Sejuknya udara, dan hangatnya sinar mentari pagi seakan menemani perjalananku. Perjalanan yang sudah lama aku tunggu menuju indahnya alam telaga sarangan di lereng gunung lawu.
Aku menjadi bertambah bersemangat ketika mobil yang membawaku berjalan pelan melewati hamparan sawah yang luas. Senyumku semakin lebar ketika mendengar cuitan burung gereja yang sedang terbang bergerombol diatas padi yang menguning.
Robi duduk disamping kiri ku. Rambut pendeknya tersisir rapi kebelakang. Kepalanya menunduk, tangan kecilnya yang dibalut pakaian warna biru bergambar tokoh avanger dengan lincah memainkan hpnya.
Suara lembut ibuku yang sedang bernyanyi mengukuti alunan musik yang merdu terdengar dari kabin depan. Rambut hitamnya yang terurai rapi terus bergerak pelan. Terpancar kegembiraan diwajahnya. Bibir tipisnya tersenyum, seakan menggoda ayahku yang duduk di belakang roda kemudi untuk ikut bernyanyi. Tetapi hanya disambut dengan senyuman manis dari ayah, karena ia memang tak jago bernyanyi.
Senyumku menghilang, suasana ceria dari dalam mobil berubah seketika. Ketika tiba-tiba, aku melihat sebuah bus melaju sangat kencang dari arah yang berlawanan meluncur tepat ke mobil yang aku tumpangi.
BRAK !.
Titititititit.
Suara jam beker yang berbunyi nyaring membangunkanku dari tidur. Keringat dingin sudah membasahi wajah, dan tubuhku yang masih mengenakan setelan panjang baju tidur.
Mimpi itu datang lagi, mimpi yang mengerikan tentang peristiwa kecelakaan yang menimpaku empat tahun lalu, dan telah merenggut nyawa kedua orang tuaku.
Tok ! Tok ! Tok !
Suara pintu yang diketuk, dan menggema memenuhi kamar tidur, membuatku bertambah kaget.
"Kakak sudah bangun !." suara Robi berteriak.
"Sudah Robi," sahut ku, sambil mematikan jam beker yang masih berbunyi sedari tadi. Jam sudah menunjuk angka 04.30 pagi.
"Aku tunggu dibawah ya !," teriak Robi lagi.
Namun aku tidak merespon teriakan Robi. Aku hanya duduk terdiam diatas kasur, sambil membenamkan wajahku kedalam lutut, lalu menangis. Peristiwa kecelakaan itu terus menghantuiku sampai sekarang. Selama bertahun-tahun aku selalu bertanya pada diriku sendiri, bagaimana aku dan Robi bisa selamat dari peristiwa kecelakaan itu ?, apakah itu sebuah pertolongan, atau sebuah hukuman dari Tuhan ?, entahlah. Yang pasti peristiwa kecelakaan itu begitu membekas dipikiranku sampai sekarang.
Selama ini aku dan Robi dirawat oleh pamanku. Paman adalah adik dari ayahku, mereka dua saudara kandung. Kedua orang tua mereka juga sudah lama meninggal. Sedangkan ibuku hanyalah anak tunggal, kedua orang tuanya juga sudah lama meninggal.
Entah kenapa, diusianya yang sudah tidak muda, pamanku belum juga memiliki pasangan. Setiap kali aku bertanya, alasannya pasti terkait masalah biaya. Sebuah alasan yang klise, mengingat ia sudah lama bekerja sebagai teknisi di sebuah pabrik keramik, dan berhasil mempunyai rumah sendiri serta mobil yang bagus.
"Kakak !," teriak Robi yang terdengar dari lantai bawah.
Teriakan Robi menyadarkanku dari lamunan. Kutarik wajahku lagi untuk kembali duduk tegak, tak terasa air mata sudah membasahi kedua pipiku.
"Iya tunggu sebentar !," balasku berteriak, sembari mengelap air mataku.
Dengan tubuh tak bersemangat, aku mencoba turun dari kasur. Kedua kaki ku terasa begitu berat ketika menyentuh lantai kamar yang dingin.
Dengan lunglai, aku melangkah menuju kamar mandi kecil yang terletak disudut kamarku, dan berhenti di depan wastafel keramik. Kulihat bayangan diriku yang terpantul dari cermin waftafel. Kedua mataku menjadi sembap karena terlalu lama menangis. Aku langsung membungkuk untuk mencuci muka agar kembali segar, karena aku tidak ingin terlihat kacau didepan Robi.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE DEATH CITY - Zombie Apocalypse
HororRosi merupakan salah satu penduduk kota Madiun yang berada di pulau Jawa Timur, sebuah kota kecil dengan warga yang hidup tenang dan bahagia. Namun pada suatu hari salah seorang dari mereka mengalami kecelakaan sepeda motor tunggal, menyebabkan sebu...
