Prolog

2 0 0
                                        

You can play the multimedia while reading it. I give you Seventeen - Love Letter Instrument Version.

 

"Simpan ia sebagai kenangan yang akan terus kakak ingat supaya kakak tidak mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Aku yakin akan datang seseorang yang akan membantumu meredakan rasa sakit itu atau bahkan menyembuhkannya."

"Memang siapa yang mau denganku?"

Bocah itu mengedikkan bahunya, "Entahlah. Bisa jadi orang yang baru saja kau kenal atau malah orang yang selama ini berada di sekitarmu namun kakak terlalu sibuk berkencan dengan laki-laki yang salah."

Kondisi menyedihkan yang melingkupi kisah percintaanku membuat adik laki-laki yang lebih sering bertengkar denganku, menertawakanku yang selalu kehilangan barang dan kemudian menuduhnya, kini menjadi seorang laki-laki bijak. Sejak kapan ia menjadi dewasa? Apa semua anak SMP zaman sekarang seperti dirinya?

Chan melempar senyum. Gigi putihnya berderet tulus, memompa kembali energi yang kuhabiskan untuk menangis seharian ini. Ia kepalkan tangan ke udara. Membuat gestur yang menyuruhku supaya mengumpulkan semangat. 

"Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena ditinggal seorang pria. Hari ini pasti kakak nangis di banyak tempat di hadapan banyak orang pula. Eyy , memalukan!" ejeknya tepat sebelum pintu tertutup. Aku melayangkan bantal ke arahnya, namun terhalau oleh benda persegi panjang bercat putih polos itu. 

Tidak. Dia masih adik kecilku. Jangan salah paham Lana!

.

.

.

.

.

.

Tapi perkataannya benar terjadi. Ia datang bersama sepucuk kertas berisi pesan-pesan dan stiker lucu sebagai tanda kehadirannya. Entah orang baru atau orang yang selama ini berada di sekitarku. Aku tidak tau siapa dia, maksudku belum tau. Katanya,











"Aku ingin kau belajar mencintaiku melalui tulisanku."

Different [SVT Version]Where stories live. Discover now