Chapter satu : Kenyataan.
Annabella.
Ada dua hal yang kupikir tidak akan pernah menjadi takdirku;ditinggal mati suami dan menjadi pimpinan perusahaan untuk menggantikannya.
Dari sekian banyak kemungkinan yang bisa saja menimpaku, Tuhan memilihkan penghukuman yang paling tidak bisa aku terima. Aku baru saja berdiri dengan gaun duka hitamku kemarin, menatap hampa pada tanah yang mengubur tubuh pria yang kucinta, tapi saat ini ... aku justru berdiri dengan setelan hitam yang sama, untuk penghukuman berbeda.
Mata-mata menyelidik penuh nafsu memindaiku, seperti aku adalah barang mahal keluaran terbaru. Di antara serakah dan marah, aku memilih untuk tetap menengadah, aku tidak ingin memperlihatkan sisiku yang sudah kalah.
"Hari ini, Harrington Group akan merilis pernyataan resmi," ucap Elliot, pria yang selama ini kupanggil ayah.
Atau setidaknya, seperti itulah perannya yang selama ini kutelaah.
"Annabella, putriku, sekaligus istri sah Louis Harrington, resmi menjadi CEO Harrington Group mulai hari ini."
Suara tepuk tangan menggema di ruangan. Familiar, tapi tidak sehangat seperti saat Louis berada di sisiku.
"Untuk merayakan ini ... aku sudah menyiapkan jamuan makan ma-"
"Untuk apa merayakannya, Ayah?" Mulutku bergerak begitu saja.
Ayah yang berdiri di depan podium segera menatapku tajam, kemudian berdeham, sebuah kode agar aku tetap diam. Aku tidak berpaling, tapi bisa kurasakan panas mulai memenuhi pelupuk mataku yang kering.
Orang-orang ayah mulai membantu para komisaris meninggalkan ruangan, menuju ruang istimewa dengan makanan mahal yang mereka sebut "perayaan". Konyol. Menantunya baru saja mati kemarin. Tapi dia sudah bisa bersikap seolah Louis itu hanyalah anomali asing.
Aku meremas tanganku, jika saja aku bisa memberinya sesuatu yang lebih keras daripada pukulan panas pada besi, aku sudah pasti akan melakukannya. Aku tidak takut terperangkap di balik jeruji karena melakukan hal gila itu pada ayahku, tapi aku perlu tahu apakah dia terlibat dalam kematian suamiku. Dia adalah pembenci Louis nomor satu. Tidak ada motif yang lebih tercium baunya daripada harta dan kekuasaan.
Namun sialnya, akupun tak memiliki bukti atau saksi untuk menariknya ke lubang penghakiman yang keji.
"Nona Blake."
Aku menoleh, otot-otot tanganku melemas. "Ya?"
"Tuan Addams ingin Anda segera menyusulnya ke ruangan." Itu orang ayahku. Aku sering melihatnya di kantor. Dia tersenyum dan warna lipstiknya benar-benar mencolok. "Bolehkah saya?"
"Aku akan pergi sendiri. Terima kasih."
"Baik, Nona." Dia berbalik, tapi dalam sepersekian detik, wajahnya kembali menelisik. "Maaf, Nona. Ada seorang tamu VVIP yang juga menunggu Anda di sana."
Sebenarnya aku tidak tertarik, tapi kuanggukkan kepalaku dan kubalas, "Ya."
Setelah kepergiannya, aku menghela napas cukup panjang. Kulihat sekeliling, dinding kaca yang biasanya memudahkanku melihat ke dalam saat Louis memimpin perusahaan, kini justru berada dalam genggaman. Aku beranjak. Meski enggan, aku terpaksa masuk ke ruangan perayaan.
Pesta. Ini pesta.
Mataku menangkap pemandangan pesta untuk orang-orang ayahku di sana. Makanan mahal, alkohol kelas atas dan bahkan pemusik yang bisa kutebak bayaran penampilannya lebih dari ratusan ribu dollar, semuanya berkumpul di sana.
