Senja. Aku membencinya. Aku kehilangan terangnya cahaya sang matahari berkat senja. Aku tak percaya mengapa Tuhan mengutus Senja sebagai tanda peralihan masa. Lihatlah, kini aku membencinya.
Karnanya juga, aku tak suka keluar saat Senja. Aku benci harus mengatakannya, namun benar adanya. Aku harus masuk kamar, dan berdiam diri. Kadang kala aku membaca atau menonton film. Hal itu lebih mengasikkan daripada melihat Senja. Aku tidak tahu mengapa orang orang begitu menyukainya.
Orang bahkan menganggapku aneh karna tak suka padanya. Sebagus apa wujudmu? Tunjukan padaku seberapa bagus dirimu untukku sanjung.
YOU ARE READING
Senja bersama Senja
Teen Fiction"Jadilah senjaku, disetiap detik hari hariku dan disisa hidupku." pintaku dengan halusnya.
