Prologue √

22.9K 748 16
                                        

"Chloe." Suara itu terdengar halus memanggil nama gadis muda berambut coklat yang kini berdiri mematung. Matanya melotot karena sekitarnya hanya terdapat ruangan putih, jarak pandangannya tak terbatas, seakan menunjukkan bahwa ruangan tersebut tak berujung. Membuat gadis itu pening.

Dengan bibir gemetar dan tremor yang mulai menyerang kedua telapak tangannya. Gadis itu menyahut dengan ragu.

"Siapa itu?!"

Tiba-tiba sekelilingnya berubah menjadi taman yang sangat indah. Dipinggir taman terdapat jalan setapak yang dilindungi pohon tatebuya kuning, putih, dan merah muda yang mulai mekar. Kelopaknya yang berguguran membuat jalanan penuh warna.

Beberapa ekor kupu-kupu menghinggapi dedaunan sebelum terbang ke arahnya. Namun anehnya, semakin dekat dengannya kupu-kupu itu seakan menggandakan jumlahnya. Dari yang semula hanya dua menjadi, lima, sepuluh, hingga berjumlah puluhan bahkan ratusan membentuk sesuatu. Lama-lama bentuk itu mulai menyerupai manusia, hingga kejadian selanjutnya membuat Chloe tak sanggup berkata-kata.

Kupu-kupu itu memadat hingga menampakkan wujud aslinya.  Seorang wanita seperempat abad dengan rambut panjang yang sebagian dipilin masing-masing ujungnya lalu diikat menjadi satu, rambut yang tak terikat terkibar seiring langkahnya mendekat. Mata hazelnya memancarkan kehangatan, hidung mancungnya seakan mengundang untuk ditarik. Penampilannya semakin lengkap dengan gaun hijau bermotif floral dengan renda sebagai pinggiran, semata kaki dengan ujung belakangnya lebih panjang dari sisi yang lain sehingga akan terseret saat wanita itu berjalan. Kakinya beralas sepatu flat kulit berwarna coklat muda beraksen hitam. Dia tersenyum hangat, membuat Chloe lekas mengenalinya sebagai wanita terhebat sedunia.

"I-ibu." Panggilnya dengan mata berkaca-kaca. Tangan kanannya membekap mulut karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Eliza kembali tersenyum, tetes bening tak luput dari penglihatan Chloe saat butiran itu mengalir di pipi ibunya.

"K-kau... Kau benar-benar ibuku, kan? Aku tidak sedang bermimpi, kan?" Tanya Chloe memastikan. Kembali senyum manis disertai anggukan itu menjadi pertanda bahwa ini bukan hayalan.

"Kamu nggak kangen sama Ibu, ya, sampai nggak mau peluk?" Ucap Eliza dengan suara renyahnya pura-pura merajuk. Chloe yang melihat tingkah ibunya terkekeh geli walau tak ayal berlari menghampiri beliau setelahnya. Dengan penuh kasih, Eliza membawa putrinya kedalam pelukannya yang segera dibalas oleh Chloe.

"Sayang, sebenarnya waktu ibu tidak banyak disini." Ucap Eliza membuat binar dimata Chloe meredup.

"J-jadi Ibu akan pergi lagi?" Tanya Chloe diangguki pelan oleh Eliza. Chloe berkaca.

Mengusap air mata diwajah manis anaknya. Eliza kembali mengulas senyum hangat.

" Anggap saja ini Ibu, dia yang akan mendengarkan seluruh ceritamu. Dia juga yang akan melindungi mu dari segala kejahatan. Jaga baik-baik karena ini sebagian diri ibu. Jangan sampai hilang, atau ibu akan marah, ibu akan menghampirimu sampai itu terjadi."

"Aku akan menghilangkannya agar ibu kembali!" Ucap Chloe hendak melempar kalung berliontin itu.

"Jangan. Karena ketika ibu kembali karena kamu menghilangkannya. Itu akan menjadi bencana untukmu, untuk seluruh dunia. Jaga baik-baik." Ucap Eliza membuat Chloe mengatupkan mulutnya. Kedua tangannya menggenggam erat liontin itu. Perlahan, tubuh Eliza memudar. Chloe yang melihatnya tersedu, tak bisa melakukan apapun. Sampai benar-benar menghilang, yang bisa gadis itu lakukan hanya memanggil ibunya.

"Ibu!"

"Nona, apakah Nona baik-baik saja?" Ketukan di pintu membuat gadis yang terbalut baju perang yang terbuat dari besi ringan itu menghela napas berat. Ia ingat sebelum ini terluka akibat sabetan pedang yang mengenai perutnya yang kini telah terbalut kasa tebal.

"Hanya mimpi." Ucapnya pelan.

"Aku baik." Ucapnya pelan yang dijawab kelegaan oleh sang pelayan yang meminta undur diri.

Dengan terseok, ia mencoba mendekati jendela. Taman yang biasanya hijau, kini tergenang cairan merah hasil peperangan. Puluhan prajurit baik dari kubunya maupun lawan telah tergeletak tak berdaya. Membuat gadis itu meneguk liurnya kasar.

"Apakah ini Ibu? Maafkan aku... Aku telah melalaikan pesanmu."

***

Untuk ukuran prolog kepanjangan nggak, sih?

Semoga sukaa!

Salam,
EstianDeridho
Muruh, 07 Januari 2020 (edited)

Muruh, 28 September 2019

Academy Magic SchoolHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora