"Sudah saatnya Sam.."
"Kau akan jadi yang pertama, putra Levi Uley"
"Sam! Kau tak bisa meninggalkanku!"
"Sekarang, sekarang"
"Aaaaarrggggghh!"
Udara segar kuraup banyak banyak memasuki paru paruku yang kembang kempis terengah-engah.
Mataku menyapu pemandangan familier ruangan sempit bercat krem usang. Ya, ini kamarku.
Segera kupanjatkan syukur setelah menyadari mimpi tolol itu enyah sepenuhnya dari benakku.
Brengsek! Aku bahkan baru tidur selama dua jam.
Sampai kapan mimpi itu bakal mendatangi tidurku yang singkat? Mimpi yang sama diulang ulang seperti film rusak tentang bagaimana aku terikat dengan mitos mitos tolol yang bahkan tak pernah ku yakini, sama sekali.
Tanganku mengusap usap wajah penuh peluh ini dengan gusar.
Kubenamkan wajahku di antara kedua lutut sebentar, masih berharap bayang bayang mimpi itu enyah sepenuhnya.
Setelah memastikan aku sudah berada di dunia yang benar, pelan pelan aku bangkit lalu berjalan tertatih ke kamar mandi.
Tampaknya aku tidak terlalu menikmati ritual pagi itu, hingga tak sadar bahwa waktu sangat cepat berlalu.
kini kudapati diriku sedang mengikat tali sepatu boot usangku yang kekecilan, masa bodoh.
Toh sebentar lagi aku akan lulus.
Jalan aspal sedikit berlapis es disana sininya, sisa hujan semalam membeku rupanya.
Terlalu pagi agaknya aku tadi terbangun, sekolah masih sangat lenggang dan sepi ketika aku sampai disana.
Seorang gadis berkulit tembaga melambaikan tangannya padaku, ia menyunggingkan senyuman semanis madu dengan bibirnya yang penuh, dan tipis.
Aku berjalan gontai menghampirinya.
Sejenak mengamati apa yang dikenakannya hari ini saat jarak kami tak lebih dari tiga meter. Kaus abu abu dibalut sepotong parka coklat dan jins usang, sederhana, dan cantik.
"Selamat pagi Leah"
Ku rengkuh tubuh mungil dihadapanku-- tidak mungil sebenarnya, karena Leah termasuk cewek berbadan bongsor di reservasi. Tapi yeah, aku memang pria yang terlalu besar untuknya. Bukan, aku bahkan terlihat lebih besar dari anak anak lain di reservasi.
"Wow, kau datang lebih awal bung" katanya sembari meninju pelan perutku.
"Yeah, kurasa. Kau juga?"
"Oh, aku hanya tidak mau mengantarkan Seth berangkat sekolah" aku memilin jari jarinya sambil berjalan menuju kelas pertama kami.
"Kenapa lagi anak itu?"
"Kemarin dia diganggu oleh anak anak yang tubuhnya lebih besar dari dia, kau tau? Seth membuat mereka semua babak belur Sam. Kuharap minggu depan ia membuat anak anak itu kencing di celana" suara Leah yang merdu menjadi pusat antusiasmeku pagi ini, tidak, bukannya aku tak tertarik pada ceritanya, setidaknya dia membuatku sedikit melupakan mimpi tolol tadi.
"Dan Sue menyuruhmu mengantarnya karena khawatir mereka akan balas dendam, begitu?"
"Yeah, begitulah. Seth memang selalu merepotkan, tapi ku akui Sam! Aku bangga dia bisa berantem sekarang"
"Kurasa itu juga alasanmu tak ingin mengantarkannya, kau ingin melihatnya mencederai anak anak itu, bukan?" Dia tertawa geli.
"Kau tau, dia itu kecil, tapi bisa membuat anak orang babak belur, itu sebuah pencapaian Sam, hanya mom saja yang terlalu memanjakannya seperti anak TK"
"Haha! lucu sekali lee lee ku ini" aku tertawa dan dia tersipu malu.
"Apa kau merasa sehat Sam?" Leah mengangkat tangan kami, lalu menggenggam tanganku dengan satu lagi tangannya yang bebas.
"Tentu saja, kenapa? Apa ada yang salah?" kulihat ia memutar bola matanya.
