Ruang musik...
Tulisan itu terukir di papan kayu yang terletak diatas pintu. Sudah hampir tiga bulan bersekolah disini, baru kali ini aku menghampiri tempat ini.
Ku putar kenop pintu itu. Berbagai macam alat musik terdapat didalamnya. Ruangan ini begitu sunyi, karena tidak ada satu pun orang terkecuali aku.
Kakiku melangkah menuju sebuah panggung kecil yang terdapat sebuah piano. Ingatanku kembali pada beberapa tahun lalu. Meski samar, aku masih dapat mengingat bagaimana dia mengajarkanku.
Jamariku menari diatas tuts, menimbulkan alunan musik Someone Like You, lagu yang pertama kali dia ajarkan untukku.
Aku tenggelam dalam lantunan yang ku mainkan sendiri. Sekelebat bayangan saat bersamanya ikut berputar dalam pikiranku.
Aku menarik diri dan kembali dalam dunia nyata. Menghentikan permaninanku saat mendengar suara tepukan tangan.
"Sejak kapan lo disitu?" Tanyaku pada Bintang.
"Belum lama, maybe. Ternyata lo pintar main piano Kae!" Ucapnya antusias.
"Biasa aja," sahutku. "Udah lama gue gak main alat musik ini lagi. Mungkin tadi ada beberapa nada yang salah,"
Bintang terdiam sejenak, lalu menepuk dahinya, "Oh ya! Lo mau pulang, gak? Sekolah ada rapat dadakan. Jadi kita para murid dipulangkan,"
Mulutku membentuk huruf O, lalu turun menghampiri Bintang.
"Jadi lo kesini cuma mau ngabarin itu?" Tanyaku sambil berjalan beriringan dengan Bintang keluar ruangan.
Cewek itu mengangguk.
"Lo mau ambil tas?"
"Iyalah, masak gue tinggal."
Bintang terkekeh, "Gue duluan ya. Udah dijemput,"
"Iya, iya. Btw, thanks, lho."
Kami berpisah. Bintang berbelok sedangkan kelas kami masih harus lurus.
Sekolah sudah sepi. Hanya ada beberapa murid yang memilih untuk berdiam diri sejenak disekolah.
Suka bingung sama pikiran anak remaja sekarang. Disuruh pulang bukan pulang. belum disuruh pulang, mau nya pulang. Termasuk aku si, hehe.
Aku memperhatikan segerombolan laki laki yang sedang duduk didepan X Mipa 1. Bukan, bukan mereka yang aku perhatikan. Bola mata ini hanya fokus pada satu orang. Laki laki yang hanya terdiam disaat sekelilingnya ramai oleh canda dan tawa. Ia tidak peduli dan seperti tidak merasa terganggu. Dengan menunduk jari jarinya terus bergerak dilayar benda berbentuk persegi.
Bukan hanya sekali aku memperhatikannya. Sering kali secara diam diam. Memang, ia memiliki sifat cuek dan dingin, namun entahlah, kali ini aku merasa ia berbeda.
Matanya menangkap tepat dimataku. Membuat desiran aneh menjalar. Aku terus memperhatikannya. Saat ia memasukan ponselnya lalu melangkah mengahampiriku.
What?!
Oh tidak! Aku segera berjalan masuk kedalam kelasku. Merapihkan seluruh peralatan tulis dan kembali ke luar kelas.
Jantung ini hampir saja lari dari tempatnya. Laki laki itu sudah berada didepan kelasku. Tatapan tajam itu benar benar membuat nyaliku ciut.
"Lo kenapa?" Tanya ku memberanikan diri. Ia tidak menjawab, namun tatapannya terus mengintimidasi ku.
Apa yang harus aku lakukan? Jika lari, ia pasti akan dengan cepat menghadangku.
Gak bisa nih gue diginiin!
"Ayo, pulang."
Nyaliku tidaklah sangat besar untuk menolak. Dengan terpaksa aku berjalan mengikutinya menuju parkiran.
Aku memegang pundak laki laki itu untuk membantu ku naik ke atas motornya.
Diperjalanan nyaris saja aku memeluk Gege. Astaga laki laki ini sedang modus atau gimana?!
"Ge, kenapa sih?!" Tanyaku kesal. Seperti biasanya Gege tidak langsung menjawab pertanyaanku.
"Ge, sebenernya lo itu kenapa?" Aku melembutkan suaraku. Aku rasa Gege mempunyai masalah.
"Mama kembali masuk rumah sakit,"
◇◇◇◇◇
Haii guys!
Tinggalkan jejak yah❣
Salam manis💋
