Aletta Crinjani

303 80 136
                                        

Ngga ada yang namanya murid atau siswa yang bodoh. Adanya guru yang gak bisa ngajar. -Aletta Crinjani

Terlihat seorang gadis duduk di karpet sambil merutuki penjelasan guru yang ada di depannya lebih dari 3 jam yang lalu. Ia memainkan pulpen miliknya dengan bosan, sesekali ia menghela napas kasar, entah sudah berapa kali guru di depannya itu menjelaskan hal yang sama yang tentunya sudah di hafal diluar kepala olehnya.

Ia menaruh dagunya di meja dengan buku-buku yang berserakan, lalu melihat jam yang melingkar di tangan mungilnya, ia menengok ke belakang dimana ada seorang wanita yang lebih tua enam tahun darinya sedang membuat sebuah minuman dan menyiapkan camilan, ia kembali menatap sang guru dengan wajah malas. "Masih lama?'' Ia bertanya pada guru di depannya yang sedang menjelaskan tapi tidak ada yang mendengarkan sama sekali.

"Jadwal saya mengajar kamu 6 jam dalam sehari Aletta, dan ini masih jam 9 artinya kurang 3 jam lagi,'' katanya sambil mengetuk buku dihadapannya menggunakan pulpen.

Gadis yang disebut Aletta itu memutar bola matanya jengah, "Gue udah sering belajar, udah hafal malah.'' setelah mengatakan itu ia pergi meninggalkan ruang tengah yang diikuti sepasang mata yang menatapnya sendu.

"Saya berhenti.''

"Maksud Ibu? Tolong maafkan Aletta, saya janji Aletta akan menjadi gadis yang baik nantinya.'' Arlita, Kakak Aletta memohon kepada guru privat Aletta. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Aletta membuat guru privatnya muak dengan sikap Aletta yang slalu menyepelekan guru-guru privat-nya.

"Asal anda tau Nona Arlita, sikap Aletta yang slalu mengatakan bahwa dirinya sangat pintar, memang saya tau dia pintar tapi itu membuatnya menyepelekan pelajaran dan juga guru Aletta. Saya berhenti, silahkan cari guru privat yang kuat dengan sikap Aletta. Permisi,'' Guru itu mengemasi barang-barangnya dan dengan cepat keluar dari rumah meninggalkan Arlita yang menatap punggung guru Aletta nanar.

Setelahnya, Arlita langsung bergegas menuju kamar Aletta lalu memasuki kamar tersebut, "Ini udah ke berapa kali kamu bikin guru kamu gak betah dan lebih memilih berhenti?" Katanya dengan lembut.

Aletta tetap diam menatap layar laptop tanpa menghiraukan kakaknya.

"Kakak tau, adik kakak cerdas tapi kamu gak boleh nyepelekan guru kalau gitu gak ada yang mau ngajarin kamu.''

"Bodo amat." Tukas Aletta sambil terus menatap temannya yang sering ia sebut pinky kitty karena laptopnya yang berwarna pink dengan hiasan hello kitty.

Arlita menghela napas, memang sangat sudah berbicara dengan Aletta. Ia harus ekstra sabar menghadapi kelakuan adiknya.

Sudah tiga tahun berlalu, namun sikap Aletta masih sama. Aletta yang susah diajak berbicara, irit senyum bahkan jarang sekali tersenyum atau bisa di bilang dia tidak pernah tersenyum, dan tidak mau bergaul hingga harus home schooling walaupun berakhir guru home schooling nya yang akan mengundurkan diri karena tidak bisa mentolerir sikap Aletta yang semena-mena.

Ia hanya akan banyak bicara saat berhadapan dengan dokter pribadinya dan selebihnya akan diam berkutik dengan layar laptop miliknya dikamar dengan suasana gelap gulita.

***

Malam telah tiba, Aletta mencoba membaca buku-buku yang ia punya, walaupun ia tidak bersekolah formal kecerdasannya bisa mengalahkan anak-anak yang bersekolah formal. Kebiasaannya hanya mencari dunia luar lewat temannya pinky Kitty dan selebihnya ia habiskan dengan baca buku, makan, melihat drama Korea yang berada di flashdisk milik kakaknya yang dengan sengaja ia curi, dan terakhir tidur di balkon yang nantinya akan digendong kakaknya ke kasur.

