Sabtu 6,6
"Hanya karena kau tak akan pernah bisa menang dari rasa sakit yang kamu rasakan saat ini, kau tak harus menyerah dan berhenti berharap."
Yah, itulah rangkaian kalimat yang selalu terngiang di kepala seorang gadis, membuatnya menjadi lebih baik, tapi semua itu sirna, ketika wanita yang menyampaikan kalimat itu meninggal dunia di atas tumpukan jerami bersama dengan belahan jiwanya.
Perasaan bersalah dan rasa terpuruk menghantui diri gadis tersebut. Seluruh dunia menjauh darinya, begitupun saudaranya tirinya.
"Kami turut berduka cita atas apa yang terjadi, atas meninggalnya Calista dan Valiant. Walaupun mereka telah bercerai, mereka tetap menjaga hubungan baik. Jaga dirimu baik-baik."
Begitulah tutur dari seorang guru kepada gadis yang cantik itu.
Saudara tirinya hanya menangisi sang wanita, tidak untuk yang satunya lagi yang mati bersamanya. "Mami! Mami! Jangan tinggalkan kami!!"
"Sayang, tetaplah bersamaku!! Kumohon!!, Kita baru 1 bulan menikah, kita bahkan belum punya anak.. Kumohon kembalilah kepadaku!! Sayang, bukankah kau bersumpah sehidup-semati dengan ku?! T- tapi Kenapa kau pergi dulu? Kau bersumpah, kau ingatkan? Kau harus menepati janjimu pada ku!!" ratap seorang pria yang tak lain adalah suami baru wanita tersebut.
Tiba-tiba, pasangan tua renta berlari ke arah pemakaman si wanita tadi "Putriku, Calista!!" ratap seorang nenek pada mayat wanita tadi "kenapa? K-kenapa kau meninggalkan ibu dan ayahmu yang tua ini? Kau anakku satu-satunya, Kumohon kembalilah kepadaku"
"Sudahlah Renata, biarkan ia tenang di alam sana" jawab seorang kakek, upaya untuk menenangkan si nenek tadi.
Dengan marah si nenek menjawab "Diam kau Rogue!! Aku ingin ia hidup lagi! Aku tak ingin ia mati dengan cara seperti itu!" lalu, matanya teralih pada sosok gadis berambut Orange, yang tengah berdiri sendiri menangisi sesosok mayat pria yang mati bersama Calista yang tak lain adalah ayah kandungnya.
Renata berlari menuju si gadis dan menjambak rambutnya sambil berkata "Dasar anak bedebah kau!! Harusnya, kau turuti kata ibumu!! Harusnya, kau yang mati!!"
Rambut orange si gadis mulai rontok, namun, ia tak melawan. Dibiarkannya Renata menjambak rambutnya sesuka hati, sampai Renata puas, toh ia tidak akan mati karena botak.
Namun Rogue datang dan menenangkan Renata lagi. Tapi kali ini, Renata menuruti kemauan suaminya sambil berkata "Dasar bedebah kau! Harusnya Calista, ibumu, masih hidup sampai sekarang! Dan harusnya kaulah yang mati! Harusnya kaulah yang terbaring, menggantikan Calista! Dasar gadis murahan kau!"
Mendengar itu, si gadis terduduk, tangisannya, pecah, air matanya merebak kemana-mana, mengalir ke pipinya, dan jatuh ke bajunya.
Tak seorang pun peduli akan dirinya, ayahnya yang sangat menyayanginya telah mati, dibunuh oleh makhluk menyeramkan,
"Harusnya aku menuruti permintaan ibu, dengan begitu, penderitaanku akan hilang dan lenyap ketika aku mati, tak masalah jika tidak ada yang berkunjung ke makamku, saat ini, aku hanya ingin mati." batin gadis tersebut sembari terisak dalam tangisnya.
Sudah lebih dari 4 jam si gadis duduk termenung di depan makam ayahnya, ya sedari tadi saat menangis, ia memilih untuk tidak mengubah posisinya, tangisannya sudah berhenti sejak tadi, tapi isakan-nya masih ada.
YOU ARE READING
Dragostea
Teen FictionMakhluk asing merasuki kehidupanku, Apa jadinya? Dihantui ketakutan, kesedihan, dan juga dendam. Semuanya bercampur jadi satu. Tapi, hal aneh terjadi. Entah kenapa rasa takut, sedih, dan dendam hilang. Hilang lenyap begitu saja. Tergantikan aka...
