1

40 1 0
                                        

Semua orang terkagum-kagum kalau Nirmala bilang, dia adalah seorang musisi. Apalagi kalau kata 'orkestra' disebut, plus embel-embel musik klasik.

Desas-desus bahwa sebuah orkestra adalah grup orang-orang elegan yang memainkan musik kelas tinggi terlalu melekat di hati pemirsa.

Nirmala biasanya cuma cengar-cengir menanggapi orang-orang yang terkesima. Ah, mereka tak tahu. Betapa amburadul kehidupan manusia-manusia orkestra.

Seperti siang itu ketika ia baru saja tiba untuk latihan di gedung mereka—menumpang di sebuah komplek universitas. Gedung itu tidak tampak kuno atau kumuh. Tapi gerah tanpa penyejuk ruangan.

Konduktor mereka datang dengan kaus oblong dan celana gombrang. Rambutnya begitu keriting bak semak-semak. Kadang ia bahkan menaruh pensil di sela-selanya.

"Hai La, masih bindeng juga?" tukas konduktornya melihat Nirmala tergopoh-gopoh terlambat.

Dan Nirmala memang memainkan instrumen gesek romantis berkedok biola. Tapi itu biola alto yang ia kuasai—bukan biola sopran. Berbeda dengan biola—alias violin, nama bekennya viola. Suaranya, yah, bisa dibilang bindeng, memang.

Viola adalah...sumber lelucon.

Nirmala tak pernah kesal. Begitu pun dengan kaum-kaum pemain viola di orkestra itu. Dalam penderitaan jadi sumber ledekan penuh rindu, mereka malah menjadi tim kuat yang bahagia.

Sekian saja tentang viola—masih banyak hal lain untuk dibahas.

Nirmala membuka kotak biolanya dan menyelaraskan nada. Dia langsung duduk di tempat dan menyapa kawan-kawannya. Terdiri dari beberapa usia dan latar belakang.

Misal pemain cello di sebelahnya. Satu pria usia tiga puluhan misterius yang kerjaannya hanya datang, main, tanpa kata-kata. Dia seakan tak mau bergaul dan tak mau tertawa. Bahkan ketika orang lain benar-benar terbahak-bahak oleh karena sesuatu, mukanya tetap lurus!

Berlawanan dengan sesama violis di deretan kedua—geng kuat mental Nirmala—yang hobinya makan. Di dekat kakinya selalu ada cemilan. Umurnya sekitar sembilan belas—kuliah di perguruan tinggi terkenal. Orangnya ceria dan menyenangkan. Nirmala yakin, kalau saja latihan orkestra diadakan setiap hari, dia akan menjadi gemuk oleh karena kebanyakan bergaul dengan kawan tukang ngemilnya ini. Masalahnya, anak itu baik—dia suka menawari orang sekitarnya cemilan. Tentu saja Nirmala suka makan-makan kecil di tengah istirahat! Apalagi diselingi tawa-tawa gembira.

Nirmala celingukan. Oh, ada orang tak dikenal dan sebuah kontrabas baru! Di belakang sana, tampak teman akrabnya bersebelahan dengan seorang pemuda beralis tajam senyum malu-malu.

"Hari ini kita kedatangan teman baru," kata sang konduktor. "Kenalkan: Rafael. Panggil aja Raf. Mungkin kalian udah tau."

Glek! Nirmala mengenali dia. Rafael Yan, seorang pemain oboe muda terkenal yang suka berkeliling dari konser ke konser...konsernya sendiri atau berduet / bertrio / berkuartet. Yang jelas dia selebritis di kalangan musik kota ini. Tapi, dua tahun belakangan, ia pergi ke Singapura dan makin beken saja di sana. Malah katanya tur ke Eropa segala. Kemudian, tanpa alasan yang jelas, dia memang dikabarkan balik Indonesia dan entah kenapa tidak main oboe lagi. Beberapa bulan, kabar tentang Rafael Yan raib.

Tanpa bisa dikontrol, Nirmala bengong menatap Rafael Yan yang lumayan tampan. Dan sayangnya, Rafael sadar juga dia sedang dipandangi dengan terpesona (?), hingga melemparkan senyumnya.

Nirmala membuang muka.

"Oke, sekian perkenalan," kata konduktor. "Kita main apa ya?"

"Prokofiev, Kak Jun. Minggu lalu kan masih ancur," tukas pemain seruling.

