#0

24 3 0
                                        


"Shin Chaerin!"

Sebuah suara mengejutkanku. Aku pun menghentikan kegiatan membacaku dan menoleh untuk melihat siapa yang datang. Senyumku mengembang seketika.

Seorang pria berjalan mendekatiku dan menghempaskan pantatnya di sampingku. Ya, dia Kim Taehyung. Sahabatku.

"Sedang apa?" tanyanya melirik buku yang ku pegang.

"Biasa, membaca"

"Kenapa kau tahan sekali dengan buku setebal itu huh? Melihat wujudnya saja sudah malas" Taehyung memalingkan wajahnya.

Aku terkekeh, "Hei tuan jenius, aku bukan dirimu yang akan mengerti materi dengan sekali dengar. Jadi, mau tak mau aku harus membaca. Toh, aku juga suka membaca seperti ini untuk mengisi waktu luang"

Taehyung mengerucutkan bibirnya. Dia terlihat sangat imut. Sangat menggemaskan. Tanganku selalu gatal ingin mencubit pipinya itu. Tapi, aku menahannya. Walaupun dia sahabatku, aku merasa tak sedekat itu untuk berani melakukannya. Hanya saja terasa canggung untukku.

"Ah, bagaimana dengan kelas Park saem tadi? Kau belum mengerjakan tugasnya kan?" tanyaku memecah keheningan diantara kami berdua.

Taehyung menyunggingkan bibirnya, "Tak ada masalah. Aku sudah mengerjakannya tadi malam. Hebat bukan?"

Mohon maklumi makhluk tampan satu ini. Terkadang dia memiliki kadar kepedean yang diluar batas. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setiap mendengar ocehan pedenya itu.

"Kau tak mengakuiku?" Taehyung melunturkan senyumannya itu.

Aku hanya diam, tak menimpali omongannya.

"Bagaimana ya? Padahal aku ingin mentraktimu es krim"

"Jinjja? Oh, Kim Taehyung-ssi. Kau yang terbaik diantara yang terbaik. Orang paling cerdas dan baik hati yang pernah ku temui selama ini" ocehku sambil memandangnya dengan mata berbinar-binar.

Dia menusuk titik lemahku. Es krim. Aku sangat tergila-gila dengan es krim. Tak mungkin kan, aku menyia-nyiakan niatnya itu?

"Hahaha, benar apa kata Yoongi hyung. Senjata paling ampuh adalah es krim. Kalau begitu, ayo cepat sebelum aku berubah pikiran" ujar Taehyung yang langsung bangkit dari duduknya.

"Hei! Tunggu aku!"

Aku berlari mengejar Taehyung yang meninggalkanku begitu saja. Jika dia adikku, dia sudah aku iris-iris jadi sashimi. Namun, kenyataannya tidak. Jadi aku tak bisa mencincangnya sesuka hatiku. Selain alasan konyol itu, ada satu alasan lain.




Aku menyukainya.

WEWhere stories live. Discover now