Bukan perkara yang mudah untuk mengingat semua luka lama. Setelah semua baik-baik saja. Setelah mimpi-mimpi dan harapan terwujud kau harus dihadapkan pada masa kau harus mengingat luka itu. Menyelami danau kehancurahmu. Membiarkan tubuhmu dibasahi air mata masa lalu. Membiarkan tubuhmu terombang-ambing oleh kenangan itu. Kenangan yang membunuh sebagian jiwamu.
Setelah semua hal yang terjadi, aku akhirnya bisa tersenyum mengingat luka itu. Air mata seakan mengering saat ini. Hanya sakit yang meronta-moronta membunuh sebagian jiwa.
Bukan perkara mudah memang. Aku harus melewati bertaun-taun pesakitan yang membuat gila. Terlalu banyak air mata. Terlalu banyak darah. Terlalu dalam rasa sakit. Rasa takut masih sedikit samar-samar aku rasakan. Rasa takut kehilangan yang terus menerus. Rasa takut ketika akhirnya kau ditakdirkan hanya untuk sendiri. Ditinggalkan.
Tapi kini aku punya 3 alasan untuk bertahan. Alasan untuk bahagia. Untuk tidak terus menyalahkan diri akan apa yang terjadi dimasa lalu. Untuk menjadi kuat demi ketiga alasan tersebut. Aku punya alasan untuk semua itu.
Alasan pertama untuk suamiku, putri cantik ku, dan putra tampan ku yang sedang berdebat untuk menentukan tempat liburan akhir tahun nanti. Karna ketiganya yang mengembalikan sebagian jiwaku yang menghilang.
Melihat mereka bertiga, membuat aku rela memberikan seluruh jiwa ragaku untuk mereka. Mereka adalah doa doa terkabul yang diberikan mereka padaku.
~Aku Ren~
Aku hanya mematung. Menyaksikan dengan air mata mengalir ketika Bunda berteriak histeris menyuruhku pergi sejauh jauhnya. Berlari meninggalkan rumah yang seketika menjadi mencekam. Bau amis menggelitik indra penciumanku.
Suara Bunda hilang ketika orang itu menggoreskan belati yang membuat darah bercucuran dari lehernya. Luka menganga membuat ngeri.
Tubuh Bunda ambruk di sebelah tubuh Ayah yang tidak jauh berbeda. Darah seakan memenuhi lantai kamar kedua orang tuaku. Orang itu hanya diam. Tidak bergerak mendekati ataupun menjauh dari tempatnya berdiri. Dan tubuhku seakan kaku melihat tubuh kedua orang tuaku yang tidak berjiwa.
Aku mendonggak. Melihat kearah orang itu yang memakai topeng. Dengan jubah hitam menyentuh lantai. Bak malaikat maut. Tangan yang terbalut oleh sarung tangan warna hitam menggenggam sebuah belati yang bercucuran darah. Tetes demi tetes. Darah orang tuaku. Ayah dan Bunda.
Seakan tersadar aku berlari sekuat tenaga. Pikiranku terlalu kacau. Pandanganku buram oleh air mata. Aku berlari kearah yang salah. Aku berlari kearah ruang keluarga. Tidak lantas berlari kearah pintu keluar. Dan di sana aku melihat tubuh abangku terkujur kaku. Dengan beberapa tusukan di dada. Mata teduh yang selalu memandangku sekarang tertutup dengan selamanya. Aku jatuh terduduk. Tidak kuat melihat semua yang terjadi dalam beberapa menit terakhir.
Aku menangis. Meraung-raung. Sakit ini terus meronta-ronta menyakiti dada. Mendengar suara gesekan antara mata pisau yang menggores tembok, aku terlonjak kaget. Menoleh kearah orang itu yang hanya berdiri dengan kaku. Aku bangkit dan melakukan kesalahan kedua kalinya ketika aku menaiki tangga menuju kamarku. Orang itu hanya berjalan dengan santai. Mengikutiku yang menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa. Masuk kedalam kamarku dan mengunci pintu. Berharap dia tidak akan pernah bisa menemukanku.
Suara sekitar seakan lenyap. Seakan semua suara hanya berfokus pada langkah kaki orang itu. Aku meringkuk di balik tempat tidur. Meredam tangis yang menyesakan. Menggigit bibirku yang membuat luka tergores di sana.
Aku langsung berdiri. Membuka pintu hendak berlari keluar ketika mendengar suara pintu lain dibuka dan suara benda yang dilempar membuat aku berfikir dia di dalam kamar abangku. Jantungku seakan berhenti berdetak ketika di anak tangga pertama sebuah tangan memaksaku berbalik. Keseimbanganku goyah hingga sebelum aku terjatuh menghantam puluhan anak tangga sebuah belati menancap di perutku. Duniaku hancur. Kepalaku seakan akan mati rasa. Dan penglihatanku menjadi merah. Kuning. Lalu hilam.
Tubuhku mati rasa. Mataku seakan akan meronta ingin keluar. Perih diseluruh tubuhku membuat aku tidak ada tenaga hanya untuk sekedar menggerakan tangan.
Aku masih bisa mendengar. Setiap langkah kaki yang mendekat kearahku membuat jantungku seakan akan berdetak dengan ektra. Rasa takut yang menguasai seluruh jiwaku membuat aku berdoa agar aku mati saja. Agar orang itu tidak terus menyakitiku lebih lama.
Aku tidak bisa membuka mata. Perih yang teramat membuat aku tidak sanggup menahan sakitnya. Tapi aku tau, orang itu sedang memerhatikanku. Hembusan nafasnya membuat aku bergidig nyeri. Sentuhan tangannya yg dingin.
Tapi dia tidak melakukan lebih. Dia hanya mengelus pipiku. Lama. Hingga tangan itu lepas lalu langkah kaki yang menjauh.
Aku menangis. Namun air mata tidak keluar membasahi pipi. Rasa sakit ini perlahan lahan mengambil seluruh tenangaku. Bayangan tentang Bunda, Ayah, bang Ian dan Nanda berputar dipikiranku. Hari-hari yang penuh dengan tawa. Bunda yang melotot marah dengan tangan bertolak pinggang, tapi tidak hilang tatapan gelinya memandang aku, Nanda dan bang Ian yang selalu membuat keributan. Ayah dengan semua cerita-cerita indahnya memandang anak anaknya dengan bangga. Bang Ian yang selalu memelukku dalam hangat dengan jailnya menggodaku. Nanda dengan tatapan cueknya dan ucapan dinginnya tapi tidak hilang kesan melindungiku.
Semuanya berputar putar. Membuat erangan tertahanku tak bisa membendung lagi. Sebelum semuanya lenyap aku mendengar suara Nanda memanggil namaku dengan histeris. Mengangkat tubuhku di atas pangkuannya. Menyentuh perutku yang tertusuk luka tanpa menyakitinya. Saat itu aku tidak menemukan nada dingin dari ucapan Nanda. Dan disisi lain aku bersyukur tidak membuka mata untuk melihat wajah putus asa Nanda.
Aku Rendifa Yuha Adhyasta, berumur 13 tahun anak bungsu dari tiga bersaudara. Yang memiliki keluarga paling sempurna. Apakah harus berakhir dengan seperti ini?
YOU ARE READING
aku Ren
Teen FictionSepi adalah teman terbaik. • • • Belum bisa konsisten dalam update. Tapi boleh minta kritik dan sarannya? Untuk perkembangan cerita ini. ~~~~~Selamat Membaca, semoga menghibur~~~~ Salam, daa..
