Langit biru berubah menjadi semburat jingga dengan gradasi warna yang indah. Sesosok gadis masih tepaku ditempatnya, menutup mata seraya merasakan bagaimana angin menyentuh lembut wajahnya. Taman belakang rumah sakit memang sudah menjadi temannya kini. Terhitung sejak seminggu yang lalu karena ayahnya yang terkena sakit yang cukup serius sehingga mengharuskan ayahnya dirawat inap untuk sementara, hingga ayahnya sudah lebih baik. Gadis itu masih asik dengan angin yang menerpa wajahnya lembut hingga tak sadar datang seorang pemuda langsung mengacak lembut rambut sang gadis, sehingga membuat gadis itu mendengus sebal.
"Jangan ganggu ketenangan orang deh." Sulutnya tak terima karena diganggu ketenangannya.
"Yaelah, ketenangan darimana segini ramenya juga." Jawab pemuda itu sembari mengeluarkan cengiran yang hanya dibalas helaan nafas dari sang gadis.
"Bisakah kau tidak usah menggangguku, dude?" Tanya gadis itu sembari memandang arah yang lain
"Hei, sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu, sayang." Jawabnya sembari tetap memandang wajah gadis itu.
"Tapi kau yang memulai." Senyum jahilnya tiba-tiba saja tercetak jelas yang membuat sang pemuda kewalahan.
"Oke aku kalah, Grace." Ujar pemuda itu akhirnya yang membuat gadis yang bernama Grace itu mengulum senyum penuh kemenangan.
"Bagaimana keadaan ayahmu?" Tanya pemuda itu akhirnya setelah lelah berdebat dengan Grace.
"Masih seperti biasa, Kau sendiri? Bagaimana luka tusukmu?" jawab Grace diikuti helaan nafas yang berat
"Aku baik. Besok sudah bias pulang."
Dan mungkin takkan bertemu denganmu lagi, Grace.
"Selamat kembali ke rumah, Tuan Brian." Grace kembali tersenyum
–dan aku akan merindukan kehadiranmu.
"Terimakasih." Brian mengusak puncak kepala Grace
–aku juga merindukanmu.
.
.
.
.
DU LIEST GERADE
STAY
Jugendliteraturaku merindukanmu. tak bisakah kau tetap disini? -Grace. aku ingin menemuimu jika saja hidupku tak seperti ini. -Brian