"Oh, ye," kakak konduktor yang berikutnya akan kita panggil Jun bergumam.

Sebetulnya karya Prokokiev bukan hal yang menenangkan hati. Paduan nada dan ritmenya sulit ditebak—bahkan sedikit tidak harmonis kadang. Namun di situlah keunikannya. Terlepas dari karakter anehnya, Classical Symphony, musik yang mereka bawakan, termasuk karya beliau yang manusiawi untuk telinga. Hanya, banyak gerakan-gerakan cepat yang perlu menggali detail agar tereksekusi dengan sempurna. Dan terkadang, lelah sekali memainkannya tanpa jeda. Apalagi, ada empat gerakan yang mesti dibawakan.

"Coba dari awal aja sampe ancur," kilah Jun setelah memastikan delapan anggota yang sudah hadir menyiapkan partitur mereka masing-masing—termasuk Nirmala.

Nirmala menengok ke belakang, ingin tahu Rafael Yan benar-benar bisa main kontrabas atau cuma menebeng nama. Dari ekspresinya, nampak meyakinkan. Nirmala menyunggingkan senyumnya pada sahabatnya, si basis—Tere namanya.

"La, nengok depan, La," balas Tere jahil.

Tet tereret tet tuiiit~

Musik megah penuh kejutan berkumandang di ruangan yang akustiknya boleh juga itu. Wajah-wajah yang barusan lucu, sekarang tampak serius. Mata berkelana searah alur not balok, instrumen masing-masing dipegang dengan mantap. Tongkat kecil alias baton Jun mengayun-ayun sesuai ketukan.

Dan...pffffhhh. Seruling tampak tergopoh-gopoh dan akhirnya orkestra berhenti secara bertahap.

"Sulingnya matiii," Jun terbahak-bahak.

Si pemain seruling cuma cengar-cengir malu. "Sori, kak. Hilang."

"Ya, kalau gitu kita coba ulang dari bar  tujuh belas. Satu, dua,..."

Tahu-tahu matahari sudah lebih jingga di luar sana.

Musik sudah berhenti, berganti celotehan manusia. Nirmala berniat menghampiri Tere, tapi ada Rafael Yan di situ, dan mereka mengobrol fokus. Akhirnya Nirmala pun bergaul dulu dengan viola sebelahnya dan pemain seruling.

Anak-anak lain bicara dengan Kak Jun.

Flulist orkestra adalah cowok yang pembawaannya cool padahal kalau bercanda ngawur. Dia seorang atlet renang yang suka merasa minder sehingga mencari pencerahan lain di dunia musik. Mereka memanggil dia Rumi. Gayanya mirip seniman indie—pakai kaus-kaus statement, celana pendek selutut, slip-on kain merek Jepang, dan suka menjinjing tas kanvas grafis. Rambutnya bagai mangkok ditangkupkan ke kepala—ala Ringo Starr—dan suka diwarna mencolok misalnya turqoise.

Dan harap dicatat, dia kadang suka memakai kacamata lingkaran ala John Lennon—atau Harry Potter. Pokoknya dia nyentrik.

"Mi, pulang ke mana?"

"Biasa, planet gue."

"Halah," kilah Ayu—partner viola Nirmala. Hari ini, dia membawa sekotak kue mochi dari Sukabumi. Sembari menawarkannya pada semua orang, dia mengomentari Rumi. "Nggak latihan renang? Katanya minggu depan tanding."

"Besok pagi latihannya. Udah kesorean sekarang mah."

"Jam empat tuh kesorean? Biasanya perasaan lo sore kok latihannya."

"Cuaca hari ini soalnya nggak terlalu mendukung. Kesorean dikit, ujan."

Tere tiba-tiba bergabung dengan mereka—dibuntuti Rafael Yan.

"Rafael mau kenalan satu-satu katanya."

Ketiga anak tadi mendongak memandang Rafael yang tinggi, tegap, ganteng itu. Dalam hitungan yang kompak, mereka menyebutkan nama masing-masing. Rumi, Nirmala, Ayu.

Rafael merapal nama-nama tadi satu persatu.

"Nice to meet you, guys."

"Iya, sama-samaa!" teriak Rumi, Nirmala, dan Ayu bersamaan. Tere terbahak. Biasanya Tere jadi anggota konyol mereka memang.

BebunyianStories to obsess over. Discover now