masuk dari sebuah gerai convenience store.
Sambil menghela nafasnya, ia kemudian berjalan ke area tempat memesan kopi siap minum disana.
"Espresso, satu." katanya.
——
"Taekwoon? Udah tidur?" panggil seorang wanita paruh baya seraya memasuki bilik bercat abu - abu berukuran cukup besar.
Si pemilik lekas bangun dari posisinya, lalu beranjak menghampiri wanita itu.
"Belum. Kenapa, Ma?" tanya pria yang dipanggil Taekwoon tadi pada ibunya itu.
"Mama minta tolong boleh ga?" sang Ibu bertanya balik.
Taekwoon mengangguk, "Apa?"
"Beliin susu kotak di swalayan seberang jalan, dong?" pinta Ibunya.
"Malem - malem gini buat apa nyariin susu kotak?"
"Tadi katanya mau nolongin..." sindirnya.
Taekwoon terkekeh, "Iya, iya."
Setelah itu ia berjalan mengambil jaketnya yang menggantung di belakang pintu kamar, lalu pergi. Tak lupa ia menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Untuk mengurangi jenuh, pikirnya.
Tak butuh waktu lama, pria jangkung itu pun tiba. Mengingat jarak dari rumah ke tujuannya juga dekat, bahkan hanya tinggal menyebrang jalan.
Ia memasuki gerai convenience store yang buka 24 jam dan langsung berjalan ke area dairy, setelah itu mengambil dua kotak susu lalu pergi menuju kasir.
Suasana swalayan sangat sepi dan hening, bahkan sampai-sampai Taekwoon dapat mendengar suara helaan nafasnya sendiri.
Normal memang, sekarang sudah pukul sebelas malam. Siapa juga yang mau pergi ke swalayan pukul segini? Ya, kecuali Taekwoon dan, um... seorang gadis yang duduk di luar ruangan sana sambil menikmati kopinya.
Taekwoon mengarahkan pandangannya pada gadis itu, "Ngapain malem-malem dia disini?" batinnya.
"Totalnya tiga puluh delapan ribu,"
Taekwoon terlalu fokus memandang gadis itu, ia tak mendengar.
"Totalnya tiga puluh delapan ribu," ulang si petugas kasir, dengan suara lebih kencang sehingga gadis disana pun menghentikan kegiatannya dan menengok ke arah Taekwoon.
Taekwoon mulai gelagapan karena kepergok memandangi gadis itu.
"E-eh, berapa tadi?" tanyanya pada penjaga kasir.
"Tiga puluh delapan ribu."
Pria itu lalu mengeluarkan sejumlah uang dari kantong celananya, dan tak lama ia pergi keluar dari tempat itu sambil menenteng sebuah kantong plastik berisi belanjaan.
——
Sampai di luar toko, Taekwoon mendapati gadis tadi sedang duduk di belakangnya dengan satu cup Espresso di atas meja.
Pria itu berusaha mengabaikan keberadaan sang gadis, ia memalingkan wajahnya enggan menatap gadis itu untuk yang kedua kalinya.
Kenapa? Taekwoon malu; tadi ia sudah kepergok curi-curi pandang pada gadis itu.
——
To be continued...
——
(A/N): hai. ini baru opening jadi emg pendek, soalnya nanti kalo panjang panjang takutnya kalian gumoh /gak/
see you!
-vixxly.
ESTÁS LEYENDO
latte | leo
Fanfiction❝ latte-nya satu, ya. ❞ - in which taekwoon gets curious about a girl he met on a convenience store every night, later on he finds out that something unwanted happened to her. - [special chapters will be set as private.] - leo scan (on cover) credi...
