"Astaga gua telat!"
Wanita yang memakai jaket denim kebesaran itu berlari menulusuri koridor yang pengap karena mahasiswa yang berhamburan. Ia menggenggam flashdisk di telapak tangannya, sebelum masuk ke kelas ia harus mencetak tugasnya terlebih dahulu.
Wanita ini bernama Zephyra Silver Altheda, kerap disapa Silver atau Sisil. Keturunan dari Heri Altheda dan Ros Marcelia yang namanya terkenal karena usaha yang terus melejit.
Jika kalian berpikir Silver itu seperti wanita pada umumnya, kalian salah. Silver itu wanita yang berantakan. Mulai dari rambut hingga ujung kaki, semuanya berantakan. Dan, Silver juga wanita yang cuek akan penampilan. Ia terlalu apa adanya jika soal penampilan.
"Duh, tukang fotokopi nya rame lagi!"
Matanya menangkap tukang fotokopi yang ada di ujung, di sana cukup ramai akan mahasiswa yang mungkin memiliki tugas yang sama dengan dirinya. Ia berlari secepat mungkin untuk menyelesaikan tugasnya sekarang juga, ditambah lagi 10 menit lagi ia harus masuk kelas.
Pandangannya kini beralih pada lelaki yang memakai kemeja flanel warna hitam sedang berlari ke arahnya. Ia kira mereka hanya berpapasan saja, tapi nyatanya tidak. Dewi Fortuna nyatanya tidak berpihak pada wanita malang ini. Sudah telat, tugas belum jadi, dan ia harus terjengkal ke belakang karena bahu keras yang menyenggol nya. Lengkap sekali penderitaan nya.
Tapi untungnya ia tidak terjatuh pada lantai yang habis dipel ini. Ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya sehabis disenggol lelaki yang berlari gesit tadi.
"Heh lu kalo jalan liat-liat!" bentaknya tak suka dengan kaki yang masih terus berlari.
"Elu yang pake mata!"
"Argh!" Wanita bertubuh proposional ini hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Namun ia merasa aneh. Ada yang hilang. Genggamannya terasa kosong. Apa yang hilang?
"Flashdisk gue kemana?!"
Ia mencari di lantai, berharap ia terjatuh di sana, namun hasilnya nihil. Malah ia hanya mendapati ember yang dipakai untuk merendam kain pel oleh janitor.
"Tadi ada yang nyemplung tuh mba, gatau apa." Ucap si janitor sambil mengepel lantai.
"Haaa??" Cepat-cepat ia jongkok dan mengobok-obok ember berisikan air butek itu hanya untuk mencari flashdisk yang isinya file penting.
"Sil, gua nitip tugas di flashdisk lu ya, nanti print nya sekalian. Nanti gua ganti."
Tangannya terus menyusuri seisi ember dengan pikiran yang terus mengulang perkataan Neta. Rasanya ia ingin nangis sekarang juga. Tugasnya saja belum selesai, ditambah lagi tugas Neta juga ada di flashdisk itu.
Aduh, bisa-bisa gua digaplok Neta nih! Udah mana tugasnya dikumpul sekarang lagi!
"Nah!" Ia mengangkat flashdisk nya yang sudah basah itu diiringi tatapan yang penuh harap. Tentu saja ia berharap kalau flashdisk nya masih bisa terdeteksi di komputer.
"Basah tuh mba!" sahut janitor yang masih setia dengan gagang pel.
"Saya juga tau, mas!"
"Keringin mba, nih saya ada lap."
Ingin rasanya janitor bernama Sulaiman ini ia gigit telinganya. Sudah dibuat kesal oleh lelaki penyebab ini semua, serta hukuman yang akan ia berikan jika tugasnya tak dikumpul sekarang, lalu janitor yang polos sekali.
YOU ARE READING
VERPA
Teen FictionBukan perihal siapa yang datang paling pertama, tapi siapa yang bertahan sampai akhir. Design by canva
