Prolog

229 14 4
                                        

Langit mendung. Sisa titik hujan sejak pagi hingga siang hari tadi masih menetes di ujung atap. Menimbulkan denting tak berirama. Bau tanah pasca hujan selalu menyeruak memberi ketenangan bagiku. Terlebih sudah hampir dua minggu tidak turun hujan di kota ini. Jalanan basah. Dinginnya menusuk tulang. Benar – benar terasa menusuk tulangku.

Kubetulkan jaketku agar lebih rapat ke badan. Kulirik jam tangan merk Guess berwarna hitam yang melingkar cantik di tangan sebelah kiri. Sudah pukul 16.05.

Kupandang kembali jalan raya di depan. Kendaraan berbaris antri menunggu lampu hijau yang tak kunjung menyala. Sama seperti seseorang yang sedang kutunggu saat ini, tak kunjung datang.

Sudah hampir 30 menit berlalu, tapi aku masih duduk sendiri di salah satu sudut cafe lantai dua. Bertema rustic, cafe yang terbuka langsung ke alam ini sudah menjadi tempat favoritku sejak lama.

Demi memotong waktu, yang kulakukan hanya memainkan pinggiran cangkir teh hangat yang kupesan. Walaupun aku tahu sebenarnya tidak akan berdampak apa – apa.

Oh ya lupa, perkenalkan aku Galuh, lengkapnya Galuh Nay Saraswati, usia dua puluh enam tahun. Anak pertama dari dua bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Adikku Fitrah Nay Meirosa, dipanggil Rosa. Usia kami berjarak enam tahun, berarti sekarang dia berusia dua puluh tahun.

Saat ini aku bekerja sebagai karyawan sebuah event organizer. Oh maaf, sebenarnya aku baru saja menjadi pengangguran sekitar satu bulqn ini setelah bekerja kurang lebih satu tahun. Sebelumnya aku bekerja sebagai salah satu pegawai sebuah yayasan swasta yang bergerak di bidang sosial dan cukup ternama di Jogjakarta. Aku bekerja disana selama kurang lebih tiga tahun. Tepatnya setelah aku menyelesaikan sarjanaku.
Karena sebuah alasan, saat itu aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sebelumnya dan pulang kampung.

Padahal saat itu setelah hampir tiga tahun bekerja, karirku semakin membaik diikuti pendapatanku. Terlebih aku nyaman bekerja di sana. Cocok dengan duniaku. Selaras dengan nuraniku. Karena pekerjaanku lebih banyak berada di lapangan, melakukan misi sosial. Dunia yang sudah sejak lama menarik perhatianku.

Sejak kecil di lingkungan keluargaku selalu ditanami pelajaran mengenai pentingnya berbagi terhadap sesama.

Setiap anggota keluarga yang berulang tahun, pasti selalu kami rayakan di panti asuhan dengan berbagi nasi kotak buatan ibu sendiri. Ya, ibuku punya usaha katering kecil – kecilan. Kalau Bapak hanya pegawai negeri sipil biasa.

Aku juga suka membaca sedari kecil. Bapak lebih menyukai anaknya menghabiskan waktu di rumah untuk membaca daripada melihat anaknya bermain di luar siang hari hanya menggunakan singlet dan celana dalam saja. Untung saat aku masih kecil belum ada ponsel dan internet seperti sekarang. Kalau tidak, bisa kupastikan Bapak akan menyingkirkan barang itu jauh – jauh dari anaknya.

Sebelum masuk TK aku bahkan sudah berlangganan majalah Bocil (Bobo Kecil). Lalu setelah bersekolah langganan majalah diganti menjadi Bobo hingga  aku kelas 4 SD. Dan baru berhenti langganan majalah – majalah mingguan seperti itu saat aku lulus SMA dan merantau untuk kuliah.

Berlangganan majalah sejak kecil adalah salah satu cara Bapak mengajarkan anak – anaknya mencintai membaca. Cara lainnya, Bapak selalu menjatahkan kami anak – anaknya untuk membeli buku setiap bulan di toko buku terbesar dan satu – satunya di kota tempatku tinggal. Kami bebas membeli buku apa saja sesuka kami. Sehingga kalian pasti bisa menebak ada berapa banyak tumpukan majalah dan buku di rumahku.

Karena itu, saat aku duduk di bangku kelas 4 SD aku berinisiatif membuka perpustakaan gratis di garasi rumah. Bukunya tentu saja dari buku – buku dan majalah anak – anak yang aku miliki sejak kecil.

Saat SMP, aku bersama beberapa temanku membuka sekolah jalanan untuk anak – anak yang tidak mampu bersekolah karena faktor ekonomi. Setiap hari Senin hingga Jumat, setelah pulang sekolah kami ke daerah kolong jembatan terbesar tak jauh dari sekolahku. Di kolong jembatan itu banyak dihuni pemulung dan keluarganya yang membangun rumah sederhana (jika layak dikatakan rumah) dari triplek. Anak – anak pemulung yang rata – rata masih kecil kebanyakan tidak sekolah. Aktifitas mereka sehari – hari biasanya hanya menemani dan membantu orangtua mereka memulung sampah. Dikarenakan iba terhadap nasib mereka, akhirnya kami secara sukarela memberikan mereka pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Pelajaran dasar sekali.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan, mengingat kami saat itu hanyalah anak SMP. Tapi setidaknya dengan apa yang kami bagi kepada anak – anak tersebut dapat membantu mereka memiliki pengetahuan dasar untuk dapat melanjutkan hidup kelak ke depannya. Dan tentu saja, kami berharap masa depan yang cerah akan berpihak kepada mereka suatu hari nanti.

Anak – anak itu pun antusias. Walau jumlah mereka tak banyak, mungkin sekitar sepuluh orang, namun tidak menyurutkan semangat mereka. Itu pula yang aku dan teman – teman rasakan saat itu. Begitu bersemangat membantu dan bertemu mereka.

Syukurnya, orangtua mereka pun tak melarang. Malah berterimakasih kepada kami. Bahkan ada diantara mereka yang bertanya, apa mereka juga boleh ikut bersekolah. Ternyata tak sedikit juga dari para pemulung tersebut yang bahkan tak sempat mencicipi bangku sekolah.

Begitulah dulu keadaan di kolong jembatan kota tempat tinggalku itu. Beberapa tahun lalu saat aku sudah kuliah dan merantau, kolong jembatan tersebut disulap sedemikian rupa oleh pemerintah menjadi salah satu taman tempat wisata yang pada sore hari ramai dikunjungi anak – anak muda. Kini, aku tidak tahu lagi di mana keberadaan mereka.

Kegiatan mengajar sukarela itu berhenti ketika aku masuk SMA. Aku bergabung dan aktif dalam sebuah komunitas sosial di kota tempat tinggalku sebagai relawan. Aku juga aktif dalam organisasi sekolah dan beberapa kegiatan ekstrakurikuler. Berbagai kesibukan yang menyita waktu tersebut dan berbagai tugas sekolah lainnya membuatku kesulitan membagi waktu. Terakhir yang kuingat kutitipkan amanah kepada teman – temanku yang masih memiliki waktu untuk mengajar mereka. Meskipun sesekali aku kadang tetap mampir jika ada waktu luang.

“Permisi Mbak, apakah sudah mau pesan makanan sekarang?” Tanya seorang pelayan perempuan berseragam cokelat yang datang menghampiriku.

Senyumnya manis, dihiasi tahi lalat di atas bibir sebelah kiri. Rambutnya yang sebahu terurai rapi. Kira – kira usianya masih awal dua puluh tahun seumuran dengan adikku Rosa.

Kugelengkan kepala sambil membalas senyumannya, “Maaf Mbak, nanti saja ya.”

“Baik Mbak, kalau nanti mau pesan makan atau minum lagi Mbak bisa panggil saya atau teman saya ya. Menunya saya tinggalkan saja disini. Permisi,”

Pelayan itu undur diri dari hadapanku masih dengan menyunggingkan senyum manisnya.

Kualihkan pandanganku kembali ke jalanan di depan cafe. Kini mataku terpaku pada sepasang laki – laki dan perempuan yang berboncengan di jalan raya. Sang perempuan memeluk mesra pinggang laki – laki di depannya. Dan sang laki – laki sesekali menolehkan wajahnya ke perempuan di belakangnya. Mereka asyik mengobrol dan tertawa – tawa di atas motor.

Aku tersenyum tipis menyaksikan pemandangan tersebut. Tentu saja aku pernah pula merasakan yang demikian seperti mereka. Beberapa tahun yang lalu. Namun sekarang semua hanya tinggal kenangan. Kenangan yang selama ini, khususnya setahun belakangan ini selalu menghantui pikiranku. Kenangan dengan seseorang yang namanya membekas di ingatanku hingga sekarang. Kenangan yang ingin kuhapus, tapi tidak pernah bisa. Kenangan yang semuanya bermula dari delapan tahun yang lalu.

--000--

Halo, ini tulisan pertama yang aku publish.
Cerita yang terinspirasi dari kejadian nyata sih, yang aku modifikasi dan tambahin beberapa bumbu agar lebih menarik untuk dibaca.
Semoga suka ya.
Saya juga welcome untuk kritik dan sarannya. Agar bisa menulis lebih baik lagi.
Oh ya, karena ada sedikit perubahan plot maka cerita di prolog ini ada yang sedikit berbeda.
Terimakasih 😊 selamat membaca

Hidup Untukmu, Mati TanpamuDes histoires addictives. Découvrez maintenant