Selembar kertas berisi soal-soal matematika di biarkan begitu saja oleh pemiliknya.
"Waktunya lima belas menit lagi, jangan terburu-buru mengerjakan ulangan nya."
Ulangan. Matematika.
Dua kata itu sangat dibenci oleh cowo berambut cokelat terang. Ia bahkan hanya membiarkan kertasnya kosong tak ada jawaban karena ia sedang menunggu.
Menunggu contekan, maksudnya.
Nama lengkapnya, Kemal Aditya. Teman-teman nya biasa memanggilnya si ganteng. Karena memang dia ganteng ... kalo dilihat dari unjung sedotan si hehe.
Kemal menoleh ke meja guru, pak tono, guru yang menjaga sedang sibuk dengan ponselnya. Guru jaman now gitu ya, sibuk sendiri. Tapi nggak masalah, Ini adalah kesempatan kemal buat nyontek.
Kemal memberikan kode kepada sahabatnya yang pintar, namanya Aldi. Untungnya cowo bermata empat itu paham, dan ia langsung melemparkan segumpal kertas kepada Kemal.
Kemal membuka kertas yang sudah lecek itu. Disana sudah tertera beberapa jawaban. Dengan cepat, Kemal menyalin jawaban itu.
"Waktunya habis, segera kumpulkan kertas ujiannya." ucap pak Tono.
Di saat seperti ini, Kemal harus mengeluarkan jurus. Jurus menulis dengan kecepatan maksimal. Tidak peduli jika tulisan nya tambah jelek, karena terburu-buru.
Kemal harab-harab waspada kala pak Tono memperhatikan nya sadari tadi karena memang cuman dia sendiri yang masih anteng duduk manis seraya mengerjakan soal ulangan.
"Kemal, kumpul 'kan kertas ulangan nya." Kemal nyerah, akhirnya ia maju dan memberikan kertas ulangan tersebut kepada pak botak itu. Padahal tinggal sat---ralat lima soal yang belum ia isi.
"Nggak lah pak." pak Tono hanya manggut-manggut. Kemudian, Kemal menyampirkan tasnya di bahu kanan seraya mencium telapak tangan pak Tono, "nggak salah lagi, pak!" seru Kemal terkekeh seraya belari.
"Kemal Aditya!" teriak pak Tono.
💦💦💦
"Kemal, lo tuh harus belajar. Gue nggak bisa ngasih contekan lagi buat lo. Karena ini ujian nasional, bukan ujian biasa. Jadi, lo nggak boleh main-main. Emang lo nggak mau lulus?"
Ok, ini adalah Quotes hari ini dari seorang Aldi Fahmi, sahabat Kemal.
"Iyaiya nanti gue belajar, kok. Lagian, lo pelit banget sih jadi sahabat. Nggak boleh pelit, Al. Nanti kuburan lo sempit baru tau!" jawab Kemal ringan sambil makan mie ayam mpok Siti.
Aldi menghela napas kasar, "terserah, lah. Gue capek nasehatin lo. Percuma, masuk kuping kanan keluar kuping kiri." Kemal hanya manggut-manggut sebagai jawaban.
Kemal menghabiskan mie ayam dengan lahab, seolah-olah baru makan selama satu bulan lamanya. Aldi yang melihatnya menggeleng kepala seraya berdecak. "Lo tuh makan udah kayak ayam, tau nggak? Berantakan!"
"Aldi sayangku... kita itu cowo. Wajar kotor, kalau bersih namanya cewe." Kemal mengambil tisu untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang terdapat di bibirnya.
Aldi bergidig geli, "stop manggil gue begitu, geli anjir!"
"Manggil begitu gimana?" tanya Kemal seraya meminum teh manis dingin.
Aldi berdehem, ia kemudian menirukan gaya bicara Kemal. "Aldi sayangku....that is amused, seperti gay."
Kemal terkekeh, "but, lo emang kesayangan gue, Aldi." Aldi menjitak kening Kemal hingga cowo itu meringis kesakitan. "Jijik, bodoh!"
Kemal menggerutu, ia kemudian mengambil tisu untuk membersihkan sisa-sisa makan yang berserakan di meja. "Al, aldi!"
"apwaan?" Aldi menjawab dengan mulut penuh nasi.
Kemal memutarkan kepala Aldi hingga menghadap ke belakang. "Meisya!"
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Meisya Amira, gadis yang terkenal dengan paras cantiknya. Bukan cuman cantik, dia itu baik, ramah, dan murah senyum. Membuat para cowo ke ge-eran gara-gara tuh cewe ramah bener. Yang paling penting, dia cewe blesteran! Sunda---jawa. Hehe
"Gila cantik bener." celetuk Aldi seraya menggeleng kepala. Kemal manggut-manggut karena memang apa yang Aldi katakan benar.
Kemal menompang dagu, "kapan ya? Si meisya jadi pacar gue?" Aldi menoleh, ia lalu melemparkan nasi yang berada di piring ke wajah Kemal. "Dalam mimpi!"