1

26 4 5
                                        

Im a bad boy. Dan aku bangga akan hal itu. Menjadi nakal tidak membuatku bahagia, sama sekali. Tapi, menjadi nakal membuatku menjadi seseorang yang tak bisa disentuh.

Aku tak punya geng. Aku hanya sendiri. Dan namaku Landen, lengkapnya lihat saja di kartu pelajarku. Tapi, aku takkan memberikannya pada kalian.

"Bisa tidak berangkat jam 7 seperti anak pada umumnya!" Bentak Pak Kumis padaku. Memangnya salah kalau aku berangkat jam 9?

"Tidak." Balasku singkat.

"Ke ruang BK sekarang!" Perintahnya dan aku hanya berjalan santai ke perpustakaan.

Kantin bukanlah tempat yang tepat untuk menghindari wanita dan juga bukan tempat yang tepat untuk tidur.

"Dimarahi siapa lagi kau sekarang?" Tanya penjaga perpustakaan. Aku tak punya niatan sedikitpun untuk menjawabnya.

Aku membuka pintu ruang baca yang isinya sofa besar nan empuk. Satu-satunya hal di sekolah ini yang kusuka.

"Hei." Bentakku ketika seorang gadis cupu duduk di situ dengan kacamata frame kayu bertengger di matanya.

"Apa?" Balasnya.

"Pergi!" Perintahku yang hanya dibalas deheman olehnya. Aku kemudian mendekatinya dan mendorong paksa tubuh mungilnya hingga jatuh.

"Aw!" Teriaknya ketika kepalanya terkena meja.

Aku langsung duduk di sofa besar itu dan menc tidur, "Kau apa-apaan sih!" Bentaknya. Mengganggu saja ini bocah.

"Mau kubuat kau diam dengan membenturkan kepalamu lagi?" Tanyaku yang langsung membuatnya diam dan pergi. Sekarang aku tidak punya masalah.

***

Byur!

"Argh!" Bentakku ketika ada sebotol air yang ditumpahkan ke bajuku. Yang melakukannya bukanlah cewe cupu tadi, tapi cewek resek lainnya.

"Beraninya kamu bolos pelajaran dan malah tidur di perpus?!" Bentak Bu Gemuk.

Sungguh aku tak hapal siapa nama-nama guru itu. MOS saja aku tidak berangkat, bagaimana aku bisa tahu.

"Terus? Kenapa?" Balasku.

"Pake tanya lagi. Ayo ikut Ibu ke ruang BK." Perintahnya sambil tangannya mengarah ke kupingku, mungkin ia berniat menjewer kupingku.

Namun sebelum itu terjadi aku sudah mendorong tubuhnya keluar dan mengunci ruang baca. Masalah beres.

"Landen! Keluar kamu." Bentaknya sambil menggedor-gedor pintu dari luar. Bodo amat.

"Awas saja kamu." Ucapnya. Aku kemudian melepas bajuku dan melemparnya ke bagian sofa lain.

Yeah im shirtless. Toh tak ada yang melihat.

***

Engsel pintu dibuka, menampakan Bu Gendut dengan beberapa guru lainnya dan penjaga sekolah.

"Ini anak harus diberi pelajaran." Ucap Bu Gendut. Dan aku hanya bisa mengambil bajuku dan menyelinap di celah pintu.

"Kenapa kalian diam saja? Kejar." Teriak Bu Gendut. Dan aku berlari kecil, hitung-hitung olahraga.

"Landen!" Teriak Cherry dengan bajunya yang kekecilan menampakkan sesuatu yang seharusnya tak boleh kulihat.

Dia menghampiriku, "Makan siang bareng yuk." Ajaknya. Aku hanya mengangguk.

Aku menaruh uang 100 ribu di tangannya, "Tapi kau makan di luar angkasa." Ucapku datar sambil melanjutkan langkahku ke dalam kelas.

"Landen! Landen" Teriaknya. Bodo amat!

Guru-guru sialan itu takkan bisa mengejarku meskipun mereka mencoba dengan keras.

Dan aku yakin mereka takkan mengecek ruang kelas. Mereka kan guru bodoh. Ehh, hampir semua guru kan bodoh.

Trying to be badStories to obsess over. Discover now