Prologue

20 2 0
                                        





Langkahnya memang selalu setegak itu, bukan, bukan tegak seperti sedang gerak jalan dalam paskibra namun punggungnya saat berjalan membentuk suatu garis yang lurus bak putri raja yang sudah mengikuti bertahun-tahun kelas tata krama. Seperti mata-mata yang lurus menatapnya tanpa absen barang satu detik pun, kekaguman terpancar dari sorot mata-mata itu. Rambutnya digerai seperti biasanya namun wajahnya sangat luar biasa cantik, saat ia tersenyum, marah, cemberut, atau sedang menampilkan wajah konyolnya atau biasa kita sebut derp face semuanya terlihat cantik. Ia memang cantik, secantik malaikat-malaikat surga. ya, mungkin perumpamaan yang berlebihan karena memang siapa yang pernah melihat malaikat surga? namun tidak ada sosok lain lagi yang bisa menggambarkan betapa cantiknya gadis itu. Langkahnya terhenti saat matanya tidak sengaja melihat seekor ular yang mencoba memanjat dinding namun sayang tak pernah bisa, tapi tanpa kenal lelah ular tersebut tetap mencoba lagi dan lagi. gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang ia kenal dan mata itu berhenti pada satu titik tak jauh dari tempatnya.

" mang ed." panggil gadis itu setengah berbisik, takut ular itu akan mendengar dan malah pergi ke arahnya untuk mematuknya.

Lelaki yang dipanggil 'mang ed' yang dimaksud gadis itu pun menengok dan terlihat bingung dengan tingkah gadis cantik itu, " kenapa, Dea?" balas Mang Ed setengah berbisik mengikuti gadis yang seperti disebutkan lelaki setengah baya itu dengan nama Dea.

" Ada ular mang, lumayan gede di situ." jelas Dea sambil menunjuk ke arah ular yang masih tak pantang menyerah itu.

" hah? apaah?" reaksi berlebihan terlihat jelas di wajah Mang Ed, dengan cekatan ia menarik sebuah bambu panjang yang ujungnya terdapat lekukkan setengah lingkarang yang Dea yakinin sebagai alat penangkap ular.

" Ssssttt. jangan berisik Mang, yang ada ularnya nanti ngeh trus lari. Kan berabe kalau larinya ke dalam kelas, bisa gempar."

Mang ed berjalan cepat namun sebisa mungkin tanpa suara ke arah Dea dengan tongkat penangkap ularnya tersebut, tongkat itu lumayan panjang sehingga tak perlu berdekatan dengan ularnya karena di antara mereka tidak ada yang tahu ular itu berbisa atau tidak.

Tangan Mang ed perlahan namun terdapat getar samar di sana mendekati kepala dari ular tersebut, seperti menyadari kedatangan tongkat yang Mang Ed gerakkan padanya ular tersebut mematuk tongkat tersebut secara refleks yang membuat Mang ed maupun Dea terlonjak kaget dengan reaksi ular tersebut. Dengan cepat Mang Ed menekan kepala ular tersebut ke tanah namun tak berhasil dan ular tersebut merayap menjauhi mereka ke arah semak-semak yang memang belakangnya adalah sebuah perkebunan kecil milik warga yang tinggal di pinggir sekolah.

" Mang ed, gimana dong ularnya kabur ke perkebunan warga?" Dea terlihat panik seketika.

" Bagus dong, neng. daripada kekelas." jawab Mang Ed singkat kemudian melangkah pergi seperti merasa tugasnya sudah terselesaikan setelah memastikan bahwa ular tersebut tidak berbalik arah.

" hih, Mang Ed jahat. kalau warga ada yang dipatok gimana?"

" ngga kok biasanya warga udah naburin garam."

" emangnya ngaruh apa, mang?"

Mang Ed menaikkan kedua bahunya tanda tak tahu, " neng Dea mending masuk ke kelas bentar lagi bel masuk, lho."

Dea melirik jam di pergelangan tangan kanannya, " ohiya, okedeh. makasih Mang Ed." tanpa berlama-lama Dea berlari kecil ke arah kelasnya yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri tadi. namun, larinya terhenti saat ia mendengar seseorang memanggil namanya kencang, kepalanya tertoleh pada sumber suara namun tidak terlihat penampakannya. Alis Dea bertautan satu sama lain, suara yang memanggilnya tidak ia kenali dan tidak ada siapapun yang terlihat memanggilnya tadi. Dea menggeleng pelan dan melanjutkan langkahnya hingga ke kelas. aneh batinnya menggema.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 02, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ELDORADO : INCANDESCENTWhere stories live. Discover now