chapter 1 - Prolog

27 2 0
                                        

Buat yang mau baca.. makasih ya sebenernya aku bikin ini disela-sela kegiatan kuliah ku yg lg heck bgt, sedikit pelampiasan liar akhirnya aku bikin ni cerita. btw ni crita pertama ku di akun ini karna udah lama banget aku kabur dari wattpad dan... baru mau aktif lagi dong..wew telat brp tahun ya dah lupa

mohon komen dan likenya ya... kalo kalian berminat heheh

Chapter 1 : Prolog

Seorang gadis nampak memeluk sebuah tas karton belanjaan yang penuh berisi makanan seperti sayuran, buah dan lainnya dengan kesusahan. Ditengah perjalanannya menuju apartemennya, hal biasa yang ia lakukan adalah mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan seorang gadis berwajah polos sepertinya. Orang-orang disekitarnya nampak acuh dengan perbuatannya yang dilakukan disepanjang jalanan kota Edinburgh, Scotland itu. Sebuah jeruk terlihat menggelinding dari tasnya menuju jalan, terus bergerak seolah mengabaikan gadis yang mulai terlihat frustasi itu..

" geez fuck that fruit " ucapnya disela kegiatannya mengejar buahnya itu.

Dikala ia nyaris meraih jeruk sialan itu (menurutnya), jeruk itu terhenti ketika mengenai kaki seseorang. Orang atau wanita yang sedang memegang ponselnya itu otomatis melihat kearah kakinya kemudian sedikit membungkuk demi meraih jeruk yang mengenai kakinya barusan.

" ini jerukmu.. lain kali berhati-hatila.. Elle? " wanita yang menyerahkan jeruknya itu nampak mengerutkan keningnya heran dan kaget melihat wanita yang memeluk tas belanja yang kepenuhan itu.

" i.. iya? Apa kita saling mengenal sebelumnya? " tanya gadis yang dipanggil Elle bingung itu. Menurut ingatannya yang bagus (pendapatnya secara individu pastinya) ia tidak pernah mengenal wanita berambut merah yang ada didepannya ini. Apakah dia salah orang? Tapi kenapa namanya bisa disebut dengan mudah dan benar oleh wanita ini?

" astaga.. seburuk itukah ingatanmu? Aku jesse, kita adalah teman semasa kuliah. Astaga, baru 5 tahun al dan kau sudah melupakanku " dikala wanita yang mengaku jesse itu memegang bahunya untuk mencoba mengingatkan dirinya tentang hubungan mereka, Elle hanya bisa mengangguk-angguk seolah ia mengerti dan mengingatnya. Mungkin dia benar..

" hei.. jangan diam saja.. ayo kita duduk sebentar, kuingin mengajukan beberapa pertanyaan pada my lovely prosecutor " ucap jesse sambil menarik lengan Elle sedikit paksa ke café kecil yang terletak dekat terotoar jalan mereka berada.

" coffee latte dan espresso coffee ya.. " ucap jesse dimeja kasir ketika memesan dan membayar kopi pesanan mereka sebelum menarik Elle ke meja sudut ruangan. Jesse memandangi Elle dengan tatapan aneh nan menyelidik yang justru makin membuat Elle makin merasa awkward dengan situasi mereka saat ini.

" darimana.. kau tahu aku menyukai coffee latte.. jesse? " ucap Elle dengan ragu kepadanya. Apa aku hilang ingatan? Ah itu jelas tidak mungkin.

" hmm.. mungkin kau benar-benar lupa.. baik aku akan kembali mengulang perkenalan kita. Namaku Jessica walker, kita adalah teman ketika kuliah Hukum dulu di KCL. Karna sudah 5 tahun sejak terakhir kita bertemu, mungkin melupakanku adalah suatu yang wajar dan kuingin bertanya kepadamu.. bagaimana caranya kau bisa berada di skotlandia? Hey Elle.. London adalah kota impianmu, apa yang membuatmu berubah jalur?" tanya Jesse Panjang kepada Elle.

" well.. London bukanlah kota yang cocok untuk orang sepertiku, jadi aku memutuskan untuk mencoba lingkungan baru seperti Edinburgh " ucap Elle berusaha membuat dirinya sesantai mungkin pada Jesse.

" wow.. sungguh diluar perkiraan dan oh! Bagaimana caranya kau pindah dengan mudah dari kantormu yang disana? Kau tahu mereka sungguh menyebalkan kalau membahas soal birokrasi dan prosedur pemindahan " tanya Jesse bersungut-sungut semangat kepada Elle.

