Namanya Iswara Mandasari seorang gadis introvert, pendiam, dingin namun pemberani. Ia yang lebih menyukai berjalan di bawah rinai hujan daripada duduk diam mengagumi indah pelangi. Gadis ini, tidak suka kedatangannya ditunggu, kepergiannya dicari, hilangnya dirindui. Menurut Yoda seseorang yang selalu ingin menjaganya, Iswara lebih mirip jelmaan angin yang bisa kamu hirup namun tak bisa kamu tangkap, yang terasa namun tak kan tergenggam. Memiliki seorang Iswara adalah kemustahilan yang selalu disemogakan.
Yang paling menarik dari seorang Iswara adalah senyumnya, ia tidak menggunakan bibir melainkan hati. Bagi Iswara tak semua tindakannya, ucapannya, keputusannya harus memiliki alasan maka dari itu ia juga merasa tak seluruh kalimat tanya yang diawali oleh mengapa mesti terjawab dengan karena. Beberapa hal yang terjadi biarlah terjadi begitu saja tanpa harus kita tahu apa dan bagaimana. Terkadang dia hanya melirik manis dengan mata serupa kejora lalu berkedip pelan kembali mengalihkan tatapannya.
Iswara tidak suka dirinya terikat dengan janji-janji, balas budi atau hal yang memerlukan timbal balik lainnya. Bagi Iswara, takluk pada takdir adalah hal terbaik, ia lebih percaya pada pengaruh semesta daripada kata-kata yang pada akhirnya akan terlupa jua. Ah, Iswara. Sulit untuk tidak jatuh cinta pada perempuan satu ini, mungkin jika aku lelaki, ia pun sudah lama aku nikahi.
Pikirannya akan selalu jadi alam liar yang tak terjamah. Dengan mengajak dia berdiskusi, niscaya akan kau temukan sebuah jawaban yang mungkin selama ini tak kamu dapatkan.
Iswara, gadis merdeka banyak cinta. Ia mampu menjadi Bidadari paling dikagumi lalu sedetik kemudian beralih Iblis tak berbudi. Tapi kurasa, bagaimanapun, kamu akan tetap menyukainya tersebab sebentar lagi ia akan segera hadir untukmu dengan segala pikiran liarnya merasuki pikiranmu, candu.
