Seorang wanita itu di nikahi karena 4 perkara: 1).Karena hartanya. 2).Karena nasab keturunannya. 3).Karena parasnya. 4).Karena agamanya.
Yang paling utama sebagai pilihan adalah dipilih karena agamanya.
Sebenarnya Laila sudah memenuhi kriteria diatas.
Tapi tidak untuk menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari. Sikap buruknya masih belum bisa membuatnya pantas menjadikannya tergolong wanita muslimah idaman para pria.
Perubahan itu terlihat kontras begitu dia menjalani hubungan sakral pernikahan dengan pria pilihan orang tuanya.
Laila Azizatunayah. Nama indah pemberian orang tuanya itu begitu serasi dengan paras cantiknya. Gadis itu lahir di keluarga berada. Ayahnya pembisnis perusahaan, sementara ibunya berada di jajaran designer ternama.
Di usia mudanya, Laila sudah mendapat gelar sarjana di universitas Al Azhar, Kairo, mesir.
Meskipun banyak pria yang mengantri untuk menjadi pendampingnya, orang tuanya memilih jalan perjodohan untuk memilihkan pendamping untuknya.
Sayangnya pria pilihan orang tuanya itu, tak masuk ke dalam kriteria pria yang Laila idamkan.
Kelebihan yang dapat Laila lihat darinya hanyalah wajah rupawan, selebihnya hanyalah tipu-tipu untuk menarik perhatiannya semata.
Sebegitu bencinya dia dengan pernikahan ini, sampai saat ini Laila tak pernah bisa memberikan sikap lembutnya kepada pria itu.
"Apa kamu pelayanku?" Sorot mata Laila menusuk tajam menatap pria di depannya. "Aku tidak butuh perlakuan manismu."
Nampan berisi menu sarapan lengkap dengan minuman itu tidak menarik nafsu makan Laila.
"Tapi kamu sudah melewatkan waktu sarapan, Laila." Suaminya itu memang sangat keras kepala. Dia menyebalkan sampai membuat Laila ingin mengusir pria itu secepatnya.
Laila membalas jawaban suaminya, "Aku wanita mandiri. Urusi dirimu sendiri, tidak usah berlebihan karena aku bisa melakukannya sendiri."
Di pinggiran kolam renang belakang rumah adalah tempat dimana mereka sering terlibat cek-cok hanya karena masalah sepele, termasuk hari ini.
Mereka berdua memang merasa tidak cocok satu sama lain, bertolak belakang, namun sama-sama memiliki sikap keras kepala.
Hal yang menguntungkan disini hanyalah kesabaran pria itu dalam menghadapi Laila, padahal menarik kemarahannya adalah rencana Laila untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Usia pernikahan mereka sudah melewati seminggu. Tapi dalam waktu itu tak ada pertunjukan manis yang biasanya dilakukan para pengantin baru, yang sering terjadi justru pertengkaran, perbedaan pendapat dan rasa egois yang sering membuat mereka terluka satu sama lain.
Belum lagi keteguhan Laila yang begitu setia menunggu manusia dari masa lalu yang terus membuatnya kesulitan mengendalikan rasa rindunya.
Jadi mau tidak mau pihak laki-laki yang harus berinisiatif berjuang sendiri saat ini.
Maka tidak heran kenapa dia tidak pantang menyerah ketika perhatiannya berakhir sia-sia.
"Iya, aku tau. Aku mengerti, kamu wanita yang tak suka merepotkan orang lain." Nampan itu masih dibawa kuat dengan kedua tangannya. Bicaranya sangat sopan, sampai-sampai Laila kesal tak mempunyai celah untuk memantik emosinya. "Tapi kasihan perutmu jika kamu melewatkan sarapanmu lagi."
"Bukankah seharusnya kamu membiarkanku mati muda?" Laila berdecak, dia meneliti mimik wajah suaminya dengan cermat, "Kamu tidak terlihat seperti orang yang tidak peduli dengan harta warisan."
YOU ARE READING
Surga Terakhir (Complete)
SpiritualPERINGATAN!! (Mengandung kekerasan dan baper berlebihan) Hasan sengaja menyembunyikan identitasnya untuk menguji seberapa besar cinta istrinya kepadanya. Bagi Laila ini bukan soal identitas, karena yang ia cari adalah rasa nyaman. Namun rasa nyama...