" entahlah.. suatu hari aku begitu saja mendapatkan surat pindah dari sana ke Rotherham.. kehidupan disana sedikit menyenangkan awalnya tapi karena kurasa tidak ada hal spesial yang aku temui disana akhirnya kuputuskan untuk keluar " jesse yang barusaja meminum kopinya sedikit tersedak mendengar perkataannya barusan. Apa dia sudah gila? Kesempatan sebagus itu dibuang karena tidak ada hal yang spesial? Kurasa aku sudah gila ketika mendengarnya.

"oh god.. kurasa memang kegilaanmu tidak berkurang.. terus apa rencanamu disini? " Elle tampak merenung sesaat memikirkan perkataan Jesse. Ia terus memandangi kepulan asap yang keluar dari cangkir kopi yang ada ditangannya saat ini lumayan lama sembari menggosok-gosokkan jari telunjuknya ke pinggiran cangkir kopi.

" aku ingin mencari lawfirm yang sekiranya sesuai dengan kepribadianku.. but heck.. I even cant find any lawfirm that allowed me to apply " ucap Elle pasrah sambal melihat kearah jesse yang mendengus ketika mendengarnya barusan.

"so are you an unemployment now? Seriously? " tanya jesse sarkastik.

" heck no way! Setidaknya menjadi dishwasher cukup membuatku senang saat ini, untuk sementara tentunya " ucap Elle pasrah sambal meminum habis kopinya seketika saat itu juga.

" hei.. untuk apa minum secepat itu? Is it not hurt you? "

" nope. Dan sepertinya aku harus segera bergegas ke café lain untuk membantu chef gila itu untuk memasak. Geez bisa kau bayangkan tugasku harus membeli bahan-bahan ini setiap hari? "

Gerutu elle sambil membereskan barang-barangnya.

okay.. just give me you number then.. ucap jesse mengingatkan elle. Elle kemudian mengeluarkan bolpennya dan menuliskan sesuatu dikertas yang ada diatas meja dan kemudian menyerahkannya kepada jesse. Sejak tadi sebenarnya, ponsel elle sudah ribut berdering menandakan ada orang yang membutuhkannya. Dan dengan tergesa-gesa ia mengangkatnya.

"timothy.. maafkan aku.. aku barusaja secara tak sengaja bertemu dengan kawan lama.. aku akan segera menuju kesana, jangan khawatir, aku tidak akan lama " ucap elle cepat tidak membiarkan orang diujung telepon sana untuk berucap.

"well.. jesse.. I have just given you my number and address.. just visit me then " ucap elle terburu-buru sebelum berjalan meninggalkan café

Brukkk... Oh.. heck! benar-benar hari yang sial!

Elle yang membawa tasnya dengan memeluknya didepan dada yang otomatis menutup area jangkauan matanya untuk melihat seketika terkejut ketika ia merasa telah menabrak seseorang ketika membuka pintu café. Bukannya terfokus untuk melihat kondisi orang yang ditabraknya barusan, ia malah terfokus pada beberapa buah dan sayur yang terjatuh kelantai akibat hantaman yang terjadi barusan. Yang ia utamakan saat ini adalah kondisi buah dan sayur itu, oh gosh.. Jangan sampai mereka rusak, bisa-bisa timothy marah besar padaku jika itu terjadi. Ketika hendak mengambil buah dan sayur itu, orang atau pria yang ditabraknya barusan tadi sudah dengan sigap mengambilnya yang tergeletak dilantai. Pria itu mengembalikan buah dan sayuran itu kembali ke tempatnya. Elle harus sedikit memiringkan kepalanya agar dapat melihat wajah orang yang membantu dan ditabraknya barusan namun apadaya karena pria yang ada didepannya ini memakai pakaian serba hitam dan posisinya membelakangi pintu yang mana cahaya dari luar lebih terang daripada cahaya café, ia tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas.

"err.. maafkan aku.. aku sungguh tidak sengaja dan perihal bantuanmu.. terima kasihh tapi bisakah kau memberiku sedikit ruang? Aku tidak bisa keluar dan maaf aku sedang terburu-buru " ucap Elle tidak tahu diri kepada pria yang ada didepannya. Jesse yang ada dipojok ruangan pun juga hanya bisa melongo mendengar perkataannya barusan. Tanpa mengucap sepatah katapun pria itu mundur dan memberi Elle jalan untuk pergi dan seketika Elle langsung berjalan pergi tanpa melihat kembali kearah café. Maafkan aku sir.. tapi hidupku dalam bahaya jika timothy marah.

Dengan tatapan dan ekspresi wajah yang sulit diartikan, pria itu hanya melihat jejak terakhir dimana Elle terlihat dan tak lama kemudian ia meninggalkan café itu.

Strangle Where stories live. Discover now