Sahabat

164 6 0
                                        

" You just want attenttion, you dont want my heart ..... "
Terdengar lagu Charlie Puth berdendang dari handphone milik seorang gadis yg masih terlelap dalam tidurnya.
Ya Lumayan membuatnya kaget .
susah payah ia berusaha membuka matanya , dan mulai meraba raba meja kecil disamping tempat tidurnya untuk menggapai asal muasal suara yg membuatnya terbangun pagi ini.
"Dangerous call"
begitu nama yg tertera di layar .
"halo"
"good morning adiiiiiiiiissssss ......." perempuan di sebrang telefon itu berteriak lantang sekali, membuat adista yg masih berusaha mengumpulkan sisa sisa nyawanya itu dibuat kaget kedua kalinya .
"duh nyak , nyebelin banget si . ganggu tidur gue aja deh " ucap adista kesal sambil terus berusaha membuka matanya pelan pelan
"hahaha namanya juga anyak.. maaf deh my boss . habisnya kalo ga rusuhin lo pagi pagi hidup gue ga afdol " ucap anyak yang terdengar  puas karena berhasil membuat teman sekaligus bos nya itu kesal .
"ada apa sih ?" tanya adista sambil mulai perlahan bangun dan bersender di bantalnya setengah duduk .
" itu loh, lo ingat kan kemaren lo bilang lagi cari barista baru, nah ini gue baru ketemu yang cocok nih . sebagai manager merakap HRD sih gue approve banget , ganteng loh haha, pengalamannya juga oke , dia pernah kerja di salah satu coffe shop terkenal di bandung 5 tahun " ucap anyak menggebu-gebu.
Anyak adalah teman seperkuliahan adista dulu, sebenernya mereka sudah kenal dari jaman SMA walaupun beda sekolah .
Nah kalau Adista adikirana, atau yang lebih sering dipanggil adis itu adalah wanita berusia 24 tahun , tidak terlalu tinggi , tapi memiliki postur tubuh ideal lantaran tidak gendut ataupun terlalu kurus, memiliki kulit putih karena hampir tidak pernah tersentuh ganasnya paparan sinar matahari , rambut nya hitam lurus sebahu dan sangat tebal, cantik, juga memiliki bentuk wajah yg imut sehingga membuat orang sulit untuk mempercayai umurnya yg ternyata sudah menginjak 24 tahun itu .
Adista selama ini hidup berdua dengan ayah nya .
Ayahnya adalah seorang pengusaha tas . Tas tas sekolah anak anak usia 5-10 tahun , awalnya ayahnya hanya membangun usahanya di dalam rumah dengan bantuan beberapa karyawannya , namun seiiring berjalannya waktu , kini ayahnya sudah mendirikan 3 pabrik di jakarta, satu di daerah pantai indah kapuk , satu di daerah kampung melayu , dan satu di daerah kemayoran . Usaha ayahnya semakin maju lantaran semakin banyaknya permintaan konsumen karena tas buatannya kian di minati.
tas buatan ayahnya pun sudah di impor ke seluruh indonesia , ribuan tas tiap hari dikirimkan ke berbagai kota di seluruh penjuru .
Namun kesibukan ayahnya itu justru membuat nya tidak memiliki banyak waktu dengan anaknya sendiri .
Dari bayi, adista di bantu rawat oleh kaka ayahnya sampai adista berusia 5 tahun .
Setelah itu ayahnya memutuskan untuk memperkerjakan seorang suster .
Adista hanya bertemu ayahnya di pagi hari sebelum ayahnya berangkat mengawasi pabrik pabriknya , lalu kembali bertemu diatas jam 9 malam. Terkadang adista rela menahan kantuknya demi melihat sosok ayahnya pulang dari jendela kamar nya.
Adista tidak pernah tau benar tentang ibunya, karena ayahnya selama ini tidak pernah membahas apapun tentang ibu kandung adista . Adista pun memilih menghormati keputusan ayahnya untuk bungkam soal ini .
Satu satunya hari untuk menghabiskan waktu bersama ayahnya adalah hari minggu .
Kadang ayah nya akan mengajak adista ke mall dan membelikan apapun yg ia mau . atau mengajak adista jalan jalan melihat pabrik ayahnya .
susternya pun sudah seperti ibunya sendiri, 15 tahun sudah sus aya atau begitu nama panggilan yang diberikan adista, menyayanginya seperti anaknya sendiri , mengasihinya dan selalu memberikan kehangatan layaknya seorang ibu.
pada akhirnya di usia adista yg ke 20 , suster aya atau suster hayati itu meninggal dunia lantaran mengidap gagal ginjal.
itu adalah tahun tahun tersulit untuk adista .
Setelah lulus SMA adista sempat meneruskan pendidikanya di bangku kuliah universitas ternama di jakarta .
sampai akhirnya adista lulus dan meminta ayahnya untuk memberikan ia modal membuat sebuah coffee shop yang sebenarnya tidak ada hubungannya dari gelar sarjana yg ia punya .
namun kecintaan nya pada kopi membuat adista ingin sekali berwirausaha di bidang itu .
"Duh lo itu kenapa sih nyak , ini kan hari minggu . lo bisa kan kasih tau gue besok aja pas di toko ? atau siangan sedikit . ini jam 9 pagi loh" geram adista .
temannya yang satu ini memang hobby sekali membuat nya kesal .
"lo harusnya bersyukur dis, kalo ga ada gue lo udah mati kesepian kali "
"iiiiiihhhhhhh .... udah ah gue mau lanjut tidur . suruh aja barista ganteng pujaan hati lo datang hari senin untuk interview" ucap adista geram
"oke siap laksanakan bu bos"
titttt ...
adista tanpa basa basi lagi langsung mengakhiri panggilan tersebut dan berusaha memejamkan kembali matanya .
10 menit terlewat dan
arghhhhhhh.... !
sia sia saja , rasa kantuknya kini benar benar sudah hilang .
dengan perasaan kesal adista pun beranjak dari tempat tidurnya , mengikat rambutnya , menegak segelas air putih yang selalu ada di samping tempat tidurnya dan berjalan kebawah menuruni anak tangga sambil menggerutu ...
"hhhhh anyak nyebelin"

Dua Matahari Stories to obsess over. Discover now