S a t u ﻌ Rumah Pohon

119 14 6
                                        

Fiona menatap rumah pohon yang sekian lama tak Ia kunjungi. Meskipun letaknya tak sangat jauh dari rumahnya, tapi Ia tak barang sekali pun pergi ke tempat itu. Seakan bayangan lalu terlintas dalam pandangannya pada rumah pohon di hadapannya.

Berapa lama?

Sebanyak dia menjauh, sebanyak waktu Ia habiskan bukan di rumah pohon itu.

Ia benci hujan pada malam terakhir ia bersamanya. Ia rindu hujan pada hari pertama bersamanya.

Rindu.

"Gue gak ngerti, Tur.. Kenapa kita kayak gini? " tanyanya pada pohon besar di depannya.

Fiona berjalan mendekat pada pohon itu, langsung ia tatap ukiran kepemilikan di pohon itu.

Punya :

Fiona Alona Febriani.
Guntur Alam Septian.

Membaca nama Guntur, membuat setetes air matanya turun tanpa permisi. Dua tahun yang berat tanpanya. Dua tahun pertama rasa rindu dan benci pada hujan menyatu.

Wanita dengan rambut terkepang itu langsung menaiki tangga untuk mencapai sekotak rumah di atas pohon itu. Langkahnya perlahan seolah ada jangkar yang terikat di kakinya. Berat.

Ia sampai.

Hujan perlahan mulai turun.

Gerimis.

Kehangatan langsung ia rasakan dalam tubuhnya yang sekian lama membeku. Rasanya seolah sepasang tangan memeluknya. Ia suka perasaan itu.

Lampu bersinar kuning pun seakan menambahkan kehangatan dalam sekotak ruang atas pohon.

Segaris senyum ia tunjukkan pada ruang kosong itu.

Biasanya, ia tidak sendiri.

Sekarang, ia sendiri.

Tap.

Tap.

Tap.

☔☔☔

Pria dengan bentuk bahu bidang serta badan yang tinggi itu menghela napasnya dengan berat. Ia mempersiapkan diri untuk mencapai satuan tangga di pohon yang kini ia tatap. Entah bagaimana, hari ini ia begitu ingin ke tempat ini setelah sekian lama. Batinnya mengatakan, saat ini ia sedang rindu. Selalu rindu.

Satu anak tangga telah ia lewati.

Dua,

Tiga,

Empat,

Hujan mulai turun. Tinggal empat anak tangga lagi.

Dan,

Mata mereka bertemu. Setelah sekian lama.

Keduanya sama-sama menunjukkan pandangan terkejut, senang, rindu, dan kalut. Tatapan mereka masih bertahan setelah lima detik.

"Guntur.." lirih Fiona.

Hening.

"Ngapain lo disini? " tanya mereka bersamaan.

Hening.

Guntur mencoba untuk menghilangkan egonya. Ia memijak alas dari sekotak ruang itu. Ia pun duduk di samping gadis yang selama ini Ia hindari. Ia belun berani menyuarakan suaranya. Tenggorokannya seakan tersumbat oleh sampah-sampah yang tidak berjalan lancar dalam sistem perairan.

"Kenapa? " Fiona langsung melontatkan pertanyaan yang selama ini ia pendam.

Guntur masih belum mengeluarkan suaranya. Bahkan, Fiona pikir, Guntur sedang menahan napasnya. Ia memang benar-bebar diam.

Hujan Membuatku Rindu [ C O M P L E T E ] Bağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin