Hidup tak selalu menjadi cerita indah untuk dikenang. Ada kalanya merasakan kesenangan dan ada juga merasakan pahit getirnya kehidupan. Kita tahu manusia tidak sempurna. Kita tahu manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Walaupun begitu mereka akan saling mengerti dan memaafkan. Terkecuali aku. Mereka mengutukku dengan hakim sendiri. Mereka membakarku hidup-hidup.
Namaku Tanee Margareth. Ijinkan aku untuk menceritakan kisah ini. Jangan dibaca kalau kau takut menyesal. Namun, jangan pernah dimaknai dengan pemikiranmu sendiri
(I see you in here. Look me if you can...)
***
Street Van Gutsch, 21th April 1913
Namaku Carvaline Lugwids. Saat itu aku berusia 5 tahun. Aku tinggal bersama ayah dan kedua ibu tiriku. Ibu kandungku meninggal karena serangan jantung. Aku membenci ibu kandungku. Dia jahat. Dia begitu tega melihatku tersiksa. Dia sering menampar, memukul, mencubit, dan membantingku. Aku senang dia mati. Kau tahu kenapa dia terkena serangan jantung? Karena dia melihatku menggunting kepala burung merpati kesayangannya. Itulah kebahagiaanku.
Ibu tiri pertama bernama Lucia Valent. Dia baik tetapi sedikit cerewet. Dia menyayangiku jika aku tidak mengadukan perbuatan buruknya kepada ayah. Kau tahu, setiap malam dia bermain judi dan membawa pacarnya yang menurutku anak muda dan tampan. Ku dengar, dia akan menjodohkanku dengan salah satu 'mantan'nya. Tapi tidak yang tampan menurutnya.
Ibu tiri kedua bernama Brygita Angeline. Dia baik tetapi sedikit pemarah. Dia menyayangiku jika aku tidak mengadukan perbuatan buruknya kepada ayah. Kau tahu, setiap malam dia bermabuk-mabukkan dengan teman-temannya. Semuanya laki-laki tidak ada satupun perempuan. Jika Lucia berpesta ria di lantai dua maka Brygita menguasai lantai tiga dan empat. Setelah berpesta, Brygita memberikanku segenggam uang. Dia bilang, "Meskipun aku sudah menikah dengan ayahmu tidak lantas membuatku berhenti dari pekerjaanku. Ini setoran pajakku," ucapnya seraya mencium pipiku dengan bibir yang berbau alkohol. Sungguh menjijikkan!
Aku bahagia. Aku senang ayah tidak pulang ke rumah. Maka semakin ramai menumpuk uang saku yang akan ku dapatkan. Mungkin tidak dengan sebagian orang.
***
Hari ini aku sendirian di rumah. Lucia dan Brygita masing-masing berlibur dengan pacarnya. Lucia berlibur ke Florida dan Brygita berlibur ke Brazil. Kurasa mereka mendapat 'proyek besar'. Maka aku pun akan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat. Syukur saja ayah tidak pulang. Dia selalu sibuk dengan urusan London. Baguslah, aku senang hidup seperti ini.
"Lihatlah, anak penyihir itu. Keluarganya sudah sangat rusak dan tidak terurus. Aku miris melihatnya."
"Benar sekali. Aku semakin jijik melihatnya."
"Dia sungguh memalukan."
"Ritual ibunya membuat anaknya sengsara."
"Bila dia bercerita merpati, kita harus menjauh. Sama saja membangkitkan ibunya."
"Hidup kedua kali akan membawa petaka."
Aku yang mendengar bisikan-bisikan mereka menjadikanku jengkel luar biasa. Apa maksudnya mengatakan anak penyihir? Dasar mulut buruk rupa!
***
Setelah kepulangan mereka berlibur, ditengah malam yang sepi rumahku tidak ramai. Lucia dan Brygita duduk termenung di balkon atas. Aku pun ikut sejenak. Mereka terdiam membisu. Wajah mereka pucat pasi. Aku heran.
"Hai, Valine. Duduk sini, sayangku," tawar Lucia.
"Kenapa tidak berpesta? Apa kalian sudah cukup kaya?" ejekku.
"Ini bulan purnama merah. Darah segar kami akan terhisap oleh iblis jahat," ucap Brygita.
"Jangan bercerita kepada siapapun. Karena merpati ibumu akan kembali hidup."
"A-aku tidak mengerti."
"Ibumu seorang penyihir. Perlakuan kasar kepadamu adalah ritualnya setiap hari. Tapi kau telah berhasil membunuh merpatinya."
"Sebenarnya, kau telah mati. Kau tak sengaja memecahkan guci bangsawan sehingga kau dibakar-bakar hidup-hidup. Lalu ibumu bersekutu dengan ritual hitam."
"Dan perbuatan kami adalah sebagai tumbal agar kau masih hidup."
"Kalian siapa sebenarnya? Lalu laki-laki yang datang—"
"Kami anak dari bangsawan itu."
"Laki-laki yang datang ke rumah ini mati. Darah mereka telah kami hisap dan kami salurkan kepadamu."
"A-aku tidak mengerti."
"Ayahmu tidak di London. Ayahmu lah bangsawan itu. Dan ibumulah penyelamatmu. Tapi kau malah membunuh merpatinya."
"Dan ini adalah saatnya."
"Kami akan mempersembahkanmu untuk purnama merah."
Lucia dan Brygita pun berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Mereka terlihat cantik walaupun menggunakan gaun pengantin berdarah. Semua samar seperti buruk rupa. Aku langsung melompat dari balkon atas. Aku pun terjatuh terguling-guling. Namun, aku masih hidup. Kami berkejar-kejaran. Aku berupaya mencari orang. Untuk menceritakan detail agar merpati kembali hidup. Aku baru tersadar tetangga siapapun itu tidak akan mendengarkan ceritaku. Mereka salah kaprah. Bagiku mendengarkan ceritaku tidak membawa petaka. Mereka hanya takut untuk digantikan.
***
Street Melody, 21th January 2013
Di suatu rumah yang indah nan megah akan ditempati keluarga baru. Antony dan Syaile tidak memiliki anak. Mereka mengadopsi anak dari panti asuhan biarawati Anne dan merawatnya hingga beranjak balita. Hidup mereka sangat harmonis. Tidak ada masalah sedikitpun. Tetapi, ada seseorang ingin menemui temannya dahulu. Ini adalah awal pertama dari sebuah masalah yang harus diselesaikan. Patricia banyak mengalami hal yang tak sewajarnya.
"Ibu, aku melihat dua orang yang sedang menatapku. Mereka bermain merpati," ucap Patricia kosong.
"S-siapa?"
"Teman sepermainanku," ucap Patricia dengan bola mata terbalik.
Syaile pun berteriak kesurupan. Patricia berhasrat ingin menggunting telinganya. Sekejap listrik pun padam. Patricia tertidur lelap dan tak pernah bangun.
Beberapa bulan kemudian (21th April 2013)
Patricia terbangun tepat tengah malam. Badannya langsung terbanting dari balkon atas. Syukurnya, biarawati Anne berhasil mengendalikannya.
"Tanee adalah remaja berusia 17 tahun. Dia pacar laki-laki yang ingin Lucia jodohkan padaku. Dia pendengar yang baik. Aku pun pendengar yang baik. Dia selalu bercerita mimpi yang mengagumkan," ucap Patricia saat kerasukan korban guci bangsawan.
YOU ARE READING
BREAK DREAMS
HorrorNamaku Tanee Margareth. Ijinkan aku untuk menceritakan kisah ini. Jangan dibaca kalau kau takut menyesal. Namun, jangan pernah dimaknai dengan pemikiranmu sendiri (I see you in here. Look me if you can...)
