Elke's POV
Temaram. Hanya lampu duduk yang aku nyalakan, demi meredam suasana panas yang terjadi saat ini.
Aku mendekap tubuh Adikku yang masih berusia 4 tahun. Suara ribut barang yang dibanting terdengar dari balik pintu kamar kayu berwarna cokelat itu.
Aku menaikkan selimut yang menutupi tubuh Adikku, mengecup keningnya pelan. Dia sudah terlelap, walaupun suara berisik itu pasti membuat tidurnya tidak nyenyak. Hatiku bergemuruh melihat raut wajah Adikku yang beberapa jam yang lalu merintih ketakutan mendengar suara ribut dari luar kamar, suara ribut yang berasal dari pertengkaran Ayah dan Ibu.
Aku turun dari ranjang kamar. Melihat apakah Ayah dan Ibu Sudah selesai bertengkar? Aku belum berani keluar dari suasana kamar yang panas ini. Aku putuskan untuk memantau keadaan luar kamar melalui lubang kunci pintu.
Prang
"Dasar, pria bajingan!!"
Perang itu belum usai. Umpatan demi umpatan masih dilontarkan dari mulut mereka. Air mataku luruh kembali, setelah berpuluh-puluh jam yang lalu berusaha tegar dari penglihatan Adikku. Aku mendekap mulutku dengan kedua tangan, menahan isakan.
Aku terduduk dari balik pintu.
"Aku nggak ngerti pemikiran orang dewasa," aku menyeka air mata, "kini siapa yang labil, he? Mereka bilang seusiaku labil? Apa mereka tidak pernah berada didepan cermin? Untuk apa mereka menikah, jika akhirnya pernikahan mereka seperti ini? Apa mereka tidak tau, aku dan Adik bingung dan sedih melihat tingkah Ibu dan Ayah... "
Aku menutupi kedua telingaku, dan menenggelamkan wajahku diantara kedua kaki.
--Sudah mulai larut malam. Perang itu mungkin sudah selesai. Mungkin mereka sudah lelah.
Aku beranjak keluar kamar menuju dapur, mencari barang yang sedari tadi ada di fikiranku. Setelah dapat, aku menyusul Ayah dan Ibu yang ternyata ingin memulai bertengkar lagi.
"Aina ... kamu selalu saja ber- "
"Ayah.., " aku memutuskan perkataan Ayah, berjalan pelan mendekati mereka.
Aku menyodorkan pisau dapur dengan kedua tangan, "Elke tidak sanggup mendengar, melihat, merasakan Ayah dan Ibu bertengkar setiap malam. Kalian membuat Elke berada diantara hidup dan Mati Ayah ... rasanya sesak," Aku memaksakan senyuman, "lebih baik Ayah bunuh Elke saja, ini pisaunya, sudah Elke siapkan." ucapku, lalu menunduk, menetralisir hantaman yang terasa didadaku.
"Dani juga mau ikut dibunuh saja Ayah .... seperti Kak Elke," ucap Adikku tiba-tiba yang baru bangun dari tidur singkatnya.
Ayah termenung sesaat, menatap kebawah, kemudian berganti menatap Ibu.
"AYAH JANGAN!!"
Srapp
"IBUUU! "
Darah yang keluar dari perut Ibu terciprat mengenai wajahku dan wajah Dani.
Ibu langsung terkapar di lantai, dengan organ tubuh milik Ibu yang hampir keluar dari perut.
Ayah membunuh istrinya sendiri, Ayah membunuh Ibu.
Aku memeluk Dani, menutup matanya agar dia tidak melihat kondisi Ibu yang sudah tak bernyawa.
--Tatapan Ayah berubah ke arahku.
"Ayah jangan lagi!" Ucapku. Aku semakin menangis tak karuan, aku mendorong Dani menjauh kemudian berjalan mundur tetapi..
Srapp!
Pisau itu menusuk perutku, membuat Darah keluar dari mulutku, aku terkapar dilantai, menahan sakit.
"Kak Elkee!" Teriak Dani.
"Dan ... i pergi..! Dia bukan Ayah, dia mon ... ster, eugh.., " ucapku ke Dani sebisaku, "cepat! Sekarang!"
Dani mengusap air matanya dengan tangan kecilnya, kemudian dia berlari menghindar. Ayah berusaha mengejarnya tapi kaki Ayah aku tahan.
"Kamu bukan anakku Elke, kini sudah kukabulkan permintaanmu bukan? lalu kenapa kau suruh Adikmu itu lari dariku? "
"Eughh .. Jangan sakk ... kiti Danhii!"
Ayah kembali menikam perutku.
"Aargghh AAYAAH!"
Aku berdoa dalam hati agar Dani bisa selamat, dan ada yang memberikan hukuman kepada orang picik didepanku ini.
Pandanganku mulai remang dan saat itu pula, aku tidak bisa melihat apapun.
Tbc-
