"Kasus hilangnya seorang gadis remaja selama lima hari ini berakhir tragis. Korban berinisial GL ditemukan tewas dalam keadaan tubuh terkulai di dalam sebuah gedung tua yang tidak terpakai. Bukan hanya itu, dalam sebuah foto memperlihatkan bahwa korban mendapatkan luka di sekujur tubuh. Korban diduga mendapat penganiyaan.
GL menghilang setelah beberapa hari menginap di sebuah hotel kawasan Jakarta Barat. Sempat dimintai keterangan terkait korban, dua temannya yang menjadi orang terakhir yang dihubungi mengaku bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui keadaan GL.
Keluarga korban telah menyetujui tinjauan autopsi untuk mencari bukti kasus kematian terhadap GL. Tim dari kepolisian juga masih terus mencari informasi dan mengusut tuntas kasus tersebut. Demikian kabar hari ini, saya Anindya Putri, melaporkan."
Ibra mematikan layar televisinya. Dia memandang kosong lantai rumahnya. Mengabaikan layar ponselnya yang menyala, menampilkan banyak sekali notifikasi yang masuk.
Besok dia akan dimintai keterangan sebagai sahabat karibnya Gretta. Dia tidak tahu apa yang membuat Gretta seperti ini. Jika memang seseorang telah membunuh Gretta dengan motif tertentu, dia adalah iblis. Ibra tidak akan memaafkan orang itu, tidak akan pernah.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Bukan hanya keluarga, tetapi Ibra dan yang lain sudah menyiapkan segalanya untuk hari spesial Gretta, tetapi yang terjadi justru Gretta yang memberi kejutan yang tak pernah mereka duga.
Gretta menghilang dan berakhir ditemukan tewas. Ibra masih mencerna segalanya sampai hari ini.
Ibra mengerjap pelan saat ada panggilan grup di layar ponselnya. Dia bergerak mengambil itu dan menerimanya.
"Gretta nggak ada cerita apa-apa ke kalian?" tanya Alby lebih memulai pembicaraan di seberang sana.
"Gretta nggak pernah cerita ke gue. I mean, nggak sedekat itu buat berbagi masalahnya," jawab Raksa. Dia sempat terdiam beberapa saat sampai dia kembali bersuara. "Gue sama Alby memang orang terakhir yang dihubungi Gretta, tapi cuma perihal hari ulang tahunnya sebelum dia hilang."
Kemudian hening beberapa saat sampai Jira ikut bersuara.
"Terakhir dia cerita mau seharian ngabisin waktu bareng kita. Hari ini, tepat ulang tahunnya." Suaranya terdengar lemas. Di antara mereka semua, dia memang yang paling dekat dengan Gretta. Besok dia dan Ibra yang akan dimintai keterangan.
"Gue nggak ngerti gimana bisa," Kaavi menyahut. Dia masih penasaran apa yang terjadi kepada Gretta. "Kalau memang Gretta dibunuh, siapa pelakunya? Kalau sengaja bunuh diri, gue juga nggak yakin."
Sagala yang sejak tadi diam pun menyahut, "Tunggu keterangan aja dari polisi." Berakhir semuanya setuju tentang itu.
Pada akhirnya dari mereka tak ada yang bisa menduga. Bahkan Jiva yang merupakan orang yang suka menjadi tempat cerita saja tidak tahu apa yang membuat Gretta seperti itu. Mereka semua memilih mengakhiri panggilan grup setelah memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada polisi dan hasil autopsi.
Ibra menghela napas, meletakkan ponselnya ke tempat semula. Dia kemudian bersandar pada sofa dan memejamkan matanya yang terasa lelah. Dia menghabiskan banyak waktu dan tenaga tentang Gretta yang menghilang dan juga tewas dalam waktu yang tidak diperkirakan. Perlahan dia mulai larut dalam alam tidurnya.
Pada awalnya semua terasa baik-baik saja. Namun, saat sudah melewati beberapa jam setelahnya, Ibra terbangun dengan perasaan tidak tenang. Dia menegakkan tubuhnya, mengusap wajahnya lelah dan rasa kantuk yang belum menghilang. Matanya masih terasa berat. Jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam, yang artinya hari mulai berganti. Ibra baru akan bangkit untuk ke kamar melanjutkan tidur, namun suara notifikasi di ponselnya membuat Ibra urung untuk beranjak dari sana.
Tepat pada dua belas malam, Ibra mendadak sekujur tubuhnya meremang ketika mendapat sebuah pesan masuk berisi—
“Who's next?"[]
YOU ARE READING
Bloody Birthday
Teen FictionKisah persahabatan yang kian hancur, mengetahui satu fakta bahwa ada satu di antara mereka yang menjadi pembunuh di setiap hari ulang tahun. So, who did it?
