--
Kadang sebuah pertemuan itu seolah menjadi kunci, bahwa kamu dan aku bisa ada dalam satu kertas dan menuliskan cerita hidup bersama-sama
--
Hari itu, usia ku masih 17 tahun. Aku masih duduk di kelas 2 SMA. Jalinan rambutku sudah acak-acakan, ini sudah jam 2 siang, jelas ini adalah jam pulang sekolah.
Aku sudah biasa pulang sendiri, tanpa jemputan. Ayah dan Ibu sedang bekerja dan kakak sedang kuliah, tidak ada yang bisa kuharapkan untuk menjemputku. Jadi aku adalah tipe anak yang mandiri, hehe.
Aku haus sekali, tenggorokkanku rasanya tercekat karena matahari yang begitu teriknya di atas kepalaku. Aku mendengus. Akhirnya aku singgah ke supermarket di dekat rumah.
Aku membeli minuman segar di dalam botol, melihatnya saja rasanya sudah segar sekali. Saat ingin menuju meja kasir, mataku tertuju pada salah satu rak di sana, itu adalah coklat kesukaanku. Yah, hari itu niatku ingin menabung, tapi saat aku lihat coklat kesukaanku bertengger di sana dan itu tinggal satu otakku menyuruhku untuk membelinya.
Saat aku hendak mengambil coklat itu, ada tangan lain yang menjulur, aku kaget. Aku menarik tanganku lagi dan melihat ke arahnya.
Ia berseragam persis sepertiku putih abu bercelana panjang, rambut yang biasa saja dan menatapku. Aku menatapnya beberapa detik lalu langsung menyambar coklatku tidak perduli dengan orang itu, persetan.
****
Jika mengingat itu hatiku berdesir, kenapa saat itu kita tidak saling mengenal? Kenapa harus sekarang di saat keadaan mendesak kita untuk menjauh?
Aku sudah tidak ingin tidak peduli lagi, ku tarik ucapan persetanku. Hari ini, detik ini yang ku inginkan adalah laki-laki itu. Laki-laki yang menatapku saat ku sambar coklatnya saat masing memakai seragam putih abu.
YOU ARE READING
Hurt
Teen Fiction[COMPLETED] Ilana, adalah seorang gadis biasa yang tidak begitu paham akan jatuh cinta. Namun saat lelaki masa lalu yang bahkan tidak dikenalnya hadir kembali, Ilana mulai merasakan bahwa cinta itu ada. Namun kenyataan pahit harus mereka terima saa...
