#1 Broken Home

12 1 3
                                        

Hari-hari di sekolah tak lebih baik dari hari sebelum-sebelumnya. Dia memang pintar dan punya seorang sahabat dan pacar yang tampan, tapi ternyata sahabatnya sedang sakit dan pacarnya itu katanya ada acara keluarga, jadi dia kesepian.

Membosankan. Kata itu yang selalu menemani Richel tiap detik. Dirinya memang tidak punya sahabat lain selain Cyren, sahabatnya yang sedang sakit. Richel tak terlalu dekat dengan yang lain.Hanya buku novel kesayangannya lah yang menemaninya saat ini.

                                 ~~~

Seorang gadis berjalan melalui ruang keluarga yang terlihat sangat hangat, ia berjalan gontai sambil menggusur tas ranselnya yang berwarna hitam doff. Wajahnya murung. Ya, Richel

Disisi lain, tengah duduk seorang perempuan paruh baya dengan wajah ditekuk di ruang keluarga dengan lelaki paruh baya disebelahnya.

"Richel, kamu baru pulang ya, sayang?" sapa lelaki paruh baya tersebut dengan hangat walaupun tubuhnya telah dirasa remuk. Sedangkan gadis yang ditanya oleh Fred alias ayahnya hanya menatapnya tajam dan sinis sambil menghentikan langkah menuju kamarnya.

"Tumben Papa nyapa Richel, bukannya biasanya Papa gak ada dirumah ya? Kenapa bisa ada disini. Oh ya, Mama juga kenapa ada disini? Tumben tuh." Richel berkata dengan sinis dan pedas.

"Iya sayang, Mama sama Papa kesini kangen aja sama kamu. Habisnya tiap Mama kesini kamu selalu nginep di rumah temen kamu." Ucap Risa hangat dan menepuk-nepuk sofa disebelahnya dengan maksud menyuruh Richel untuk duduk. Richel hanya ber oh ria sambil mencibir dan berlalu begitu saja ke kamarnya yang terletak di lantai 2.

Risa dan Fred hanya menggelengkan kepalanya sedih. Mereka tak menyangka anak kesayangan mereka begitu. Ia tak tahu kenapa anaknya berubah seperti itu.

Richel membuka pintu kamarnya untuk masuk, lalu menutup pintunya dengan membantingkannya keras sampai jendela kamarnya terasa bergoyang. Ia pun melempar tasnya di sembarang tempat lalu duduk di tepi ranjangnya. Menangis.

                                 ~~~

"Kayaknya lebih baik aku mati aja deh. Udah pacar ngeduain, ortu gak pada bener mereka jahat sama aku. Gak ada yang peduli sama aku.. Aku benci! Aku benci! Buat apa aku hidup kalo emang gak ada gunanya?!" Richel berteriak keras sambil menangis. Dirinya saat ini tengah berada di rooftop sekolahnya yaitu di lantai 7.

Ia berjalan lunglai ke arah ujung rooftop itu. Ia sampai dan ia pun merentangkan kedua tangannya bersiap. Berkali-kali ia melihat pemandangan dibawahnya. Menyeramkan dan ngeri. Kata itu hampir menciutkan nyali dan tujuannya saat ini. Tapi berkali-kali pula ia menguatkan dirinya untuk berani.

Sebelumnya, ia berteriak berkali-kali tentang deritanya yang amat menyedihkan ini. Richel sekejap menangis dan terduduk di ujung rooftop. Pedih. Begitu kaya yang keluar darinya. 'Gua cape, gua gak tahan, ini semua emang harus berhenti. Mungkin ini jalan yang baik dan mungkin pula bukan'. Begitu kata kata terakhirnya sebelum ia loncat.

Ia menghitung mundur untuk bersiap meloncat dari rooftop yang amat tinggi itu. "Tigaa...." ucapnya lirih. Ia mendengar pintu rooftop dibuka, ia tak menghiraukannya. Keputusannya sudah bulat. Ia tutup matanya.

"Duaa..." lirih tapi pasti karena ia telah memantapkan hatinya. Ia mendengar derap langkah dari kejauhan. Ia sufah bersiap.

"Dan.." ucapnya lirih dibarengi tangis sesenggukannya. Ia mendengar derap langkah yang semakin mendekat seakan langkah itu ada dibelakangnya. "Saa... tuu.."

Anda telah sampai ke penghujung bahagian yang diterbitkan.

⏰ Kemaskini terakhir: Apr 23, 2018 ⏰

Tambah cerita ini di Pustaka anda bagi pemberitahuan tentang bahagian baharu!

Kesempatan KeduaCerita yang buat anda obses. Terokai sekarang