Sepenggal Kisah Hijrah
By : Afie Yuliana
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Kisah hijrah saya berawal dari kegelisahan yang tak kunjung reda bergemuruh dalam dada sejak saya masih belia. Dulu agama adalah sesuatu yang asing bagi saya. Sekedar pengetahuan wajib yang diujikan berkala di sekolah, sesuatu yang dituntut orangtua dan masyarakat, tapi hati ini serasa jauh darinya. Ada apa dengan saya? Kenapa dulu saya tak jatuh cinta pada agama yang saya akui saya anut?
🌼
Kering hidayah. Mungkin itulah jawabannya. Hati ini sudah terlalu lama ditumpuk oleh angan-angan dunia, tenggelam dalam mendambakan puja manusia, agama hanya menjadi sebuah retorika belum merasuk dalam jiwa. Bagaikan air, hati ini keruh, hitam oleh kesia-siaan hingga cahaya Nur agama Islam tak menembus ke dalamnya. Lalu saya mulai bertanya, dari semua ‘keduniaan’ yang saya punya, kenapa hati ini tak bahagia, seperti ada lubang gelap penuh kegelisahan yang tak kunjung terpenuhi dengan dunia yang selama ini jungkir balik saya kejar. Ada sesuatu yang sangat penting, hilang dari jiwa saya.
🌼
Qodarullah, Allah berkenan menjawab kegelisahan saya. Allah mempertemukan saya dengan ulama yang jaraknya begitu dekat dengan tempat saya berkuliah dulu. Kawasan sejuk Daarut Tauhid milik KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menjadi tempat dimana saya hati menemukan seteguk kedamaian saat melihat para santri, akhwat dan ikhwan berseliweran dengan wajah teduh penuh senyum. Saya bukan bagian dari mereka tapi saya terinspirasi dengan kehadiran mereka yang membawa semilir ketentraman dimanapun mereka berada. Berpakaian sederhana, menutup aurat dan sopan sambil dengan khidmat mencari ilmu di jalan Allah. Mereka tak terlihat gamang dan gelisah seperti saya. Ingin rasanya menjadi seperti mereka. Tapi kefanaan dunia masih terus meraja dalam hati saya hingga enggan saya menyambut panggilan itu. Meski berkali-kali keinginan kuat itu datang terutama setelah mendengarkan tausiyah Aa Gym yang sesekali saya dengar baik langsung maupun lewat media, tapi saat itu lingkungan selalu menarik saya kembali pada diri saya yang dulu.
🌼
Hingga sebuah pengalaman spiritual yang begitu berkesan saya dapatkan lewat ESQ (Emotional Spiritual Quotion) bersama Ary Ginanjar di Semarang, sebuah perhelatan yang menjamu para penerima beasiswa seIndonesia. Hati saya berguncang hebat, deras penyesalan membuncahkan air mata, ayat-ayat suci Al Quran meruntuhkan ego saya, Allah seperti sedang berbicara pada saya lewat ayat-ayatnya, lewat hikmah yang disampaikan oleh Ust. Ary. Tentang dosa, tentang nikmat Allah yang tak terhitung, tentang kebesaran Allah, penciptaan Bumi, penciptaan manusia, betapa manusia bak debu di alam semesta ciptaan Allah tapi betapa cintanya Allah menjaga dan memelihara kita, betapa berlimpahnya karunia yang Allah berikan tiap detiknya, tapi kenapa manusia tak kunjung taat?
Apa yang akan ku jawab saat menghadap Allah?
Bukan hanya saya yang rubuh dalam tangis hari itu. Seusai acara wajah-wajah sembab itu terbata menelepon seorang yang dicinta di ujung telepon sambil memohon maaf karena sadar tak lama kiranya bisa berjumpa jika Allah menakdirkan ajal tiba pada kita atau pada yang kita cinta.
🌼
Maka saat senja turun dari peraduan kala itu, saya bernazar dalam hati kepada Allah, bahwa saya ingin menjadi lebih baik, ingin lebih taat, ingin memulai hijrah saya dengan menutup aurat saat saya sudah menikah dengan jodoh pilihan Allah. Kala itu saya masih sendiri. Lalu qodarullah beberapa bulan setelah bernazar, saya dipertemukan dengan jodoh saya dan setelah setahun saling mengenal kami pun menikah. Seolah-olah Allah tak ingin saya berlama-lama memulai hijrah saya. Padahal saya sudah begitu lancang mengajukan syarat untuk taat, tapi kasih sayang Allah lebih besar dari murkanya. Ya Allah… kini saya menyesal, kenapa saya harus mengajukan syarat seperti itu pada Allah? Kenapa tidak langsung saja saat itu saya taat menutup aurat. Semoga Allah mengampuni saya.