Kenapa Ayah sampai membuat pesta semeriah ini, hanya untuk menyambutku sebagai pengganti suamiku sendiri?
Dia bahkan hanya berdiri lima menit di pemakaman suamiku sendiri.
"Annabella!"
Ayah mendekat, dia membawa sampanye di tangannya. Aroma alkohol menyeruak saat dia tertawa di depanku.
Sambil mengangkat gelasnya, dia berkata, "Kau sudah berkabung selama beberapa hari. Lihat wajahmu, sudah seperti mayat hidup. Bersenang-senanglah."
"Bersenang-senang?" Aku mendengus kasar. "Suamiku baru saja mati, dan kau memintaku ... ck, bisakah kau sedikit menghormati keluarga Louis, Ayah? Setidaknya berpura-puralah sedikit seolah kau peduli dengan mereka, juga denganku."
Tapi pria ini tertawa lagi. Tidak ada empati sama sekali.
"Ayolah, Bella." Tangan dengan sampanye itu menunjukku, "pernikahanmu dan Louis jelas hanya untuk kepentingan politik dan bisnis. Jangan terlalu lama terjebak dalam khayalan di dalam kepala."
Aku menatap tajam. "Ini bukan khayalan, Ayah. Perasaanku kepada Louis itu sungguhan. Aku mencintainya!"
Tiba-tiba saja tangannya mencengkram daguku, membuat pandanganku terkunci hanya pada matanya yang menjijikan. "Dengar ini, Annabella. Kau adalah alatku untuk menguasai separuh bisnis keluarga Harrington." Dia mencengkramnya lebih keras saat aku berusaha melepaskan diri. "Itu sebabnya kita ada di sini. Kita berdua. Jadi jangan berpikir jika kau lebih suci dariku. Kau mengerti?"
Ayah melepaskan tangannya dariku, tapi rasa ngilu dari kukunya yang menusuk, masih sama seperti dulu. Aku menelan ludah, menatapnya dengan dada yang begitu sesak. Sumpah serapah ada di ujung lidah, tapi aku terlalu munafik jika mengatakan hanya pria itu yang picik.
Dia benar. Si berengsek itu benar. Aku adalah alatnya dan itu sebabnya Louis mau menikahiku. Itu sebabnya seluruh aset dan bahkan perusahaan ini menjadi milikku.
Aku berdeham. "Aku akan pulang sekarang."
"Tunggu, tunggu." Ayah mengangkat telunjuknya ke udara, dia letakkan sampanye di meja terdekat sebelum kemudian meletakkan tangannya yang kotor itu di pundak kananku. "Aku ingin kau bertemu dengan seseorang, Bella."
Aku menoleh, menatap Ayah yang berdiri tepat beberapa senti di sisiku. Lihat dia, tidak ada kesedihan sama sekali. Pria ini benar-benar bajingan!
Mataku kembali memanas, haruskah aku mencekiknya sekarang?
"Lihat ke sana! Di ujung meja itu." Aku segera menyeka air mata yang bahkan belum sempat jatuh dari tempatnya, dan menoleh ke arah yang ditunjuk Ayah. Ke ujung meja ruangan ini.
Ke arah seorang pria yang duduk dengan jas hitam pekat, jauh dari kerumunan elit-elit berbau pengkhianat. Mataku menyipit, membuat pandanganku menyempit.
Siapa dia?
"Dia adalah Xavier De Luca," jawab Ayah seolah dia bisa mendengar isi kepalaku.
"Siapa dia?" tanyaku ragu.
"Dia adalah orang yang mengendalikan setengah politisi di kota. Tapi lebih dari itu, dia adalah monster yang menguasai kehidupan bawah tanah." Ayah mendekat, suaranya merendah. "Aku ingin kau menikahinya, Annabella."
••••
YOU ARE READING
The Dead CEO's Wife
ActionAda dua hal yang tidak pernah kupikir akan menjadi takdirku, ditinggal mati suami dan dipaksa menikahi suami baru yang ternyata adalah seorang mafia kejam tak berperasaan.