"Aku tau tubuh raksasa mu ini memang aneh dan hangat Sam, tapi serius, apa kau tidak merasa terlalu panas sekarang? Oh, maksudku apa kau tak merasa demam?" Sekarang nadanya terdengar serius, agak cemas.
Aku memang merasa aneh akhir akhir ini, ada sesuatu didalam dadaku yang membara ketika amarahku tersulut, sesuatu yang mulanya hangat, lama lama jadi terasa menyengat. Seperti hendak meledak.
Emosiku juga mendadak susah sekali di kontrol, sedikit saja tersenggol akan mudah menyulut sesuatu aneh dalam diriku. Aneh, dan seperti agak gatal ingin meledak.
"Aku baik baik saja Leah, tak perlu cemas begitu. Tapi, entahlah.. akhir akhir ini aku memang merasa agak aneh, aku cepat sekali marah" kami duduk di bangku penonton di sekitaran lapangan kasti sekolah.
"Bagus, kau membuatku khawatir sekarang" kata Leah cemberut, aku tau dia cemas dan khawatir. aku merapatkan tubuhnya, membuat badan itu sepenuhnya bertopang pada lenganku.
"Kau melakukan sesuatu yang tak perlu, aku sehat, sayang" bisikku lembut ditelinga nya, pipinya memerah kulihat, dia tersipu.
"Sam, jangan panggil aku seperti itu di sekolah" suaranya juga tak kalah pelan, tapi wanita ku ini tak bisa menyembunyikan nada senang didalamnya.
Bugh!
Sebuah benda bundar sepersekian detik melesat menghantam wajah Leah, diiringi pekikan kagetnya juga darah yang serta merta mengucur dari hidungnya.
"Apa yang kau lakukan bangsat!" Aku berdiri, memandang seorang cowok yang berlari menghampiriku dan Leah, air mukanya panik, dia pemilik bola keparat yang barusan menghantam wajah Leah.
"Oh astaga Leah! Aku sangat minta maaf! Aku tidak sengaja, oh astaga darahnya, ah sial! Maafkan aku Leah" cowok itu melewatiku begitu saja, langsung menghampiri Leah yang mengaduh kesakitan, darahnya tak mau berhenti.
Tanganku mencengkram pundaknya yang memunggungiku, ku angkat dia tinggi tinggi dengan satu tanganku bertengger di kerah bajunya.
"Apa yang kau lakukan Paul, brengsek!"
Mataku rasanya sangat berkabut, ditutupi amarah yang memuncak. Ku dapati cowok brengsek ini mencekal pergelanganku, terlihat mempertahankan diri agar tubuhnya tak melayang ke udara.
"Aku tidak sengaja Sam, sungguh! Bolanya terlalu cepat!" Dia gelagapan.
"Bolanya katamu?! Aku akan mematahkan kaki tolol mu itu yang berani menendang bola sekeras itu hingga melukai Leah ku!"
Panas, panas sekali rasanya.
Tubuhku seperti ingin meledak, mulutku tak terkendali, aku ingin teriak.
Sesuatu dalam dadaku rasanya makin membesar, mendesak, aku hampir kehabisan oksigen.
Mata Paul melotot ketakutan, bukan! Dia tampak shock melihat tubuhku, bukan kata kata yang barusan ku lontarkan.
Dia makin terperajat seiring tubuhku yang mengejang, bergetar hebat hingga tubuh Paul di cengkramanku ikut bergerak.
Panas, aku terbakar!
Ku lempar dia ke tanah, aku berlari secepat yang ku bisa, menerobos pagar pembatas dan berlari ke hutan.
Apa apaan ini!
Aku terus berlari masuk makin dalam ke hutan, rasanya aku akan meledak!
***
YOU ARE READING
THE SIDE [ QUILEUTE WOLF PACK ] TWILIGHT SAGA FANMADE
WerewolfAloha! Ku beritahu pada kalian, ini adalah bentuk kecintaanku terhadap serangkaian karya menakjubkan stephenie meyer, oh aku sangat mengidolakannya! Aku tau, kalian yang sedang membaca ini adalah kalian yang mengetik di papan pencarian tentang apap...
![THE SIDE [ QUILEUTE WOLF PACK ] TWILIGHT SAGA FANMADE](https://img.wattpad.com/cover/154939945-64-k952365.jpg)