Dan sekarang ia sedang melakukan kegiatan itu, membaca buku di  cozy window seat kamarnya sambil melihat dunia luar yang bertabur bintang-bintang yang menurutnya sangat indah dipandang. Ia fokus membaca bukunya mempelajari sendiri dengan angin sepoi-sepoi lewat jendela yang terbuka.

Arlita masuk dan melihat adiknya di balkon dengan jendela terbuka. Ia menghampiri sang adik yang tengah membaca buku pelajaran lalu menutup jendela membuat Aletta menoleh menatap Arlita. "Angin malam tidak baik untuk gadis sepertimu, nanti sakit.''

Aletta hanya diam melihat kakaknya yang mulai duduk disampingnya, "Ada yang mau kakak omongin." Arlita terlihat serius saat membuka obrolan.

"Penting?'' tanya Aletta.

Arlita tersenyum lalu terlihat menghela napas mempersiapkan kata, ''Mulai minggu depan kamu akan kakak sekolahkan."

"Sekolah?"

"Formal.'' Arlita mengucapkan kata tersebut dengan pelan sangat pelan namun dapat di dengar oleh indera telinga Aletta.

Aletta terdiam sesaat sambil menatap datar kakaknya, tidak dipungkiri lagi Aletta pasti sedang menahan emosi kemarahannya kepada kakaknya itu.

"Kenapa?''

Setiap kata singkat yang dikatakan adiknya itu, Arlita pasti tahu apa maksud tersirat kata tersebut. Begitupula saat ini, Arlita terlalu terbiasa mendengar kesingkatan adiknya saat berbicara. "Iya kakak kira itu lebih baik buat kamu."

Lebih baik? Itu akan menambah lebih buruk bagi Aletta. Home schooling saja sudah membuatnya kesal dan tidak ada hasil baginya. Apalagi sekolah formal? Percuma juga menurutnya. "Gamau.'' titah Aletta.

Arlita lebih mendekat kesamping adiknya tersenyum singkat, "Seminggu lagi Al, masih lama. Dan kamu boleh bersenang-senang terlebih dahulu dalam satu Minggu ini tanpa belajar dan tanpa guru private. Tapi setelahnya kamu harus belajar di sekolah yang sudah kakak pilih dan kakak yakin itu sekolah bagus karena itu sekolah yang cukup terkenal di Bandung.''

"Kakak gak mau kalau kamu hanya berteman dengan pinky Kitty. Kamu manusia, makhluk sosial Al, kamu harus punya teman dan bergaul layaknya seorang remaja tanpa beban.''

Ucapan Arlita membuat mata Aletta berkaca-kaca, ini zona nyamannya dan akan slalu begitu. Ia takut keluar walau hanya untuk melihat bagaimana keadaan dunia sekarang. "Kamu bisa pikirkan itu.'' Arlita mengacak-acak pucuk rambut Aletta sambil tersenyum lalu keluar dari balkon kamar Aletta. Meninggalkan Aletta dengan pikiran yang berkecamuk.

Haruskah ia keluar dari zona ternyaman-nya selama ini? Oh tuhan ia tidak mau dan tidak mampu.

Dunia luar terlalu kejam baginya, dunia luar sangat mengerikan. Dimana semua orang akan menatapnya dengan tatapan aneh.

Seminggu bukan waktu yang lama, seminggu itu begitu cepat bahkan sangat cepat. Jika ia mempunyai Doraemon ia ingin menghentikan waktu agar tidak bertemu satu Minggu ke depan.

Sekarang Aletta harus bagaimana? Kabur? Ia saja sangat takut menginjakan dunia luar dan itu sangat mustahil baginya.

Tuhan, tolong Aletta sekarang.

~SORISSO~

Setelah lama vakum di dunia kepenulisan, iam back!

Bintang & Bulan sengaja aku unpublik agar bisa ngikutin alur Sorisso ini😌

Alur ini lebih sellow and ringan dibanding Bintang & Bulan yang mellow🤧

Next Ditto Banyu Prasetyo?
Yeay or no?

Dear, LettaWhere stories live. Discover now