Lagi, malam ini Jungkook bertemankan dengan deru knalpot motor yang membubung tinggi melintasi malam. Berbagai macam jenis motor yang telah di modifikasi sedemikian rupa, menyatu hingga menghasilkan karya seni tersendirinya.
Hari ini, selasa pukul 11 malam adalah kata-petang- yang cocok untuk mereka. Berkumpul di tempat biasa menjadikan teritorial wajib.
"Jungkook."
"Hm?"
"Mereka datang." Mingyu yang duduk disebelahnya mengendikkan dagu.
"Arah jam 9." Lanjut Taeyong.
Jungkook menoleh dari Smartphone-nya, mengabaikan kegiatan awal 'izin' pada sang terkasih.
Bragh
"10 juta won, jalan Burgin." Tipe tanpa basa-basi dari seseorang yang kedatangannya sangat di tunggu, Wu Yifan.
"Gila." Sahut Mingyu, "Tebing dengan jalan yang cukup satu mobil truk! kalau mau mati, sana sendiri."
" Jung?"
Menjadikan Jeon Jungkook yang hadir dengan seringaian tipis;meremehkan.
"20, Deal." Dengan sebelah alis yang terangkat, menatap tajam pemuda di depannya.
"Deal. Tiga kali putaran arena batas jembatan gantung."
Dan anggukan sebagai jawaban.
.
.
.
Jalan Burgin, siapa yang tidak tahu?Betapa mengerikan dengan tebingan setinggi 200 meter. Jalanan sempit yang memiliki tikungan tajam, banyak yang lebih memilih menghindar dari pada menyapa jalanan ini. Memilih berputar arah dari pada melihat turunan tajam dari jalanan.
Tidak ada lampu jalan di kala malam, tidak ada rumah penduduk yang akan datang membantu untuk sekedar;menyapa aspal. Salah satu pinggiran jalan yang dapat dilihat dengan mata telanjang terjun bebas menyapa hutan.
Pohon tinggi yang mencapai ratusan meter menemani, tidak ada Polisi lalu lintas yang mengatur, tipikal jalanan lintas lama yang sekarang keberadaannya sangat mengerikan untuk di jejak oleh roda empat dan dua. Hanya truk pengakut sampah yang melintas untuk di buang ke tempat pembuangan akhir.
Tipe jalanan yang patut di hindari.
.
.
.
.
Deru motor yang membumbung tinggi menjadikan atensi seluruh orang disana fokus pada barisan arena balap.
Terlihat seorang wanita dengan pakaian sedikit terbuka memegang bendera di atas motor. Awal sebagai tanda permainan akan segera dimulai.
Dentuman musik yang sengaja bervolume maximum sebagai ciri khas;menikmati suasana.
Jeon Jungkook yang dengan tampannya terlihat tenang di atas motor, mata tajam di balik helem retro menatap arena jalanan yang akan menjadi sirkuit tempatnya bertanding.
Tangan dengan santai diatas handlebar terlihat sangat luar biasa gagah tidak terlihat gugup sedikitpun.
Biasa, sungguh satu hal yang sangat biasa mengikuti balap liar di malam hari. Tidak ada hal yang menakutkan bagi Jungkook di dunia ini, terkecuali untuk sang terkasih mungil yang mungkin malam hari ini telah terlelap dibalik selimut tebal bergambarkan Cooky--Kelinci merah muda kesayangannya.
Ah, memikirkannya saja menjadikan seorang Jeon tersenyum. Terlalu rindu untuk melihat lelaki mungil itu malam ini.
'
'
'
'
"Tiga"
Hitungan mundur yang di komando oleh Mingyu sebagai fokus Jungkook kembali,
"Dua"
Tarik nafas secara perlahan dan--
"Satu"
'Jimin...'
Bendera di turunkan sebagai tanda permainan di mulai. Deru knalpot yang bersahut-sahutan adalah ciri khas wajib untuk memimpin jalanan.
Malam ini, biarkan Jeon Jungkook kembali meraih posisi pertama seperti hari kemarin. Kembali merasakan tamparan angin malam, berharap dari beribu pasokan oksigen yang masuk dapat mengurangi rasa sesak di dadanya.
Terlalu perih untuk di biarkan.
--TBC--
YOU ARE READING
Through the Night;KM
FanfictionLalu, dimana letak kesalahan Jungkook ketika hati memilih untuk mencintai 'kekasih' saudara sendiri? [KOOKMIN]