🌼
Singkat cerita, tak lama setelah menikah, saya mulai mengenakan hijab, itupun belum syari. Dan luar biasa, saya merasakan kedamaian saat mengenakan hijab, tak ada lagi siulan pelecehan dari laki-laki iseng di jalanan, tak ada lagi tatapan di jalanan yang membuat saya risih. Ya Allah, saya bahagia. Bukan, ini setingkat lebih tinggi. Ini DAMAI. Perlahan saya lebih sering mendengarkan tausiyah dari para ustadz, semakin mantaplah saya, semakin sejuklah hati saya, lubang gelap penuh kegelisahan itu kini terpenuhi dengan cahaya. Kami pun dikaruniai seorang putra tak lama setelah menikah. Hidup saya semakin berubah. Apalagi saat saya tahu putra kami butuh penanganan khusus dengan biaya yang tak sedikit dan membutuhkan pendampingan penuh orangtua. Sempat tak berdaya dan putus asa tapi di dalamnya kami menemukan kekuatan dengan sepenuhnya menyandarkan harapan pada Allah Yang Maha Kuasa. Hingga ikhtiar, peluh, dan tumpahan air mata, Allah balas dengan diperkenankannya doa-doa kami. Putra kami semakin membaik bahkan di mata kami ia sungguh membanggakan. Biarlah orang lain berkata apa. Bagi kami dia karunia, dia anak sholeh kami yang akan selalu membuat kami bangga.
🌼
Meski kami tak luput dari dosa, namun Allah tak pernah berhenti melimpahkan karunia kepada kami. Bahkan meski saya berhenti bekerja demi mendampingi anak, Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan studi S2 saya. Di kampus saya bertemu dengan seorang Ibu berhijab syari yang menjadi teman saya selama berkuliah. Beliau begitu baik hati dan sangat menginspirasi. Satu stel gamis syari yang saya beli dari beliau adalah awal saya berhijab syari. Masya Allah, ternyata jauh lebih nyaman dari pakaian saya sebelumnya. Tidak panas. Malah justru lebih adem sampai ke hati. Darisitu saya memutuskan untuk terus berhijab syari sebagai bagian dari hijrah saya. Saya mulai rutin membaca buku-buku agama, hadir dalam kajian-kajian ilmu, rutin membaca Al Quran dan belajar bahasa arab, pelan-pelan bertaubat dan menutup semua pintu riba. Tapi sekali lagi saya belum merasa benar-benar hijrah. Masih banyak kesilapan dan kekhilafan saya sebagai seorang hamba. Namun meski begitu saya ingin terus berjuang meski tertatih untuk terus menjadi lebih baik agar Allah berkenan meridhoi saya. Semoga Allah mengampuni masa lalu saya, mengampuni dosa yang khilaf saya lakukan saat ini, dan Allah berkenan memberikan petunjuk pada saya agar bisa menjalani hidup yang Allah ridhoi di dunia terlebih lagi di akhirat.
🌼
Keadaan iman yang naik turun membuat saya mencari penguatan dengan mencari teman-teman yang dapat mengingatkan saya dari kekhilafan, teman untuk berbagi ilmu dan inspirasi, teman dalam iman. Qodarullah, suatu hari saya dikenalkan dengan Komunitas Hijab Syari Tangerang lewat acara GeMar (Gerakan Menutup Aurat) dan acara Khadijah Zaman Now yg mereka adakan. Terinspirasi dari kegiatan-kegiatan positif yang mereka adakan, saya pun tertarik untuk bergabung. Alhamdulillah dalam komunitas ini dipertemukan dengan sahabat-sahabat shalihah yang menginspirasi.
🌼
Terima kasih tak terhingga pada orang-orang yang pernah menginspirasi saya dalam ketaatan dan kebaikan. Orangtua yang tak berhenti mendoakan, para guru dan ulama, sahabat shalihah, dan mereka yang tak saya kenal tapi menyejukkan pandangan saya dengan berpakaian takwa dan melakukan banyak kebaikan di pandangan mata, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan pahala jariyah berlipat hingga ke Jannah.
🌼
Jangan ragu menampakkan ketaatan kalian karena boleh jadi ada orang-orang seperti saya yang terinspirasi dari kebaikan kalian lalu ingin dan berusaha mengikuti jejak-jejak kebaikan kalian. Niatkan Lillah semoga kelak apa-apa yang kita usahakan di jalan Allah bisa mengantarkan kita ke surganya Allah. Aamiiin.
Wallahu a’lam bishawab
#iniceritakuapaceritamu
Komunitas Hijab Syar'i Tangerang
#Tantanganmeiforsen
YOU ARE READING
Tantangan Mei Forsen
RandomKumpulan kisah dan coretan saya bertema isteri, ibu, dan inspirasi Ramadhan untuk writing challenge forsen bulan mei
