Musim semi selalu menjadi hal yang ditunggu oleh banyak kalangan, termasuk orang-orang di Seoul. Aroma manis udara yang dihirup, juga bunga yang bermekaran, bagai penawar selepas musim dingin yang mencekam. Tak ayal banyak orang beramai-ramai menikmati hamparan bunga sakura yang bermekaran di tiap sudut kota, bahkan sepanjang jalan. Meski orang-orang di Seoul terkenal dengan kehidupan seperti dikejar waktu, tapi aroma bunga yang bermekaran setidaknya mampu membuat langkah mereka jauh lebih pelan.
Berbeda dengan teman-temannya, Kim Taehyung selalu mengurung diri tiap kali musim semi tiba. Ia selalu menolak tawaran teman-temannya tiap kali mengajaknya menikmati sakura di festival musim semi.
"Kau yakin akan melewatkannya lagi?" entah sudah berapa kali Jimin melempar pertanyaan yang sama. "Ayolah Taehyung!" wajahnya yang chubby tiba-tiba merengek tepat di depan layar komputer milik Taehyung.
Buru-buru ia menepis wajah Jimin dengan tangannya. "Pergilah, aku masih banyak urusan penting."
"Kau pikir bermain games dengan volume sangat keras menjadi urusan penting?" Mata Jimin mengarah pada layar komputer dan dua speaker yang selalu jadi penyebab mereka bertengkar.
Taehyung kini beranjak dari kursinya, mendorong Jimin yang masih saja membujuknya. "Pergilah dengan yang lain. Jungkook atau Hoseok pasti akan menemanimu."
Jimin akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan Taehyung di kamarnya. "Mengapa sulit sekali mengajakmu untuk sekedar menikmati sakura?"
•
Tidak, Taehyung bukan tak ingin menghabiskan waktu dengan teman-temannya, hanya saja tubuhnya terlalu lelah. Kesibukkannya di kampus, ditambah dengan kerja part time yang baru saja ia jalani sebulan terakhir ini cukup menyita waktu dan melelahkan fisiknya. Tubuhnya semakin kurus, membuat kaos yang ia pakai seakan menenggelamkan tubuhnya.
Taehyung mematikan komputernya, bersiap keluar, meraih jaket jeans favorite yang sudah tiga bulan tak pernah ia cuci. Jemarinya merapihkan rambut yang belum ia sisir sambil bercermin di jendela kamarnya. Langkahnya ragu, tapi ia tetap membiarkan kakinya terus menapaki jalan, aroma sakura langsung tercium segar menjalar melalui rongga hidungnya. Dering ponselnya membuatnya menghentikan langkah. 'Eomma' nama yang tertulis di layar ponselnya, membuatnya langsung menonaktifkan ponsel dan melanjutkan langkahnya.
Hubungan Taehyung dengan keluarganya sebenarnya baik-baik saja, entah mengapa Taehyung mulai menjauh sejak ia memilih melanjutkan studi di Seoul dua tahun lalu. Ia sudah hafal, pasti ibunya akan memintanya pulang. Semenjak pindah ke Seoul, Taehyung tak pernah pulang ke Daegu. Baginya, pulang berarti menggalih kembali luka yang susah payah ia kubur.
Jemarinya sibuk merogoh saku jaketnya, mencari sisa lintingan rokok yang semalam ia sisakan di saku. Merokok mulai menjadi kebiasaan Taehyung, bahkan sejak di Daegu. Baginya, satu-satunya cara melepas penat adalah dengan menghisap lintingan rokok dan membiarkan tiap rasa sakit mengepul bersama asap yang dia hembuskan. Kebiasaan ini awalnya ditentang ole ibunya, tapi Taehyung tak punya cara lain selain merokok.
Sejujurnya Taehyung enggan keluar karena ingin beristirahat, tapi hari ini di kampusnya akan diadakan Memoriam untuk korban Tragedi Sewol. Buru-buru ia habiskan rokoknya dan membuang sisa puntung yang baru ia injak untuk mematikan baranya. Sesampainya di kampus, ia bertemu beberapa temannya, termasuk Namjoon yang langsung melambaikan tangan ke hadapannya. "Taehyung!"
Taehyung menghampiri Namjoon. "Aku rasa kalian sudah bersiap-siap sejak tadi?"
Setengah bibir Namjoon merekah, menampilkan lesung pipi yang cukup dalam. "Sudah kubilang, datanglah lebih awal." Namjoon mengecek arlojinya, "kau telat, semua orang sudah tiba sejak tiga jam lalu untuk persiapan."
YOU ARE READING
Singularity
Fanfiction"Jangan lupa besok! Awas kalau kau telat!" Perempuan itu memperlihatkan telunjuknya seolah mengancam lelaki yang baru saja mengantarnya pulang. Ia tersenyum lebar menanggapi kelakuan perempuan yang sudah ia kenal dua tahun terakhir. "Pukul 07.00, ak...
