Karya : Nabila Dzikrifani
"Kenapa... kenapa harus aku yang harus menimpa semua ini..?" (suara hati berkata) air mata pun mulai menetes.
"Zata.. kamu dipanggil Bu Tina, kata Bu Tina kamu ke ruang kepsek sekarang" ucap Ziro sang ketua kelas 8Z.
Aku pun langsung menghapus air mata dan menuju ruang kepsek.
"Jadi begini Zeta.. Ibu dapat kabar bahwa........" Kata Bu Tina sang kepala sekolah.
Tak lama saat kami berbincang bel pulang pun berbunyi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ?.. kemana.. kemana orang yang selalu ada disampingku dan meredamkan emosiku ketika aku marah, sedih... sekarang tidak ada lagi orang yang peduli denganku, mereka hanyakah peduli dengan pekerjaannya, mengumpulkan duit untuk membeli barang – barang yang sudah dimilikinya, aku memang sesorang yang tidak ditakdirkan ada didunia ini, aku bodoh, tidak memiliki teman, kemampuanku biasa – biasa saja." Curhatku kepada sang pencipta.
Tiba – tiba terlihat sosok putih yang berada di pojok tempat tidurku. Aku pun mendekatinya, karena penasaran dengan hal itu.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat wajah perempuan berbaju putih itu.
"Ibuu... mengapa kau disini, dmana ayah ?, kata Bu Tina kalian sedang pergi ke Kalimantan untuk mengurus perusahaan tambang kalian..."
"Apakah ibu pernah tahu, bahwa di saat ini aku membutuhkan ibu dan ayah.." ungkapan rasa kecewaku kepada ibu sambil duduk di depan cermin.
Daakk... (Suara jendela kamar tebuka lebar dan diiringi hembusan angin yang sangat kencang).
Aku pun menoleh dan..
"Kemana Ibu.. Ibu memang tiak memperdulikan ku lagi.., apa guna aku hidup?" rasa kecewaku yang masih memendam.
"Tapi bagaimana ibu keluar melalui jendela ?, apakah ibu loncat dari lantai tiga?" aku pun berfikir ulang mengenai hal itu.
"Itu bukan ibu..., ibu selalu mengenakan cincin pernikahan yang di berikan ayah dan kalung pemberian almarhum nenek yang tidak pernah dilepasnya sampai ... Lalu dia siapa, mengapa wajahnya sangat mirip seperti ibu ?" aku sangat bingung.
Tokk.. tok... tok...
Aku pun membuka pintunya dan tiba – tiba bayangan putih kembali dan mengarahkanku pada laci putih di dekat jendela kamar yang tidak pernah ku buka sama sekali setelah ulang tahun ku lima tahun yang lalu.
Aku pun membuka laci dan membaca surat berwarna kuning emas yang bertulisan Zeta My Love dan aku pun segera membukanya.
"Zeta sayang.. maaf kan ibu dan ayah yang selama ini selalu sibuk dengan pekerjaan kita. Kamu jangan sedih mengenai nilai kamu, kamu harus terus belajar, semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, jangan pernah memedulikan orang yang sering mengejekmu, diluar sana masih banyak orang baik dan satu lagi, Zeta yang kamu fikirkan tentang kemampaun yang tidak ada pada dirimu itu salah, maafkan ibu dan ayah yang harus merahasiakan ini, sebenarnya....."
(membalik surat dengan rasa penasaran)
"Saat ibu mengandung kamu, ibu pernah terpeleset saat hujan deras turun di taman, ibu pingsan dan dibawa oleh ayahmu ke UGD, beberapa jam kemudian ibu sadarkan diri dan dokter mengatakan bahwa tidak terjadi apa – apa. Tapi setelah kejadian itu ibu merasakan hal aneh terjadi pada kita. Mulai saat itu ibu bisa melihat kembaran kita, ia meniru apapun dari kita mulai dari pakaian sampai sifat, tetapi ia berada di alam yang berbeda. Ibu mencari tahu apa arti itu semua. Dan ternyata memang benar , dan ia akan keluar apabila kita benar – benar membutuhkan bantuannya dan saat kita sudah tidak ada."
