Prolog

65 14 3
                                        

Hujan deras tengah mengguyur kota indahku ini, kurasa awan memang mengerti rasaku yang sedang mendung diselimuti duka.
Diiringi gelegak petir, awan hitam itu tengah sebaik mungkin berusaha menutupi bahak sang mentari.
Sekarang aku menatap dari jendela apartemenku. Kuingat, telah kututup rapat seluruh jendela dan ventilasi. Namun, mengapa pipiku tetap basah?
Di antara pohon yang berdansa ditiup angin, bersama derunya air yang jatuh, dilindungi amarah petir, sosok itu tengah terdiam di sana.
Ia menunduk, bagai duka yang berat tengah menarik wajahnya kebawah, blazer hitamnya kuyup sudah, rambut klinis nya tak berbentuk lagi.
Ia menatapku yang tengah dibanjiri rasa sesal dengan pandangan paling sedih yang pernah kulihat.
Hujan enggan reda, masih banyak air yang rindu bumi rupanya. Kutatap lagi sosok itu sedikit demi melihat bagaimana keadaannya, yang kudapati ia sudah tidak menunduk, ia menatap langit. Kutatap wajahnya yang basah dari jauh. Aku tidak tahu, wajahnya basah oleh air hujan, atau air mata.
Kurasa ia telah penat diam di sana, ia mulai mengeluarkan sayapnya yang selalu ia tutupi, petir menyambar semakin kencang kala itu, kurasa amarah Ayahnya memang tak terbendung lagi.
Ia mengepakan sayap besarnya, seraya seluruh wajahnya mulai berubah, berubahlah ia ke wujud aslinya. Blazer hitam favoritnya pun koyak tak sanggup menahan panas badannya, sampai ia benar-benar telanjang, sampai ekornya mulai terlihat. Tak lama, ia mulai melayang, kepakan sayapnya membuat daun disekitar beterbangan. Sebelum menuju langit Ayahnya, ia menatapku dengan pandangan putus asa. Air mataku semakin deras mengalir, aku tak sanggup mengucap sepatah katapun, kecuali: "Selamat jalan, Lucifer. Temui aku dinerakamu."

Stay tuned on
"Hell-O, Lucifer."

Hell-O, Lucifer.Stories to obsess over. Discover now