UNDIRECT CONFESSION

27 2 0
                                        

Tak ada seorang pun yang mampu mengubahmu

Situasi bisa menggugah emosimu

Dia bisa menjadi alasanmu

Namun berubah ialah pilihanmu.


                                                                              Chapter 1

Ijinkan aku memulai kisahku yang berawal manis dari masa biru-putih.

Masa-masa kebersamaan dengan sahabat-sahabat terbaikku.

     "Blacky," panggil Elmo.

     Yap, nama yang akan mengingatkan kalian pada salah satu karakter film anak-anak 'Sesame Street'. Elmo maksudku. Kalau 'blacky' kebanyakan kalian pasti langsung teringat sama binatang peliharaan yang terkenal setia itu kan? Dan itulah nama panggilan yang Elmo pilih untukku.


     "Blacky" Elmo lagi-lagi memanggilku di lain waktu dan aku hanya bisa nyengir tanpa protes.

     Fisikku di sekolah baru terlihat mencolok diantara yang lain. Sebagai anak luar kota yang datang ke kota baru tentu saja menjadikanku sedikit berbeda.

     Kulitku yang berwarna sawo matang sangat kontras bila bersanding dengan teman-temanku. Jangan salahkan kulitku kawan. Kulit mereka saja yang terlalu putih. Dibiarkan berjemur seharian pun, kulit mereka bisa kembali putih dalam hitungan minggu. Berbeda denganku yang kulitnya tidak akan berubah lebih cerah sekalipun berusaha diam di dalam rumah selama berbulan-bulan tanpa terkena paparan matahari.

     Aku tidak bisa menuntut keadilan dari Tuhan, mengingat gen dan ras kami memang berbeda. Tapi aku tidak tawar hati. Aku tidak marah dipanggil begitu.

     "Blacky."

     Kini aku tidak perlu mencari tahu siapa gerangan sang pemanggil. Sudah pasti itu Elmo, hanya dia yang memanggilku dengan sebutan itu. Sekalipun bukan hanya dia yang kadang suka iseng mengejek warna kulitku.

     "Sumpah, gue jadi pengen hitam kayak lu."

     Ini kali pertama ada seseorang yang justru ingin kulitnya seperti diriku. Selama aku bersekolah di sini, semua temanku suka heboh kalau kulitnya menggelap karena habis liburan di pantai, dan biasanya akan datang menghampiriku untuk membandingkan tingkat kegelapan kulit mereka denganku. Seakan aku ini alat untuk mengukur tingkat kehitaman kulit seseorang. Harapan mereka cuma satu, jangan sampai warna kulit mereka lebih gelap dari kulitku. Dan itu dilakukan oleh anak-anak cowo juga. Serius.

     "Kenapa?" Tanyaku penasaran.

     "Soalnya lu punya nama panggilan dari Elmo." Jawab Dinda.

     Mataku tanpa sengaja berputar ke atas. Sumpah, alasannya bikin aku pengen nimpukkin sahabat baru aku ini. Emang cinta segitunya ya bikin orang jadi bodoh?

     "Lu mau dihina hitam sama dia? Ga ngerti deh gue sama lu Din."

     "Cuma dia kan yang manggil lu 'blacky'? Gue merasa itu spesial tau." Lagi Dinda punya pendapat bodoh.

HEART OF ALEIRAStories to obsess over. Discover now