Bab 1

23 0 0
                                        

Matahari belum sepenuhnya tenggelam ketika kereta yang membawa Alea berhenti di stasiun Yogyakarta. Stasiun terakhir yang akan menjadi tempat awal Alea memulai kehidupan baru, meninggalkan dunia keartisannya. Menjeda segala aktivitas dari segala sorot kamera yang telah membesarkan namanya.

Alea Prameswari Kartosuwiryo hanyalah gadis kelas 2 SMA yang menjadi terkenal karena nama besar kedua orang tuanya. Ibunya seorang perancang busana terkenal sementara ayahnya adalah seorang pengusaha property kenamaan. Karirnya baik-baik saja semenjak gadis itu pertama kali debut 3 Tahun yang lalu. Wajahnya mondar-mandir di Televisi baik sebagai Bintang iklan maupun pemain sinetron.

Hidup Alea setidaknya masih sempurna sebelum media menghembus sebuah masalah pada keluarganya. Masalah yang membuat semua kamera menyorot ke arah gadis 17 tahun ini. Sebenarnya Alea bisa saja menanggapi semua pertanyaan tentang kedua orang tuanya namun semakin ia ikut campur, rasa sakit sebagai seorang anak melukai hatinya yang semakin dalam. Dan menurutnya lebih baik Alea tidak ikut campur permasalahan kedua orang tuanya, juga tidak akan memihak siapapun dengan harapan mereka merenunginya.

Alea memutuskan meninggalkan kedua orang tuanya dan memilih melanjutkan hidup bersama tante Rossi, adik dari Rossa Prameswari yang tak lain ibunya. Alea lebih memilih tante Rossi sekeluarga daripada Ayah dan Ibunya.

15 Menit sudah Alea duduk termenung di coffee shop yang terletak didalam Stasiun. Daniel, sepupunya berjanji untuk menjemput Alea di stasiun. Namun laki-laki itu belum menunjukkan kehadiran.

Alea meraih ponsel yang ada di saku cardigan dan berencana mengirimkan pesan WhatsApp kepada Daniel. Belum sempat Alea mengirim menekan tombol send WhatsApp, Daniel terlebih dulu menelpon gadis itu.

"Hallo, Al sorry banget mobilku mogok nih" celoteh Daniel diujung telpon.

Belum sempat Alea menyapa Daniel diujung telpon.

"Kamu pulang naik grab atau gocar ajah yah?" Lanjut Daniel.

"Tapi aku nggak ada Aplikasinya" jawab Alea. Sebagai anak konglomerat Alea tidak pernah bepergian dengan kendaraan umum bahkan gadis itu tidak tahu bagaimana caranya menggunakan aplikasi transportasi online.

Terdengar Daniel menghela nafas. "Oh iya, Biar aku yang pesan saja, nanti aku kasih kontak nomer telponmu"

"Baiklah, sampai ketemu dirumah"

"Sampai jumpa di rumah, Hati-Hati Al" tutup Daniel.

Daniel selalu memperlakukan Alea dengan baik, lebih tepatnya semua keluarga bibi Rossi memperlakukan Alea dengan baik. Alea merasa diterima setiap kali berada diantara keluarga itu. Hal yang sangat bertolak belakang dengan keadaan keluarganya yang sibuk dengan urusan pribadi masing-masing.

Rossa Prameswari terlalu sibuk dengan pekerjaan sebagai Perancang kenamaan. Hari-harinya disibukkan dengan klien penting, Fashion show dan urusan butik. Sementara Jonathan Kartosuwiryo tidak kalah sibuk dengan bisnis property yang sekarang merambah ke pasar Asia.

Sebagai anak tunggal, Alea hanya mendapatkan nama besar kedua orang tuanya. Tapi tidak dengan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Setidaknya jika yang dinamakan kasih sayang itu bukan hanya materi dan barang-barang mewah.

Alea menghela nafas mengingat kedua orang tuanya. Membandingkan perhatian yang didapat dari keluarga tante Rossi dengan keluarganya.

Alea menatap layar ponsel dan memperhatikan jam digital yang terlihat disana. Sudah pukul 17.00 pekiknya dalan hati.

Ponsel Alea berdering dan sebuah nomor telpon asing tertera disana.

"Hallo...."

"Hallo....mbak Alea yah, saya Ardya yang jemput mbak, mbak menunggu dimana yah?"

"Oh iya pak, saya masih didalam, pak Ardya pake mobil apa?" Tanya Alea kepada supir grab itu.

"Saya mobil CRV Silver di depan toko oleh-oleh Kencana"

"Oh baik, tunggu sebentar" lanjut Alea sembari melangkah menuju mobil grab yang sudah menunggunya.

Sesampainya di Mobil yang dituju, Alea memasukkan koper dibantu sang supir yang terlihat masih muda, mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan Daniel. Alea menjadi salah tingkah ketika teringat ditelpon memanggilnya dengan sebutan pak.

"Mau duduk didepan atau dibelakang mbak" tanya Lelaki itu membuyarkan pikiran Alea.

"Oh dibelakang ajah mas" sahut Alea sembari tersenyum.

Sambil berjalan menuju ruang kemudi, supir grab itu membukakan pintu untuk Alea membuat gadis itu sedikit kikuk dan salah tingkah. Mungkin dia tahu jika Alea adalah seorang artis. Sehingga dia bersikap manis terhadapnya.

"Terimakasih" sahut Alea.

Mobil itu segera meninggalkan stasiun menuju daerah utara Yogyakarta. Daerah dengan pohon rindang dan kawasan rumah tua tempat tinggal Bibi Rossi berada.

Didalam mobil Alea hanya mengamati jalanan kota Yogyakarta yang ramai dan sedikit macet. Kota ini menjelma seperti kota metropolitan lainnya, yang padat dan semakin enggap untuk ditinggali. Namun jauh disudut-sudut kota Yogyakarta masih ada sedikit celah untu tempat tinggal dengan budaya dan tradisi yang mengakar. Dan alasan itulah yang selalu membuat Alea ingin kembali.

Alea meraih sebuah catatan dari tas punggungnya. Mengambil sebuah foto yang diambil bersama kedua orang tuanya di kota ini. Dengan background tugu Yogyakarta, Alea kecil tersenyum lebar digendongan Ayahnya.

Menatap foto ini membuat mata Alea berkaca-kaca. Mengingat kedua orang tuanya bersama kenangan indah di kota istimewa ini. Alea engan terbawa perasaan sedih dan dengan segera memasukkan foto itu kedalam buku catatan hariannya.

"Mbak Alea sudah sampai mbak" seru supir grab didepan Alea membuyarkan lamunannya

Alea yang segera tersadar langsung meraih dompetnya dan menanyakan argo grab tersebut. "Berapa mas?"

"Oh udah nggak usah" jawab supir grab itu.

"Oh udah dibayar yah" seru Alea sembari turun dari mobil dan berjalan untuk meraih kopernya.

Belum sempat Alea membuka pintu belakang mobil untuk mengambil koper, lelaki itu terlebih dulu membawakan koper Alea dan menyerahkan kepada Alea.

"Terimakasih" seru Alea.

Lelaki itu tersenyum kemudian berjalan meninggalkan Alea "Salam buat Daniel" ucapnya terakhir.

ENCOUNTERWhere stories live. Discover now